Menampar “Wajah” Intelektual

Foto: Kompasiana.com

Oleh: Wawan Ilyas*

 

Akademisi dan peneliti Indonesia dibuat “mati kutu” ketika terjadi peleburan lembaga-lembaga ilmiah independen ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), termasuk pengucilan lembaga Eijkman yang merupakan prasasti sejarah sejarah ilmu pengetahuan di Indonesia. Peleburan ini dikritik banyak ilmuan, termasuk dari Guru Besar Antropologi Hukum FHUI, Sulistyowati Irianti (Opini Kompas, 7 Januari 2022).

Kebijakan keliru pemerintah mengelola riset dan sains melucuti minat dan iklim kebebasan akademik, termasuk membebani kerja akademis dengan urusan administrasi hingga lupa yang substantif. Bukan saja pada lembaga riset luar kampus non-pemerintah, melainkan merongrong hingga ke ruang-ruang fakultas di Indonesia. Karena situasi tersebut, Sulistyowati menilai bangsa ini menuai kematian masyarakat ilmiah.

Baca Juga:  Ichan Pergi di Hari Minggu