Setelah dari Moti Kota (15/01) dan Pulau Makian (16/01), calon anggota DPD-RI nomor urut 9, Dr. R. Graal Taliawo melanjutkan perjalanan dan kegiatan ke Pulau Kayoa dan Pulau Kasiruta. Kali ini Penajaman Agenda Kerja Bersama Warga menyapa warga Desa Laluin (16/01), Desa Palamea (17/01), kemudian Desa Loleo Jaya (18/01).
Dibanding kampanye, doktor ilmu politik ini memang lebih suka dan tengah memopulerkan istilah ‘Penajaman Agenda Kerja Bersama Warga’. Menurutnya, imej kampanye telanjur buruk—tidak ada lagi esensi pertukaran pikiran antara warga dan kandidat—juga identik dengan politik transaksional dan politisasi identitas.
“Saya sengaja pilih dan sebarkan istilah yang berbeda, supaya konsep kita atasnya juga berubah. Masyarakat datang dengan tujuan untuk saling berbagi pengetahuan dan menajamkan agenda kerja bersama,” kata lelaki yang akrab disapa Graal ini.
Tantangan perjalanan laut
Terhitung, perjalanan laut akan dilakukan selama kurang lebih 15 hari. Menyisir desa-desa di pesisir dan kepulauan tentu bukan hal mudah dan pasti punya tantangan tersendiri.
Pertama, tantangan alam. Awal-awal tahun ini adalah musim gelombang besar. Ombak, hujan, dan angin kencang akan jadi tantangan tersendiri. “Melihat kondisi alam dan prakiraan cuaca, kita perlu siasati perjalanan laut ini supaya tong tara soak di jalan. Sudah beberapa hari ini saja, hujan kadang turun baik sebelum, ketika kegiatan, ataupun setelahnya,” jelas kandidat DPD-RI 2024 Dapil Maluku Utara ini.
Selama perjalanan laut, Graal dan tim bermalam di speed. “Kami sengaja memakai speed besar yang ada beberapa kamar untuk tidur. Usai diskusi di malam hari, kita kembali ke speed untuk istirahat. Lanjut berlayar pagi hari ke titik berikutnya supaya ombak tidak terlalu besar,” jelas Graal.
Mereka pun mengalami tantangan dalam hal konsumsi. Fasilitas speed tentu terbatas, tidak selayaknya rumah yang ada dapur lengkap dengan peralatannya. Laki-laki kelahiran Wayaua, Bacan ini menyiasati kendala tersebut dengan mengajak warga di titik lokasi diskusi bekerja sama.
“Kami bangun komunikasi dengan setiap penanggung jawab kegiatan untuk berkenan menyiapkan makanan dengan biaya operasional dari tim. Setiap singgah di satu titik, kami biasanya makan malam sebelum kegiatan dan paginya mereka siapkan sarapan,” ujar Graal.
Respons hangat warga
Dengan skema yang dipraktikkannya ini, tak disangka respons warga begitu luar biasa. Kata Graal, yang juga seorang pegiat politik gagasan ini, “Saya sangat terima kasih dong (warga) berkenan babarepot untuk menyiapkan makanan bagi torang. Lebih jauh, semoga apa yang kita lakukan ini bisa menjadi berkat bagi warga, meski tidak banyak.”
Warga terlihat sama sekali tidak merasa direpotkan. Di Palamea, warga siapkan dan menawarkan kamar jika ada tim yang mau sekadar istirahat. Di Laluin, ada warga berkata, “Kita so siapkan beberapa rumah untuk Pak Graal dan tim bisa bermalam. Jadi bisa istirahat dulu setelah kegiatan.”
Hal serupa juga ditawarkan warga Loleo Jaya, “Bermalam saja di sini sudah, di rumah kami. Tong tra merasa direpotkan. Jika kami so tarima, berarti kami so siap untuk bantu semua.”
Selalu ada jalan untuk hal-hal baik.
“Saya sangat bersyukur atas penerimaan dan kerja sama warga untuk melancarkan kegiatan ini. Mereka bahagia, saya juga. Energi itu terasa,” tutup R. Graal Taliawo. (ADV)
—–
Editor: Ghalim Umabaihi