Patologi Politik Anak Muda

Foto penulis, Firman M. Arifin.

Oleh: Firman M Arifin*

 

Pasca-ketuk palu hakim ketua Mahkamah Konstitusi, kata “anak mudah” menjadi bola liar dalam diskursus politik menjelang pemilu 2024. Frasa “atau pernah/sedang menduduki jabatan yang dipilih melalui pemilihan umum, termasuk pemilihan kepala daerah”, pun secara eksplisit seolah mendisposisikan perlunya anak muda dalam ruang politik elektoral.

Menariknya, terutama ketika Golkar mendeklarasikan Gibran untuk mendampingi Prabowo, ada kalimat kontroversi dari Airlangga Hartanto yang historikal. Airlangga menyamakan usia Sutan Syarir ketika menjadi perdana menteri dan Gibran yang diusung menjadi Wakil Presiden.

Peryataan Airlangga Hartanto mendapat tanggapan Goenawan Mohamad. “Menyamakan Gibran dengan Bung Syahrir? Syahrir jadi pemimpin bangsa melewati jalan panjang dan naik turun, penuh bahaya. Dibuang, ditahan, dicerca. Gibran? Anak Presiden yang kemudian menjadi calon Wakil Presiden. Diproteksi tak pernah merasakan bagaimana rasanya dizalimi,” tutur GM.

Baca Juga:  Malut United dan Bangkitnya Sepakbola di Timur Indonesia