Pemandangan alam Meti Cottage dilihat dari dodoku/jembatan Meti. (Foto: Rian Hidayat/cermat).
Alunan lembut musik klasik melantun dari lobi Meti Cottage, menyatu dengan deburan ombak konstan di tepi pantai. Instrumen piano karya musisi jazz Kenny G itu terasa magis, seolah membungkus ketenangan pulau dengan kemewahan yang memaksa waktu seperti melambat.
Desain interior bernuansa tropis dan bohemian di setiap sudut-sudut cottage juga menambah gairah tak biasa yang mungkin tidak lazim ditemukan. Bagi Anda yang ingin melupakan kebisingan kota sejenak, Meti Cottage barangkali jadi pilihan tepat.
Cara menikmati keistimewaan Meti Cottag tak hanya soal alunan musik klasik dan dekorasi ruangan artistik, suara alam dari kehidupan pesisir justru menjadi melodi yang cukup mendominasi.
Di siang hari, embusan angin yang menyibak helai rambut serta suara hilir mudik ketinting yang mengantar para pelancong jadi pemandangan utama. Kicauan burung sesekali melintasi udara.
Jangan lupa bahwa Pulau Meti punya bentangan air laut berggradasi sempurna–coraknya memancarkan warna hijau toska transparan hingga biru pekat dari kejauhan.
Di depan Pulau Meti yang masuk Kecamatan Tobelo Timur, Halmahera Utara, gugusan pulau-pulau membentang. Namun, Meti justru menyembunyikan diri di antara selat pulau-pulau itu.
Di tepi dermaga kecil Desa Mawea, berjejer perahu ketinting yang sigap mengantar pengunjung menuju Meti Cottage. Tak butuh waktu lama untuk menjumpai wisata ini. Hanya berkisar 10-15 menit dengan biaya Rp20 ribu per orang.
Kendati perjalanannya singkat, Anda bisa merasakan langsung pengalaman menaiki transportasi tradisional ditemani terpaan gelombang yang menghempas kemudi perahu. Dan tentu saja, pemandangan laut yang berpadu dengan bentang daratan pulau-pulau eksotik.
Mawea adalah desa terakhir bagi setiap pengunjung yang datang dari berbagai daerah dengan jalur berbeda, baik dari daratan Halmahera atau Kota Ternate–sebelum akhirnya menuju Pulau Meti.
Meti Cottage sejatinya punya banyak fasilitas yang bikin pengunjung bisa menikmatinya dengan beragam cara, mulai dari ruangan tidur berbentuk gazebo, tempat duduk santai, ruang pertemuan, hingga kamar menginap dengan desain alami. Meti Cottage juga menjadi lokasi ideal untuk berenang, snorkeling, dan berburu foto dengan latar belakang laut yang memukau.
“Kita ingin tempat ini menjadi rumah bagi mereka yang berkunjung,” ucap Adi, pengelola Meti Cottag yang berkesempatan diwawancarai cermat di sela kegiatan Capacity Building BI Malut bersama Media Partnert yang digelar di pulau ini, Rabu, 29 Juli 2026. Kru cermat juga diundang dalam acara tersebut dan turut menikmati pesona Pulau Meti.
Adi menjelaskan, Meti Cottage menyediakan sekitar delapan tempat tidur, di antaranya ada empat romatik room, tiga family room dan satu sweet room. “Dengan harga bervariasi,” katanya. Selain itu, adapula tempat tidur berbentuk gazebo bernuansa tradisional yang bisa jadi pilihan menginap dengan pemandangan menikmati pantai secara langsung.
Memasuki malam di Meti Cottage, suasana sepenuhnya berganti. Setelah melewati momen senjakala, lampu-lampu berwarna hangat mulai menyala di sepanjang kawasan cottage, bersatu dengan ornamen artistik yang makin memperkuat nuansa tropis.
Cahaya lampu dan sinar bulan memantul lembut di permukaan laut, mengiringi perbincangan para tamu. Sesekali, lantunan musik jazz Kenny G masih terdengar halus dari lobi.
Hal menarik lain ketika berada di kawasan Meti Cottage adalah menyaksikan aktivitas para pekerjanya yang tekun dan ramah. Setiap pagi, aktivitas mereka dimulai jauh sebelum wisatawan membuka tirai kamar. Ada yang membersihkan cottage, menyiapkan hidangan, merapikan area pantai, hingga memastikan dermaga siap menyambut tamu yang datang.
Mereka memahami bahwa kenyamanan pengunjung menjadi cerminan keramahan masyarakat Pulau Meti.
Demikian, kehadiran Meti Cottage tidak hanya menghadirkan destinasi wisata yang indah, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi warga sekitar.
Pariwisata ini diharapkan mampu mendorong pemberdayaan masyarakat melalui pelibatan tenaga kerja lokal, sehingga keindahan alam yang dinikmati wisatawan turut menghadirkan manfaat bagi warga setempat.
“Sekitar 80 persen karyawan di sini orang lokal, orang Meti,” kata Adi.
Saat berada di Meti, kru cermat memang berkesempatan mewawancarai Yanet (24 tahun), salah satu karyawan lokal Meti Cottage. Ia mengaku bangga bisa menjalani rutinitas sebagai cleaning service di wisata ini.
“Tentu saja senang bisa menjadi pekerja di sini. Juga bisa menopang ekonomi keluarga,” ujar Yanet.
Di balik keanggunan wisata ini, Meti Cottage menemukan keistimewaannya. Dari hamparan laut indah, ruangan artistik, hingga para pekerja yang ramah, ia mencerminkan bahwa pengelolaan destinasi wisata punya cara lain menyajikan “kecantikan”.
Karena itu, jika suatu hari Anda berkunjung ke Halmahera Utara, jangan lewatkan kesempatan singgah di Meti Cottage. Tempat ini bukan hanya layak dikunjungi, tetapi merupakan destinasi yang wajib masuk dalam daftar perjalanan bagi siapa pun yang ingin merasakan pesona bahari Maluku Utara.
Anggota DPD RI asal Maluku Utara, Dr. R. Graal Taliawo, menyebut pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU)…
Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku Utara mengajak puluhan jurnalis meningkatkan capacity building…
Bupati Pulau Morotai, Maluku Utara Rusli Sibua, menginstruksikan Dinas Kesehatan (Dinkes) agar seluruh Puskesmas Pembantu…
Pencabutan status daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) bagi Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara, menuai…
Kabar membanggakan datang dari dunia sepak bola Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara. Putra daerah, Salmin…
Pemerintah Kecamatan Maba Tengah, Kabupaten Halmahera Timur, melaporkan dugaan aktivitas pertambangan galian C yang dilakukan…