Nikmatnya Kopi Nyiru di Taman Moya

  • Bagikan
Pengunjung menikmati pemandangan Kota Ternate dari Taman Moya. Foto: Faris Bobero/cermat

Panas Matahari sedikit menyengat kulit. Saat itu pukul 11.30 WIT, tepatnya pada Rabu (3/4). Dengan kendaraan bermotor, saya menuju Taman Moya Mabuku, atau Moya Puncak, Ternate Tengah, Maluku Utara.

Jalan lengang ketika sepeda motor saya mulai naik ke Moya Mabuku, yang berada di 252 meter di atas permukaan laut. Hanya membutuhkan waktu 10 menit dari pusat kota Ternate untuk sampai ke sana.

Di tengah tanjakan, angin semilir. Nampak rimbunan pohon cengkih (Syzygium aromaticum) dan pala (Myristica fragrans). Aroma kayu manis (Cinnomomum verum) masuk ke hidung, beberapa detik perjalanan, saya melihat warga menjemur kayu manis di depan rumah. Di tepi jalan di Moya.

Tak ada penjaga karcis masuk saat tiba di Taman Moya Mabuku. Saat itu, pengunjung baru saya sendiri. Sunyi.

Bangku nampak berjejer dekat tebing, menghadap ke laut. Panorama kepadatan bangunan di Kota Ternate berlatar langit biru dan Pulau Tidore terlihat dari Taman Moya ini. Tak heran jika banyak pelancong sering ke sini; mengabadikan panorama lewat telepon genggam.

“Kopi nyiru satu. Boleh, ajus?” tanya saya ke Ramlia Rupa (45 tahun). Kata Ajus adalah istilah orang muda untuk memanggil seorang ibu yang akrab dengan orang muda.

Ngana (kamu) pengunjung pertama hari ini. Oke, ajus bikin. Tunggu, saya cari pondak (pandan),” kata Ramlia. Sambil memanaskan air, Ramlia pun menuju samping rumahnya. Di bawah pohon durian, ada tanaman pandan, sereh, bahkan tebu di situ.

Sambil meracik kopi nyiru, Ramlia bercerita, bahan dasar kopi ini dari jahe, pandan, kayu manis, dan tentunya kopi. Pengetahun meracik kopi nyiru ia dapatkan dari mertuanya. “Mama mantu (mertua) yang ajarkan saya racik kopi,” ungkapnya.

Orang-orang Ternate memang punya tradisi bikin kopi nyiru. Saat ke kebun bahkan pergi mancing ikan di laut, mereka selalu menyediakan kopi ini. Menurut Ramlia, semakin dingin, kopi nyiru semakin nikmat.

 

“Makanya banyak yang pesan bawa pulang. Ada yang simpan di kulkas untuk menikmati dengan rasa dingin. Anak-anak saya juga suka minum setelah kopinya dingin,” kata Ibu lima anak itu.

Dahulu, campuran kopi diambil dari biji kopi yang ditanam warga Moya. “Dulu. Sebelum saya menikah, kopi tumbuh di sepanjang jalan situ. Berdekatan dengan pohon juga,” katanya.

Namun, kini sudah tidak lagi. Ramlia harus menggunakan kopi bubuk yang dibeli di pasar.

Ramlia bilang, cita rasa kopi nyiru akan lebih nikmat jika memakai biji kopi. “Kalau ada yang jual biji kopi dari sini (Maluku Utara), saya akan beli. Lalu sangrai agar aroma kopinya kuat,” katanya.

Rasno Ahmad, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Pendidikan Kieraha, mengatakan dulu, para tetua di Moya selalu membuat kopi nyiru. Tak hanya saat beraktivitas ke kebun, namun saat ritual tertentu pun disajikan kopi nyiru.

Nyiru adalah rebus dalam bahasa Ternate. Metode membuat kopi ini hampir sama dengan di Tidore. Namun memiliki bahasa yang berbeda, di Tidore dikenal dengan kopi dabe.

Salah satu barista di Ternate Rhiscy Fadil Adam (29), mengatakan dulu, Ternate memang memiliki varietas kopi robusta. Banyak warga Ternate yang menanam kopi jenis ini. Ia menjelaskan, kopi jenis arabica biasa tumbuh jika di atas 700 meter di atas permukaan laut. Sedangkan robusta di bawah 700 meter. Makanya bisa tumbuh di Terbate.

Citarasa robusta ini, menurut Rhiscy, bisa sama dengan robusta yang ada di Pulau Bacan, Halmahera Selatan. Konon, pada zaman VOC, Ratu Juliana dari Belanda lebih suka minum kopi asal Pulau Bacan.

Memang, dalam beberapa literatur sejarah, Bacan pada saat itu punya mata uang sendiri. Hal ini karena pulau tersebut menjadi salah satu pusat perdagangan hingga memikat bangsa Eropa seperti Portugis hingga Belanda datang karena penghasil rempah-rempah, kakao, lada hitam, karet, hingga kopi.

Adalah Batjan Algemene Maastchappij (BAM) maskapai perdagangan hasil kerja sama Kesultanan Bacan dengan Belanda. Beberapa contoh mata uang BAM masih tersimpan di Negeri Belanda. Selain robusta, di Bacan juga ada jenis arabica.

“Jadi, di sini, sebenarnya bisa dikembangkan tanaman kopi jenis robusta,” katanya. Rhiscy mengaku pernah coba tanam 5 pohon kopi jenis robusta. Tumbuh.

“Namun gara-gara saya biarkan, tidak rawat, karena saya ke Jakarta, tanaman kopi itu mati. Mungkin faktor iklim juga,” katanya.

Data Statistik Perkebunan Indonesia Komoditas Kopi 2015-2017 menyebutkan: Luas Areal dan Produksi Kopi Robusta di Perkebunan Rakyat Maluku Utara pada Tahun 2015, ada 1.922 hektare lahan perkebunan dan produksi kopi sebanyak 133 ton per tahun dengan jumlah petani 2.398.

Dalam data tersebut menjelaskan Kabupaten Kepulauan Sula memproduksi kopi robusta 59 ton per tahun, disusul Halmahera Brat 24 ton per tahun, Halmahera Utara 23 ton per tahun begitu juga Halmahera Selatan 23 ton per tahun. Sedangkan Halmahera Timur 4 ton per tahun.

“Memang data produksi kopi di Maluku Utara ada, namun hingga sekarang, saya belum menemukan pasarnya. Makanya saya masih pesan biji kopi asli dari luar,” ungkap pemilik Kedai Kopi Sampalo ini.

Pesanan hingga ke Luar Negeri

Ramlia tak menyangka racikan kopi nyiru dari tangannya mendapat penikmat dari luar negeri. Dua bulan kemarin, ia mengirim kopi nyiru ke Jakarta, lalu dikirim lagi ke Amerika.

Ramlia memang dikenal pribadi yang cepat akrab dengan pengunjung. Ia berkisah, yang mengenalkan cita rasa kopi nyiru ke turis adalah Ivan, salah satu pelanggan setianya.

“Hah, dia (Ivan) ini yang mengajak 7 orang turis mengunjungi Taman Moya. Ada orang Brazil, Amerika, dan lainnya. Mereka minum kopi ini,” kata Ramlia.

Sekira tahun 2017, Ivan yang balik ke Jakarta menelepon Ramlia. Memberitahukan bahwa tamu yang ia bawa kemarin ingin dikirimkan kopi nyiru.

“Saat itu, dalam sebulan saya kirim kopi lima jeriken ke Jakarta. Baru Ivan kirim ke Amerika,” katanya.

Tak hanya kopi, Ramlia juga mengirimkan dodol durian juga sambal roa berbahan ikan kering.

Gotong Royong Membangun Taman Moya

Wisata Taman Moya Mabuku hadir atas inisiasi masyarakat sekitar sejak 2016. Sekira ada 18 Pendopo milik delapan

 

orang, dibuat untuk pengunjung. Ramlia sendiri membangun pendopo di atas tanahnya sendiri. Sementara yang lain, menyewa lahan.

“Saya bangun ada sekitar tiga pendopo untuk bersantai, dan satu musala,” jelas Ramlia.

Ramlia juga mengkoordinir anak-anak muda untuk buat karcis masuk area wisata. Kendaraan roda dua dikenakan Rp 2.000 dan Mobil Rp 5.000.

Dari pendapatan parkir itu, anak-anak yang menjaga pintu masuk mengambil keuntungan 40 persen, dan sisanya 60 persen masuk uang kas.

“Uang kas itu digunakan untuk misalnya beli lampu hias, mengganti karpet yang rusak di pendopo. Itu berlaku untuk semua pengelola di sini,” ujarnya.

Ramlia berharap, Wali Kota Ternate juga bisa terlibat dalam membangun wisata Taman Moya. “Sebab, di sini, kalau rapat, semua hadir. Dari perangkat kelurahan, babinsa, RT, RW, dan pemuda pemudi. Jika Wali Kota ada juga lebih bagus,” tambahnya.

Para pengunjung tak hanya datang pada siang hari. Di malam hari, pengunjung bahkan berdatangan, sembari mengabadikan kerlap-kerlip Kota Ternate dari Puncak Moya itu.

Dalam semalam, jika banyak pengujung, Ramlia bisa meraup Rp 1 juta. Pada musim duren, Taman Moya akan dibanjiri pengujung setiap harinya, sebab, di lokasi tersebut banyak pohon duren milik warga sekitar.

  • Bagikan