News

Mengenal Kampung Sarani di Kota Ternate

Kampung Sarani tampaknya tak lagi familiar di telinga orang-orang Ternate, Maluku Utara. Kampung ini memang disebut sebagai permukiman kuno yang didiami mereka yang beragama Nasrani di masa Hindia-Belanda.

Meski tak lagi lekat dalam ingatan, nama Kampung Sarani belakangan mulai kembali muncul saat musisi Vincent Ryan Rompies mengaku keluarganya berasal dari permukiman tersebut.

Hal itu bermula saat Ali Akbar, seorang komika asal Ternate berkesempatan menjadi bintang tamu di Tonight Show, acara yang dibawakan Vincent dan Desta.

Dalam kesempatan itu, Ali Akbar mengaku teman-temannya di Ternate merasa penasaran, di mana sih kampung yang pernah didiami keluarga Vincent? Vincent lantas menelpon salah satu keluarganya.

“Ini kita lagi ngobrol dengan bintang tamu asal Ternate, dia tanya sama kita, kampung mana di Ternate?,” tanya Vincent, seperti pada tayangan di kanal YouTube TonightShowNet, Sabtu, 24 September 2022.

“Kampung Sarani,” ungkap Mace, keluarga Vincent. Mendengar itu, Ali Akbar sendiri tak tahu lokasi Kampung Sarani yang menurut Mace berada di Kota Ternate.

Mengenal Kampung Sarani

Wuri Handoko dalam artikelnya ‘Tata Kota Islam Ternate: Tinjauan Morfologi dan Kosmologi’ menjelaskan bahwa Kampung Sarani di masa lalu merupakan kawasan permukiman yang dulu diperuntukkan bagi warga beragama Nasrani.

Ia menuliskan, kampung ini pada masa lalu diperuntukkan bagi warga mantan KNIL (Tentara Kerajaan Belanda yang tugasnya melayani pemerintahan Hindia-Belanda, termasuk warga Indo-Belanda) yang tetap tinggal di Indonesia.

Kawasan Depan Rumah Sakit Tentara yang dulu menjadi permukiman Warga Sarani. Foto: Rian Hidayat Husni/cermat

Lokasi Kampung Sarani mencakup tiga kelurahan yakni sebagian Kelurahan Tanah Raja, sebagian Kelurahan Kalumpang, dan sebagian Kelurahan Stadion di Kota Ternate.

“Adapun batas kawasan kampung Sarani, yakni di sekitar Gereja GPM (Gereja Ayam), lalu ke arah selatan bekas KFC, Sebelah Utara di Pegadaian hingga ke batas Kelurahan Kalumpang dan Santiong,” tulisnya.

Dia menambahkan, ada juga kawasan kampung Sarani terdapat di bagian timur Gereja Katolik (Gereja Batu) hingga rumah sakit tentara, yang merupakan gedung bekas Sekolah China.

Tinggal Nama Tinggal Cerita: Tergerus di Kalangan Orang Muda

Sejarawan Maluku Utara, Irfan Ahmad, menilai bahwa generasi muda kini tak lagi banyak mengenal nama-nama perkampungan tua yang terdapat di Maluku Utara.

Menurut Irfan, ada sejumlah alasan mengapa kalangan muda saat ini cenderung memiliki keterbatasan pengetahuan tentang sejarah kampung di Maluku Utara.

Irfan menyebut bahwa musabab paling mendasar adalah tidak diajarkannya sejarah lokal di lembaga-lembaga formal, seperti sekolah.

“Sekarang nyaris tidak diketahui bahkan mahasiswa sekalipun, kalau tidak membaca sejarah. Ini juga karena pelajaran sejarah lokal (di Maluku Utara) tidak diajarkan di tingkat SMP dan SMA,” kata Dosen Sejarah Universitas Khairun tersebut.

Ia juga mencontohkan sejumlah perkampungan kuno yang terdapat di Kota Ternate, di mana nama-nama kampung tersebut nyaris tak dikenal banyak generasi muda sekarang.

Perkampungan kuno itu, kata dia, antara lain adalah Kampung Sarani di Ternate yang letaknya di sekitar Selekta Buku arah Pasar Gamalama, Kelurahan Gamalama, Kecamatan Ternate Tengah.

Sebagian Kelurahan Tanah Raja, juga disebut merupakan kawasan Kampung Sarani di masa lalu. Foto: Rian Hidayat Husni

Di masa lampau, Kampung Sarani dikenal dengan pendudukan warga beragama Kristen di Ternate. Kehadiran Kampung Sarani disebut menunjukkan kemajemukan pluralisme yang masih kental di Kota Rempah ini.

“Tidak terlalu besar Kampung Sarani awal. Ketika pertengahan abad ke-19 dan awal 20 barulah mulai banyak penganut Agama Kristen yang kemuadian dipindahkan ke sekitar Kelurahan Kalumpang,” ujarnya.

“Selain Kampung Sarani, juga ada Kampung Eropa biasanya orang Sarani juga mendiami kampung ini bila terjadi perkawinan dengan orang Eropa,” lanjutnya.

Kendati demikian, Irfan menilai bahwa kekayaan sejarah lokal ini mulai tergerus di kalangan anak muda.

“Selain Kampung Sarani dan Eropa, ada juga Kampung Melayu, Kampung China dan Kota Sampaulo yang tentu tidak dikenal generasi muda kita sekarang jika tidak membaca sejarah,” tandasnya.

Irfan menuturkan bahwa pelajaran sejarah penting diterapkan ke lembaga formal. Namun menurutnya, semua itu memang berkaitan langsung dengan kurikulum sekolah yang ditetapkan pemerintah.

——————

Penulis: Rian Hidayat Husni

redaksi

Recent Posts

Kejati Malut Hentikan Penyidikan Dugaan Korupsi yang Menyeret Eks Wakil Gubernur

Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku Utara resmi menghentikan penyidikan dugaan tindak pidana korupsi belanja makan dan…

30 menit ago

DPRD Morotai Setujui Perubahan APBD 2026, Pendapatan Naik Rp20,17 Miliar

DPRD Pulau Morotai, Maluku Utara, menyetujui Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Perubahan Anggaran Pendapatan dan…

5 jam ago

Koalisi Desak Prabowo Temui Warga Terdampak Industri Nikel di Halmahera

Koalisi Indonesia Timur untuk Transisi Energi yang Adil dan Berkelanjutan mendesak Presiden Prabowo Subianto menemui…

10 jam ago

Formapas Malut Minta Penanganan Karhutla di Taliabu Secara Terpadu dan Berbasis Mitigasi

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda Pulau Taliabu, Maluku Utara, mendapat perhatian serius. Kobaran…

20 jam ago

DKP Morotai Buka Pendampingan Perizinan Rumpon bagi Kelompok Nelayan

Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pulau Morotai, Maluku Utara, membuka pendampingan bagi kelompok nelayan, Kelompok…

1 hari ago

AKP Joy Sianipar, Perwira Polda Maluku Utara yang Fokus Lindungi Anak

Nama AKP Joy Ananda Putra Sianipar, S.I.K., kini cukup dikenal dalam penanganan kasus tindak pidana…

1 hari ago