News  

Diimpit 2 Sungai, Warga Kusubibi Kesulitan Air Bersih

Anak-anak ikut membantu orang tua mengisi jerigen air. Foto: Rajuan Jumat/cermat

Air bersih masih menjadi persoalan utama yang dihadapi masyarakat Kusubibi dalam lima tahun terakhir. Adanya potensi desa dan besarnya anggaran desa ternyata tidak membuat warga dimudahkan mengakses air.

Warga terpaksa bulak-balik menderek gerobak berisi jerigen air atau mencuci pakaian dan mandi di sungai. Bahkan, harus bangun subuh hanya demi menampung air yang mengalir dari keran setinggi lutut anak kecil.

Kondisi pipa air di Desa Kusubibi. Foto: Rajuan Jumat/cermat

Satu subuh yang tenang pada Februari 2024, desa itu masih sepi. Cicit anak ayam dan ngeong sepasang kucing dewasa terdengar di sudut rumah. Ayam jantan masih sibuk berkokok di dahan ketapang. Di bawah sorot lampu bertenaga listrik, seorang perempuan berdiri bungkam-merunduk memandangi jalan setapak.

Zakia, nama perempuan itu, bertubuh kering, biasa dipanggil Kia. Ia berdiri di depan keran air sejak pukul empat pagi Waktu Indonesia Timur. Begitu bangun tidur, ia langsung beranjak dan meraih dua ember sedang lalu menentengnya menuju keran air yang berjarak 50 meter dari teras rumahnya. Ia terpaksa bangun subuh demi menampung air lalu bulak-balik mengangkutnya ke rumah.

Keran di seberang jalan itu merupakan satu-satunya sumber air bersih terdekat yang bisa Zakia akses di desanya. Demi menghindari antrian panjang, ibu enam anak itu tidur sambil mengingat-ingat waktu; kalau bukan bangun tengah malam berarti menjelang fajar. Itu ia lakukan untuk mendapatkan air bersih tanpa perlu menunggu lama.

Di pagi yang masih gelap, perempuan 35 tahun itu mendatangi keran air tanpa menggenakan sandal, wajahnya masam. Ia terlihat tabah menunggu dua ember hitam terisi penuh air yang nanti dipergunakan untuk memasak, mencuci dan buang hajat.

“Kalau falo air siang hari tong bisa antri deng jam-jam,” katanya pelan. “Kalau banyak yang ba angka air,” tambahnya.

Bahkan menurutnya, air bukan lagi tidak lancar tapi memang sudah sudah tidak lagi mengalir).

“Sudah begitu, air di sini bajalang kayak anak kecil yang baru belajar kencing, pelan, lama lagi. Makanya masih galap-galap tong so harus batada air,” katanya.

Warga menderek gerobak berisi jerigen air yang mereka ambil dari sungai di seberang kampung.

Ditemui di rumahnya akhir Februari lalu, Zakia sedang mencuci piring di geladak terbuka yang dibuat terpisah dengan dapur. Sementara suami dan kedua orang tuanya asyik mengobrol di ruang tamu.

Di belakang Zakia, sekitar 20 langkah dari tempat cuci piring, terdapat belasan tempat air berdiri sejajar di sudut dinding: ada jerigen 25 liter, bokor hitam besar hingga bekas drum plastik yang mampu menampung 200 liter air. Semua itu ia tampung dalam waktu dua hari.

Masalah air bersih yang dihadapi Zakia membuatnya teringat dengan kampung asalnya yang pernah mengalami kesulitan air bersih. Mereka bahkan harus mengangkut air menggunakan perahu dan menunggu air laut surut. Sebab, air di desanya dulu terasa payau kalau laut sedang pasang. Kini, air di kampung Zakia sudah bisa dinikmati dari rumah.

Baca Juga:  Update: 18 Orang Kena OTT KPK di Maluku Utara

Zakia adalah warga Pulau Kasiruta–hidupnya berubah semenjak ikut suaminya dan menetap di Kusubibi, desa di pesisir barat Pulau Bacan berjarak satu setengah jam menggunakan speedboat dari Labuha, Ibu Kota Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Kesibukan suami Zakia di laut sebagai nelayan membuat ia terpaksa menambah peran; selain mengurusi anak-anak, mencuci, juga mengangkut air yang berlangsung setiap pekan.
“Pokoknya kalau lia air so berkurang langsung pigi angka sudah, tara bisa tunggu lagi,” jelasnya.

Jeriken, bokor, hingga drum bekas yang dijadikan penampung air diletakkan di sudut rumah

Jika Zakia bisa mengambil air yang mengalir dari pipa di seberang rumah, Rizma, 36 tahun, justru sebaliknya. Perempuan yang tinggal di Rt 03 itu resah karena air tidak mengalir di kompleksnya. Ia pun harus menyewa orang untuk mengangkut air atau membeli air galon dari tetangga kampung.

“Pipa air ini tara sampe sini, cuman batas masjid saja di lao. Jadi tong di kompleks Kampung Baru Rt 03 ini harus ambil air di kali,” keluh Rizma.
Rizma (bukan nama sebenarnya) adalah satu dari sekian ibu rumah tangga yang memanfaatkan tiga jenis air secara terpisah.

Air sungai misalnya, diperuntukkan untuk memasak atau menanak air. Adapun air galon hanya bisa dikonsumsi pada saat mendesak saja. Misalkan ketersediaan air panas-dingin menipis. Sementara untuk mencuci, mandi, dan BAB, mereka sekeluarga menggunakan air tanah.

“Kalau untuk minum tong pake air panas-dingin, kadang pake air galon. Memasak dan mandi pakai air kali dan sumur,” kata Rizma, perempuan yang selalu khawatir jika identitasnya disebutkan.

Keterpaksaan Rizma menyewa orang untuk mengangkut air atau membelinya dari pengusaha ada alasannya. Itu dilakukannya agar pekerjaannya sebagai petani tidak terhambat. Terlebih lagi aktivitas bertani sudah berlangsung sejak pagi dan akan pulang menjelang magrib.

“Sapa pe (siapa punya) anak yang mau coba? Pulang-pulang dari kobong (kebun) dengan keadaan lelah, baru pigi falo (pergi angkut) air di kali?” kata Rizma sekaligus mengakhiri percakapan sore itu.

***
Kusubibi termasuk satu dari delapan desa di Kecamatan Bacan Barat yang bergelimang sumber air. Di ujung kampung ada dua sungai yang mengalir jernih. Sungai tersebut dimanfaatkan bagi sedikitnya 600 jiwa di desa itu. Selain untuk minum juga mandi dan mencuci pakaian.

Baca Juga:  KPU Pastikan Tidak Ada PSU di Halmahera Selatan

Pemanfaatan sungai seperti ini ternyata berdampak pada ekosistem air. Terlebih lagi penggunaan deterjen dan alat mandi.

Penelitian yang dilakukan Elvi Roza Syofyan pada 2019 silam menunjukkan, pencemaran air sungai dari aktivitas manusia dapat menghambat proses fotosintesis dari tumbuhan air dan alga yang menghasilkan oksigen. Penggunaan deterjen dan sampah sabun mandi adalah salah satu dari rentetan unsur pencemar itu.

Selain sungai, Kusubibi juga punya cadangan air tanah berlimpah. Tidak heran kalau warga terpaksa membuat sumur galian demi mengalirkan air ke rumah.

Jika penggunaan air tanah di Kusubibi terus berlanjut dan masif, dikhawatirkan akan membuat permukaan tanah semakin menurun. Dengan begitu, proses intrusi air laut ke air tanah akan berlangsung sangat cepat.

Pada 2050 mendatang, puncak krisis iklim akan semakin jelas. Jakarta diprediksi tenggelam. Desa Kusubibi yang saat ini terus menghadapi semakin tingginya permukaan air laut juga ikut terdampak. Air tanah yang kini masih digunakan diperkirakan akan terkontaminasi dengan perembesan air laut.

Penanganan air bersih di Desa Kusubibi baru dimulai pada awal 2023. Februari lalu, dalam sebuah Musyawarah Desa bersama sejumlah tokoh masyarakat dan pemerintah desa, disepakati untuk pengadaan pipa air bersih yang anggarannya bersumber dari Dana Desa sesuai APBDeS Tahun 2023 dan potensi yang ada di Kusubibi, yakni hasil tambang rakyat yang sudah berjalan sejak akhir 2019.

Anggaran pipa air yang disedot dari Dana Desa sebesar Rp 240 juta lebih. Sementara potensi desa (hasil tambang rakyat) sebanyak Rp 250 juta rupiah. Kedua sumber anggaran itu hingga kini masih menjadi polemik.

Suasana kali saat warga mandi dan mencuci pakaian

Dari dokumen yang diterima cermat, Kepala Desa Kusubibi, Muhammad Abdul Fatah membuat perjanjian utang-piutang pipa air dengan Boyke Tendean, seorang pengusaha yang tinggal di Labuha.

Berselang dua bulan dari perjanjian itu, hingga jatuh tempo utang-piutang tak kunjung dilunasi. Merasa dibohongi, lewat kuasa hukumnya, pengusaha 68 tahun itu mendaratkan somasi kepada Kepala Desa Kusubibi tertanggal 22 Agustus lalu.

Isi surat somasi tersebut juga menerangkan “pembayaran pipa air baru sebesar Rp 170 juta menggunakan dana desa”. Sementara, uang dari hasil potensi desa belum tersentuh sama sekali. Padahal, warga telah mengumpulkan uang tersebut dan telah diserahkan kepada kepala desa. Tapi sampai sekarang uang itu raib. Bahkan, salah seorang pengusaha di desa mengaku telah meminjamkan uang senilai Rp 160 juta demi melunasi hutang pipa.

Pemasangan Pipa Air yang Amburadul

Berangkat dari keresahan masyarakat yang tidak menikmati air secara merata, cermat ditemani warga setempat mengunjungi induk pemasangan pipa air di Dusun Kusu Hijrah, sekitar 30 menit menggunakan ketinting dari Desa Kusubibi.

Baca Juga:  Bem Unkhair: Revisi RTRW Malut Ugal-ugalan, Sarat Kepentingan Tambang

Setibanya di Dusun Kusu Hijrah, kami berjalan sekitar satu jam lagi menuju induk pipa– sekitar dua kilo meter lebih menyusuri jalan di antara pohon kelapa dan pohon-pohon hutan. Setengah jam perjalanan, bagian pipa telah kami temukan merayap di antara akar dan bebatuan.

Ada hal unik dari proses pemasangan pipa air di Dusun Kusu Hijrah dan Desa Kusubibi; yaitu tidak adanya kajian lebih lanjut dan tanpa campur tangan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Pulau Bacan. Jadinya, induk pipa di hulu itu tanpa dibuatkan penampungan dan hanya diletakkan begitu saja di aliran sungai berkelikir. Yang kalau tidak diurus, bisa-bisa dipenuhi aneka material pasir, daun dan ranting.

Induk pipa di Dusun Kusu Hijrah yang diletakkan begitu saja di atas batu berkelikir

Pemasangan pipa air ini hanya mengandalkan tenaga 4 orang warga. Salah seorang yang turut terlibat mengaku, dijanjikan bayaran oleh kepala desa sekitar Rp 15 juta untuk pemasangan pipa air dari Dusun ke Desa Induk Kusubibi. Akan tetapi, belum semuanya terbayar lunas.

“Kades minta pemasangan pipa itu dengan bayaran Rp 15 juta. Abis kamari Kades so tara lagi kase (sudah tidak lagi kasih) bayaran yang 15 juta itu. Dia cuman kasih sebagian jadi empat orang itu berbagi Rp 2.500.000,” katanya.
Lelaki dengan suara lantang itu juga menjadi korban pembohongan Kepala Desa Kusubibi. Ia juga mengaku kalau sisa uang 5 juta yang belum dibayar habis itu akan diserahkan jika ia mau memasang sendiri pipa di Desa Induk Kusubibi.

Namun apa daya, sudah bekerja lelah-lelah tapi tetap saja diberikan janji palsu. Katanya dibayar lunas malah hanya dibelikan beras 25 kilogram. Tidak puas sampai di situ, Kades juga menjanjikan akan dibelikan semen 10 sak.
“Dia kase, cuman dia kase beli beras satu sak (25 kilogram),” kata pria itu.

“Baru-baru dia janji pe saya lagi. Dia bilang, ngana pe doi bapasang pipa 5 juta itu nanti kita beli semen 10 sak. Kong kita jawab, kades, saya tara (tidak) minta, tapi kades janji to kong bae-bae (jadi hati-hati). Sampai sekarang dia tara kase itu doi (dia tidak kasih uangnya),” katanya terus terang dengan wajah marah. Ia seakan menumpahkan semua kekecewaannya di siang cerah itu.
Hingga tulisan ini terbit, Kepala Desa Kusubibi, Muhammad Abdul Fatah tidak merespons konfirmasi yang dikirim via WhatsApp dan SMS.

—–

Penulis: Rajuan Jumat

Editor: Ghalim Umabaihi