Ron Kampong China

  • Bagikan
Rombonga Jelajah Pusaka di kampung Tenga. Foto: Adlun Fiqri

Suasana di sepanjang Jalan Hasan Bosoire masih lengang pada Selasa pagi (5/2). Namun, tak kurang dari 30 orang telah berkumpul di halaman Masjid Al-Muttaqin, yang berlokasi di sisi kanan jalan. Mereka adalah rombongan jelajah pusaka yang diadakan komunitas pelestari pusaka, Ternate Heritage Society (THS).

Jelajah pusaka merupakan kegiatan rutin THS mengunjungi objek-objek peninggalan atau warisan sejarah yang tersebar di Kota Ternate. Pada jelajah ini, rombongan yang sebagian besar terdiri dari anak muda itu akan dipandu mengelilingi kampung China dengan berjalan kaki.

“Jelajah ini spesial menyambut perayaan Imlek, maka kita angkat tema Ron Kampong China,” kata Didith, ketua THS. Ron Kampong artinya keliling kampung, dalam bahasa sehari-hari orang Maluku Utara.

Dari Al-Muttaqin, rombongan diajak menyusuri lorong menuju ke Kampung Tenga. Di sepanjang jalan terdapat banyak bangunan tua yang masih digunakan sebagai rumah maupun toko.

Menurut Maulana Ibrahim, peneliti urban heritage sekaligus pemandu jelajah, lorong-lorong ini telah ada sejak tahun 1800-an dan dirancang oleh VOC sebagai batas pemukiman beberapa komunitas. Sejak VOC datang dan memonopoli perdagangan rempah di Ternate, para pedagang-pedagang dari Arab, China, Melayu, Makassar, dan Jawa dibuatkan pemukiman di sekitar Benteng Oranje agar mudah dikontrol.

“Kampung Tenga adalah pemukiman komunitas Arab. Disebut kampung Tenga karena berada di tengah dan dikelilingi oleh kampung China, Palembang, dan Sarani,” ujar Maulana.

Peninggalan Letnan Arab

Rombongan lalu singgah di salah satu rumah berwarna putih berbentuk panggung. Rumah ini terlihat unik, sebab gaya arsitekturnya perpaduan antara Melayu, China, Eropa, dan unsur kebudayaan lokal. Rumah tersebut dahulunya dihuni oleh Letnan Arab.

“Panggung di bagian serambi depan menunjukkan ciri Melayu, lantai dan kolom adalah ciri kolonial, ornamen ventilasi dari unsur China, sementara nilai

 filosofis lokal terdapat pada denah dan organisasi ruang,” tutur Maulana yang juga dosen Arsitektur di Universitas Khairun, Ternate.

Rumah itu masih dijaga dengan baik sebab ahli waris mempertahankan kelestariannya. “(rumah) ini sudah layak untuk ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Pemerintah Kota Ternate,” lanjut Maulana.

“Kapita Arab dan Kapita China di Ternate” yang ditulis Busranto Latif Doa menyebutkan, Letnan Arab atau Kapita Arab adalah gelar yang diberikan oleh Kesultanan Ternate kepada perwakilan komunitas Arab. Para pemimpin komunitas China dan Arab mendapat kehormatan dan masuk dalam struktur Kesultanan Ternate sebagai perwakilan dan penyambung antar-komunitas dengan Kadato (Istana Kesultanan).

Kampung Palembang

Setelah dari rumah Letnan Arab, rombongan berjalan kaki sejauh 165 meter menuju bekas perkampungan Palembang di Jalan Nukila. Sejarah berdirinya kampung ini tidak lepas dari pengasingan Sultan Mahmud Badaruddin II bersama keluarga dan pasukannya ke Ternate oleh Pemerintah Belanda.

Beberapa sumber menyebutkan, Sultan Mahmud Badarudin II tiba di Ternate pada 1822 dan ditawan Belanda di dalam Benteng Oranje. Namun akhirnya, karena kompromi dengan Kesultanan Ternate, ia bersama pengikut dan keluarga diperkenankan tinggal dan berbaur dengan komunitas lainnya.

“Dulu orang mengenal kawasan ini dengan sebutan Istana Palembang,” tutur Maulana.

Sayangnya, rumah atau Istana Palembang yang dimaksud kini telah tiada dan berganti rupa menjadi bangunan perkantoran modern salah satu bank. 

Tak jauh dari Kampung Palembang, terdapat Kampung Sarani atau pemukiman komunitas Nasrani. Peninggalannya dapat kita lihat dengan adanya 4 buah gereja yang dibangun di sana.

Bioskop Pertama di Ternate

Bangunan seluas 33 x 17 meter itu masih berdiri kokoh menghadap Jalan Hasan Boesoeri. Di atapnya ada tulisan “Benteng”. Bangunan ini merupakan bioskop pertama di Ternate dan dimiliki oleh seorang pedagang China. Sebelum menjadi bioskop, lokasi tersebut pernah dibangun sebuah gereja pada masa VOC.

Pada tahun 50-an, bioskop ini disebut Bioskop Columbia karena memutar film-film Hollywood perdana di Maluku. Namun, bioskop tersebut t

elah tutup sejak lama. Bangunannya pernah berfungsi sebagai tempat penampungan bagi pengungsi korban konflik tahun 1999 yang melanda Maluku.

 Saat ini, bangunan tersebut kosong dan dalam proses renovasi oleh pemiliknya yang sekarang. 

Setelah puas mengobservasi Bioskop Benteng, rombongan melanjutkan perjalanan ke titik akhir di Kelenteng Thian Ho Kiang. Klenteng tersebut terletak di lorong Naga, atau di belakang Gloria Minimarket.

Suasana Imlek sangat terasa ketika memasuki halaman klenteng. Puluhan lampion digantung. Beberapa orang tua membakar dupa. Beberapa bangunan khas pecinan juga masih dijumpai di sekitar Kelenteng, namun sebagian besar telah berubah menjadi bangunan modern.

Boy Ang, pengurus Kelenteng, di hadapan rombongan mengucapkan terima kasih atas kunjungan ini. Ko Boy, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa tahun ini tidak ada perayaan yang meriah menyambut Imlek.

“Berhubung banyak bencana yang melanda Indonesia, kami tidak melakukan perayaan yang berlebihan, hanya jiarah dan ibadah saja,” ujarnya singkat.

Pembangunan Klenteng Thian Ho Kiang sejak permulaan abad ke-17. “Klenteng ini dibangun untuk menghormati dewi laut karena para pedagang Tionghoa waktu itu datang ke Ternate menggunakan jalur laut,” tutur Maulana menutup sesi jelajah hari itu.

Nur Fizriah (19), salah satu peserta jelajah, mengatakan bahwa ia baru mengetahui adanya sejumlah peninggalan sejarah di tengah kawasan kota. “Selama ini saya hanya lewat-lewat dan tidak tau, setelah ikut jelajah ini baru tau,” katanya.

Beberapa tempat yang telah dijelajahi di atas adalah bagian dari kekayaan sejarah kota ini. Sayangnya, sebagian besar telah berubah bentuk, bahkan hilang karena pembangunan kota yang masif dan minim kajian. Sudah sepatutnya pusaka tersebut dirawat dan dilestarikan nilainya.

  • Bagikan