Bakir, Orang Muda Penggerak Literasi di Tanah Were

  • Bagikan
Bakir Usman, pemuda penggerak literasi di Halmahera Tengah. Foto: Ipang Mahardhika/jalamalut

Selama mendirikan PKBM, Bakir Usman, usia 32 tahun, memberi pelatihan kepada masyarakat terutama orang muda tanpa mendapat upah. Ia melakukannya secara sukarela. Tekad menghidupkan gerakan literasi supaya warga dapat mengakses bahan bacaan dan mengaplikasikan komputer adalah tujuan utamanya.

Mobil yang kami tumpangi melaju kencang di lintasan jalan Pulau Halmahera. Dari Desa Loleo, bagian Selatan Weda, sekitar satu jam lebih, kami pun sampai di Kota Weda, Halmahera Tengah, Maluku Utara.

Sebelum memasuki pusat Kota Weda, sebuah monumen adat berdiri di sisi kanan jalan. Monumen patung itu bertuliskan “Suba Mew, Selamat Datang,” seperti menyambut setiap orang yang melancong ke sana.

Bakir Usman, lelaki berperawakan pendek itu menyambut baik kedatangan kami saat tiba di Rumah Literasi yang dia kelola, pada Jumat (7/10) siang itu.

Salah satu pengunjung saat melihat dokumentasi di PKBM. Foto: Ipang Mahardhika/jalamalut

Ragam bahan bacaan yang disusun rapi memenuhi setiap sudut rak buku rumah literasi yang dibinanya sejak 2013 ini. Puluhan buku bahkan diletakkan di meja tamu yang hendak berkunjung.

Rumah literasi ini dinamai Pusat Kajian Bersama Masyarakat (PKBM) Were Mandiri. Berlokasi di Desa Were, Kecamatan Weda, Halmahera Tengah.

Samua berawal dari torang (Kami) pe (punya) semangat habis kuliah. Jadi saya punya tekad untuk menghadirkan rumah literasi yang bisa membantu generasi muda,” ucap Bakir, ketika ditemui cermat.

Awal Menggerakkan Literasi

Bakir bercerita bahwa pengalamannya saat menimba ilmu di bangku kuliah, juga sebagai pegiat organisasi yang bergerak di bidang literasi membekali semangatnya mendirikan rumah literasi terbesar di Kota Weda itu.

Di tananhya sendiri, alumni Perhimpunan Lingkar Arus Studi (Pilas) ini memiliki motivasi melakukan pengabdian dengan caranya sendiri.

Pancasila yang juga menggunakan bahasa daerah terpampang di dinding PKBM. Foto: Faris Bobero/cermat

“Dari awal, pengurus perpustakaan ini memang banyak, itu anak muda di sini dari berbagai komunitas, tapi yang sering di perpustakaan itu cuma empat orang,” tuturnya.

Dia bilang, buku-buku bacaan yang tersedia merupakan hasil sumbangan, ada juga bantuan dari perpustakaan nasional dan perpustakaan daerah yang membantu pihaknya.

Gedung Komputer jadi Pusat Literasi Orang Muda

Bangunan yang saat ini jadi pusat literasi orang Were ini awalnya merupakan gedung komputer desa yang fokus membuka kursus bagi masyarakat.

Bakir bercerita, kehadiran gedung ini masuk dalam program PNPM Mandiri tahun 2012. Bersama rekan-rekannya, ia kemudian menginisiasi gedung itu menjadi Rumah Literasi.

“Dulunya adalah gedung komputer desa, fokusnya pada pelatihan kursus komputer dan penyediaan buku,” kata Bakir.

Untuk menarik simpati masyarakat terhadap dunia literasi, Bakir juga melakukan sejumlah kegiatan sosial, “Jadi melibatkan masyarakat dalam kegiatan seperti perang sampah, pembuatan video inpirasi dan lainnya”, tambahnya.

Ia memulai gerakannya bersama orang-orang muda Were. Kendati menguras tenaga, Bakir mengaku bahwa mereka tidak pernah mendapat honor atau upah dari pihak mana pun.

“Tidak pernah, kami tidak digaji,” ungkap alumni Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) tersebut.

Memberdayakan Masyarakat Lewat Literasi

Bagi Bakir, selain baca-tulis, dampak lain sebuah gerakan literasi harus memiliki transformasi edukasi terhadap kesejahteraan masyarakat.

Berkat gerakan literasi yang dicetusnya, saat ini mereka telah menyediakan sejumlah fasilitas usaha bagi masyarakat.

“Bagaimana mereka tidak hanya dibina untuk membaca, tetapi juga memiliki keahlian dari apa yang mereka baca,” tukas Bakir. Ia mengaku sudah melakukan pelatihan untuk membina masyarakat.

“Ada tiga unit mesin jahit yang sudah kita kasih ke peserta dan mereka yang mengelolanya,” kata bakir.

Selain mesin jahit, pemberdayaan yang dilakukan Literasi Perpustakaan PKBM Were Mandiri juga telah memfasilitasi usaha bengkel serta membuka peluang kursus komputer.

Bakir mengaku fasilitas dari pemberdayaan tersebut merupakan usaha mereka saat berjejaring dengan berbagai pihak.

Juara Lomba Perpustakaan

Sepanjang tahun 2015 hingga 2020, Literasi Perpustakaan PKBM Were Mandiri pernah menyabet kejuaraan lomba perpustakaan di berbagai ajang.

“Tahun 2017 itu juara dua tingkat provinsi, di tahun 2019 tong (kami) mendapat predikat pengelola perpustakaan dan komputer terbaik di Bangka Belitung,” ucapnya.

Tak hanya itu, Rumah Literasi ini juga telah diikutsertakan dalam beberapa program yang digelar oleh pemerintah di berbagai tempat.

“Di tahun 2020, kami menjuarai lomba tingkat provinsi dan kabupaten hingga masuk nominasi tingkat Nasional,” ungkap Bakir.

Kendati demikian, ia mengaku perpustakaan yang dikelolanya masih membutuhkan berbagai bahan bacaan, “Buku-buku tentang inspirasi yang masih kami butuhkan,” tambahnya.

Selama hampir delapan tahun membina dan mengurus Literasi Perpustakaan PKBM Were Mandiri, Bakir mengaku kendala yang kerap menimpanya adalah soal membagi waktu.

“Kami berharap juga agar pemerintah dapat membantu jalannya rumah literasi ini,” pungkasnya.

Penulis: Rian Hidayat HusniEditor: Faris Bobero
  • Bagikan