Menjenguk Halmahera

  • Bagikan
Ghalim Umabaihi, peresensi buku Orang Halmahera.

Oleh: Ghalim Umabaihi

pegiat literasi di Perpustakaan Independensia

Suatu waktu, seorang teman bercerita kepada saya, bahwa orang Halmahera ketika merantau, terutama ke Pulau Jawa, saat ditanya asal daerahnya, mereka lebih sering menyebut Ternate. Karena Ternate, bagi mereka lebih dikenal ketimbang Halmahera. Kalau menyebut dari Halmahera, mereka siap direpotkan dengan penjelasan posisi geografis dan kondisi daerah itu.

Padahal, Halmahera merupakan pulau terbesar di Provinsi Maluku Utara, yang memiliki kekayaan alam, panorama yang indah, dan ragam budaya di sana. Halmahera (Sofifi) pun menjadi ibu kota provinsi, dan banyak korporat nasional hingga internasional berinvestasi di daerah itu.

Bahkan, tak sedikit orang hebat lahir dan tumbuh besar di daerah tersebut. Di dunia menulis, ada nama Indonesia O Galelano (Idrus Djoge), penyair yang diakui H.B Jassin sebagai sastrawan angkatan 46.

Ada pula Adnan Amal, hakim yang banyak menulis tentang Maluku Utara, termasuk beberapa catatannya tentang Galela (Halmahera Utara). Anak-anaknya juga mengikuti jejaknya, seperti Nukila Amal, yang turut diperhitungkan dalam dunia kesusastraan Indonesia.

Meski begitu, karya-karya mereka belum cukup mempopulerkan Halmahera. Nama mereka bisa saja besar, tapi tidak disertai dengan negerinya, sebagai identitas. Nukila, misalnya, lebih dikenal dengan orang Ternate ketimbang Halmahera. Penulis di negeri ini, barangkali perlu besar membawa nama daerahnya.

Sebagai jurnalis berdarah Halmahera, Faris Bobero kini hadir memperkenalkan Halmahera lewat buku pertamanya, Orang Halmahera: Sebuah Catatan dari Lapangan (2021). Catatan-catatan ini telah diterbitkan di Mongabay.co.id, sebelum dibukukan.

Dalam buku ini, Kak Ais, begitu saya menyapanya, bercerita banyak tentang Halmahera, dari Tobelo (Halmahera Utara), Gane (Halmahera Selatan), hingga Wasile (Halmahera Timur), dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Karya ini memperkenalkan Halmahera dari beberapa sudut pandang, mulai dari alam yang indah, kekayaan hasil alam, keragaman budaya hingga perampasan ruang hidup.

Dalam artikel “Menikmati Perjalanan ke Utara Halmahera”, penulis memperkenalkan destinasi wisata di daerah Hibualamo itu. Dari teluk Kao, Faris bercerita pasir putih dan terumbu karang yang indah. Di destinasi itu ada pun bangkai kapal Tosimaru milik Jepang, peninggalan Perang Dunia ke-II, yang bisa menjadi wisata sejarah.

Sebagaimana ditulis Kak Ais, “Lokasi ini, kini sering jadi spot diving beberapa klub lokal, kendati ancaman ranjau laut masih membayang. Karena di masa perang daerah ini ditebari beragam ranjau dengan tujuan menghalangi kapal perang dan kapal selam sekutu (Amerika)”. (hal. 2).

Ada pula Telaga Paca, Telaga Lina, Pantai Kupa-kupa, Pulau Kumo, Pulau Mede, dan Gunung Api Dukono, destinasi wisata yang diceritakan dalam artikel tersebut.

Tulisan lain yang mempromosi tempat wisata adalah “Cerita Penjaga Pulau Tulang”. Meskipun menjadi sudut pandang dalam artikel ini, Fahri Lolahi, penjaga Pulau Tulang. Penulis, dalam artikel ini, memberi informasi bagaimana cara sampai ke pulau itu, sekaligus tarifnya. Juga, ada laku positif sebagai penjaga lingkungan, yang memungut sampah dan melindungi terumbu karang dari alat peledak yang digunakan nelayan saat menangkap ikan di dekat pulau tersebut. Laku penjaga pulau itu seperti melindungi Halmahera, yang makin ke sini lebih besar mendapat ancaman kerusakan.

Salah satu ancaman kerusakan Halmahera diceritakan penulis dalam artikel: “Ketika Kopra Tergantikan Sawit”.  Di Gane, Halmahera Selatan, kopra selain menjadi komoditas unggulan yang menghidupkan mereka, pun adalah medium membangun hubungan sosial. Karena masyarakat sering berbagi kebun kelapa, terutama kepada anak muda yang baru habis menikah. Namun, semua berubah ketika perusahaan perkebunan sawit masuk beroperasi di daerah itu. Orang-orang tak lagi saling memberi. Konflik sesama warga pun terjadi. Bahkan, karena ada lahan kebun yang telah tercemar, ada warga yang tak tahan dan menjual kebun lalu keluar dari kampung.

Di sektor perikanan, lewat artikel “Bagan Terakhir Orang Bajo Sangkuang”, penulis bercerita kekayaan nelayan di Halmahera Selatan sebelum konflik horizontal pada 1999. Saat itu, pendapatan nelayan dalam sekali melaut bisa mencapai 2 juta per orang. Karena itu, dengan hasil tersebut mereka bisa membiayai anak sekolah hingga jenjang S3. Tetapi, kondisi mulai terburuk saat kesulitan bahan bakar, operasional melaut, bahkan akses untuk jual hasil tangkapan. Mirisnya, pemerintah sama sekali tak perhatikan kondisi mereka.

Halmahera, yang dikenal dengan memiliki kekayaan alam, kini terancam rusak. Sebab, pelbagai macam perusahaan tambang telah beroperasi di pelosok daerah tersebut, merampas lahan pertanian warga hingga membuang limbah yang mencemar laut. Perusahaan tambang tersebut seperti NHM di Halmahera Utara, IWIP di Halmahera Tengah, HARITA di Halmahera Selatan, dan Antam di Halmahera Timur.

Perusahaan-perusahaan itu juga merampas ruang hidup masyarakat Togutil, suku pedalaman di Halmahera, sebagaimana diceritakan Faris dalam tiga artikel dalam buku ini: “Ayah dan Ibu, Orang Togutil Dodaga”; “Kehidupan Orang Tobelo di Hutan Halmahera”; “Orang Tobelo, Benteng Terakhir Hutan Halmahera”. Masyarakat suku pedalaman ini juga merasa terganggu dengan pelbagai program pemerintah dalam merelokasi mereka di perkampungan pesisir. Termasuk program dari pihak kehutanan yang sering mengambil alih wilayah hutan. Mereka sempat melakukan perlawanan, tetapi selalu saja diancam. Seperti kutipan ini:

“Mereka, orang Kehutanan bilang, kalau kalian melawan, nanti kalian berhadapan dengan tentara,” kata Om Norol, orang tua di wilayah itu sebagaimana dikutip penulis (hal. 79).

Sedangkan, dua artikel lain dari sembilan artikel dalam buku ini, yaitu “Sumber Pangan Orang Morotai” dan “Kehidupan Orang Taba di Pulau Gunung Api”. Di dua artikel ini, penulis bercerita pangan atau komoditas lokal unggulan di daerah tersebut, seperti kelapa, sagu, dan padi di Desa Aha Pilowo, Kabupaten Morotai. Juga, kenari yang menjadi komoditas unggulan di Pulau Makeang.

Menengok Kelemahan

Ada tiga kelemahan yang saya temukan dalam buku ini. Pertama, pada sub judul “Cincin Api Pasifik” (hal. 7) dalam artikel “Menikmati Perjalanan ke Halmahera Utara”. Setelah paragraf pertama dari sub judul ini, Kak Ais menulis komentar Nahrawi Usman, narasumber yang bercerita mengelola wisata pulau-pulau kecil yang mestinya dibahas di sub judul sebelumnya, “Wisata Pulau dari Tobelo”. Tidak ada hubungan dari paragraf pertama ke paragraf kedua. Saya kutip saja dua paragraf yang tak nyambung itu:

“Hampir semua potensi wisata di Halmahera Utara, terutama Tobelo dipromosikan oleh orang muda di sana. Beberapa dari mereka adalah pecinta fotografi dan menyukai aktivitas mendaki gunung Dukono. Salah satu gunung api aktif.”

“Nahrawi Usman, sejak 2015 bersama rekan-rekannya mulai membuat agenda, menyambangi pulau-pulau berpasir putih di Tobelo, yakni Pulau Pawole, Kakara, Rarangane. Pilihan tiga pulau ini karena menurut mereka memiliki potensi wisata yang bagus.”

Paragraf pertama dalam sub judul tersebut, justru memiliki hubungan dengan paragraf sembilan yang membahas ketinggian gunung Dukono. Sedangkan, delapan paragraf sub judul itu sepertinya pembahasan dalam sub judul pertama dalam artikel tersebut. Namun, barangkali kelalaian layout dalam menyalin tulisan sehingga terjadi kesalahan penempatan pembahasan dalam setiap sub judul artikel. Kendati begitu, secara moril kesalahan seperti itu akan ditanggung penulis di hadapan pembaca.

Kedua, kelemahan artikel “Ketika Kopra Tergantikan Sawit”. Tulisan ini membahas kopra di Gane, Halmahera Selatan. Tapi, tiba-tiba di sub judul terakhir, penulis langsung membahas kelapa Bido di Morotai  (hal. 71). Objek tulisan di dua wilayah yang berbeda. Setelah membahas objek yang di daerah satu masuk ke daerah lain, mestinya ada kalimat penghubung atau pengantar. Agar lebih kaya, selain kelapa Bido di Morotai, perlu ada tambahan kasus di daerah lain, minimal tiga sampai empat, seperti Halmahera Utara dan Kepulaun Sula, misalnya. Atau, sebaiknya kelapa Bido Morotai dibahas dalam satu artikel tersendiri.

Ketiga, meski foto-foto dalam buku ini sangat membantu detail setiap tulisan. Namun, terasa mengganggu pada jarak yang terlalu renggang antara foto dan tulisan. Layout nampak tidak konsisten. Foto di awal (lihat hal. 1 sampai 15), agak enak dilihat, karena jaraknya proposional. Sementara foto setelah halaman 15, jarak antar foto dengan tulisan terlalu lebar (bisa dilihat di hal. 56, 67, 70, 97, 133). Kelebihannya, foto-foto full halaman menarik, membantu menambah estetik dan detail cerita-cerita dalam buku ini.

Di samping kekurangannya, karya ini sangat membantu, memberi petunjuk bagi masyarakat (pembaca) di luar untuk mengenal Halmahera. Bagi penduduknya yang merantau, buku ini menjadi jalan pulang menjenguk Halmahera, yang kondisinya semakin terpuruk sebagaimana diceritakan CEO Cermat, Partner Kumparan itu. []

Judul              : Orang Halmahera: Sebuah Catatan dari Lapangan

Penulis           : Faris Bobero

Cetak               : 2021

Tebal               : xiv+166 halaman

Penulis: Ghalim Umabaihi
  • Bagikan