Advocatus Diaboli

Ketua YLPAI Muhammad Tabrani. Foto: Istimewa

Kanonisasi meliput proses dari pelayan tuhan kemudian dilakukan venerabilis oleh seorang Uskup dan setelah itu diusulkan untuk beatifikasi (pengakuan) oleh Paus melalui sidang kongregasi penggelaran kudus (congregation de causis sanctorum), sebelum mendapat gelar santo/santa. Dalam tahapan tersebut, terdapat suatu proses scrutinisasi mendalam yang dilakukan oleh dua posisi yang saling berlawanan. Di satu pihak disebut advocatus dei atau pengacara Tuhan dan di pihak lain disebut advocatus diaboli atau pengacara iblis. Atau dalam Black’s Law Dictionary disebut the devil’s advocate is the advocate who argues against the canonization of a saint.

Seseorang yang ditunjuk otoritas gereja untuk menjadi advocatus dei atau promotor penyebab bertugas membangun argumen yang mendukung kanonisasi dengan memaparkan bukti-bukti kebajikan heroik kandidat yang layak menjadi orang suci. Selama penyelidikan suatu sebab, tugas ini sesungguhnya bertindak sebagai promotor of justice. Sedangkan advocatus diaboli justru berperan sebaliknya, sebagai promotor fidei (dosa) untuk mengambil posisi skeptis terhadap segala sesuatu mengenai kandidat ‘orang suci’, entah itu aspek karakternya, mencari celah dalam bukti, serta menyusun argumen untuk membantah argumen pengacara Tuhan. Atau dengan kata lain, peran itu berdiri secara diametral dengan sudut pandang tertentu untuk menentang kanonisasi (penyucian) seorang kandidat. Ia berusaha melihat kejelekan seorang kandidat sebagai bagian dari proses pencarian obyektivitas. Tujuannya tidak lain, untuk mengoreksi jangan sampai proses penobatan tersebut didasarkan atas bukti-bukti yang tidak valid.

Baca Juga:  Konfrontasi Munira Dari ‘Labirin’ Halmahera: Membaca Antologi Puisi WDG