Sekretaris Kota Ternate, Rizal Masaoly bersama direktur UT Ternate, dosen dan mahasiswa. Foto: Fahri Aufat
Sekretaris Daerah Kota Ternate, Rizal Marsaoly menantang mahasiswa baru Universitas Terbuka (UT) untuk memilih antara arah atau kecepatan dalam meraih tujuan hidup.
Tantangan itu Rizal sampaikan saat memberikan materi pada kegiatan Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB) dan Pelatihan Keterampilan Belajar Jarak Jauh (PKBJJ) UT Ternate yang digelar di Muara Hotel, Sabtu, 21 Februari 2026.
Suasana kegiatan berlangsung interaktif. Di hadapan ratusan mahasiswa, Rizal melontarkan pertanyaan sederhana namun sarat makna, “Untuk mencapai sebuah tujuan, mana yang lebih penting: arah atau kecepatan?”
Ia bahkan menawarkan hadiah bagi mahasiswa yang berani maju menyampaikan pendapat. Dua mahasiswa tampil dan kompak memilih “arah” sebagai jawaban.
Menurut Rizal, banyak orang terjebak pada ambisi mengejar kecepatan, ingin cepat lulus, cepat sukses, cepat kaya, tanpa memastikan arah yang ditempuh sudah benar atau belum.
“Kalau kita bergerak cepat tapi ke arah yang salah, kita hanya akan semakin jauh dari tujuan. Dalam pendidikan maupun kehidupan, arah harus ditentukan lebih dulu sebelum memacu kecepatan,” tegasnya.
Untuk memperkuat pesannya, Rizal menampilkan sebuah gambar yang sekilas terlihat seperti seorang pria sedang mengendarai motor. Sejumlah mahasiswa pun menjawab demikian. Namun setelah diamati secara utuh, pria dalam gambar tersebut ternyata sedang memegang mesin pemotong rumput, bukan mengendarai sepeda motor.
Dari ilustrasi itu, Rizal menekankan pentingnya melihat persoalan secara menyeluruh sebelum menarik kesimpulan. Persepsi yang hanya bertumpu pada “setengah gambar”, katanya, dapat menyesatkan cara berpikir, sebagaimana kebijakan yang disusun tanpa data dan informasi yang lengkap.
“Ibaratnya kita kira dia sedang naik motor, padahal sebenarnya memegang mesin potong rumput. Kalau kita salah membaca situasi, keputusan kita juga bisa salah,” ujarnya.
Ia pun mengingatkan pentingnya penggunaan data dalam perumusan kebijakan pembangunan. Kebijakan tanpa basis data yang valid, menurutnya, berisiko melahirkan program yang tidak tepat sasaran dan justru menjauhkan pemerintah dari tujuan pembangunan.
Dalam pemaparannya, Rizal juga menyinggung peran strategis perguruan tinggi dalam menyongsong visi Indonesia Emas 2045. Ia menyebut sistem pembelajaran terbuka dan jarak jauh yang diterapkan Universitas Terbuka sebagai solusi pemerataan akses pendidikan sekaligus penguatan kapasitas sumber daya manusia.
Bonus demografi yang tengah dihadapi Indonesia, lanjutnya, harus dikelola melalui pendidikan berkualitas agar tidak melahirkan pengangguran intelektual.
“Kunci menghadapi 2045 bukan hanya soal cepat, tapi soal strategi dan arah pembangunan SDM,” katanya.
Rizal juga menegaskan bahwa Kota Ternate perlu berinvestasi pada pengembangan sumber daya manusia, bukan semata mengandalkan potensi sumber daya alam.
“Tambang bisa habis. Tapi investasi pada kapasitas manusia tidak akan pernah habis,” ujarnya.
Di akhir pemaparannya, ia berharap mahasiswa UT Ternate tidak sekadar mengejar ijazah, melainkan benar-benar membangun kompetensi dan integritas diri.
“Kalau tujuan kita sudah jelas, barulah kita percepat langkah. Tapi jangan pernah menukar arah dengan kecepatan,” tutupnya.
PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) terus menegaskan komitmennya mendukung pembangunan infrastruktur dasar yang…
Seorang perempuan berinisial WRL (70), warga Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, ditemukan meninggal dunia…
Sejumlah warga di Pulau Morotai, Maluku Utara mengeluhkan kondisi listrik yang sering padam saat bulan…
Tangan Hadi Salawati, 53 tahun, tampak cekatan menjahit bagian sol sepatu di pangkuannya. Sejak delapan…
Malut United membawa pulang satu poin dari markas Semen Padang setelah bermain imbang 2-2 dalam…
Selamat menjalankan ibadah puasa. Hari ini, Sabtu, 21 Februari 2026, memasuki hari ketiga ibadah pada…