Berlangsung bedah buku dan diskusi di Kafe Cengkeh. Foto: Maharani/cermat
Nama-nama kampung di Kota Ternate bukan sekadar penanda wilayah. Di baliknya tersimpan jejak sejarah, kebudayaan, migrasi, hingga cara masyarakat masa lalu memandang alam dan kehidupan.
Hal itu mengemuka dalam diskusi sekaligus peluncuran buku karya Rafli Marwan tentang asal-usul nama kampung di Kota Ternate. Kegiatan tersebut berlangsung di Kafe Cengkeh, kawasan Benteng Oranje, Sabtu, 5 September 2026.
Buku tersebut menjadi upaya untuk menelusuri kembali makna di balik penamaan kampung yang selama ini banyak bertahan melalui ingatan masyarakat dan tradisi lisan.
Rafli mengatakan, proses penulisan buku tidak mudah. Salah satu tantangan yang dihadapinya adalah berhadapan dengan foso se boboso, yakni pantangan dan batasan tertentu dalam mengungkap cerita yang diwariskan secara turun-temurun.
Menurut dia, sejumlah narasumber menyimpan informasi yang sangat mendalam. Namun, tidak seluruh cerita dapat dituangkan ke dalam buku karena mempertimbangkan konsekuensi sosial serta nilai-nilai tertentu yang melekat dalam komunitas.
Ia mencontohkan kisah tentang Tabanga yang memiliki narasi mengenai kekuasaan, kepemimpinan, serta relasi laki-laki dan perempuan. Sebagian cerita tersebut akhirnya tidak ditulis secara utuh karena dinilai memiliki sensitivitas tersendiri.
Selain persoalan foso se boboso, keterbatasan akses terhadap narasumber juga menjadi tantangan. Tidak sedikit sumber hanya mengetahui sebagian cerita. Sementara narasumber yang memahami cerita secara lebih mendalam terkadang memiliki pertimbangan untuk tidak membuka seluruh informasi.
“Kadang narasumber hanya tahu setengah-setengah. Kalau hanya tahu setengah, cerita itu bisa berumur pendek,” kata Rafli menggambarkan tantangan dalam proses penelitiannya.
Dalam penulisan buku tersebut, Rafli menggunakan pendekatan toponimi, yakni kajian mengenai asal-usul dan makna penamaan suatu tempat.
Menurutnya, nama kampung di Ternate tidak muncul begitu saja. Sebagian berkaitan dengan tokoh, kondisi ekologis, karakter wilayah, hingga keberadaan kelompok masyarakat tertentu.
Narasumber lainnya, Rinto Taib, memperluas pembahasan mengenai hubungan antara nama tempat di Ternate dengan kosmologi, filsafat, dan pandangan teologis masyarakat terdahulu.
Menurut Rinto, leluhur Ternate tidak sekadar memberikan nama terhadap suatu wilayah. Mereka membaca lingkungan, pengalaman hidup, serta masa depan negeri melalui simbol-simbol tertentu.
Ia mencontohkan istilah seperti makiye ipoto, mabanga irubu, serta ma Ake iruwa ma bolehu i ahu yang menggambarkan hubungan antara manusia, alam, kesuburan, keberlimpahan, dan ruang kehidupan.
Karena itu, sebuah nama kampung dapat dipandang sebagai rekaman pengetahuan masyarakat masa lalu mengenai lingkungan dan ruang hidup mereka.
“Negeri ini bukan sekadar rekayasa teknis pembangunan fisik. Leluhur Ternate telah membaca dunia futuristik dan masa depan negeri,” ujar Rinto dalam diskusi tersebut.
Sementara itu, Soekarno M. Adam menilai buku Rafli Marwan dapat menjadi entry point atau pintu masuk bagi penelitian yang lebih luas mengenai sejarah dan identitas kampung-kampung di Ternate.
Ia menyebut masih terdapat sejumlah wilayah yang belum terjangkau dalam buku tersebut. Salah satunya Duba-Duba yang dinilai memiliki basis adat dan kekayaan budaya yang kuat.
Menurut Soekarno, keterbatasan tersebut justru dapat menjadi peluang untuk melanjutkan penelitian dan penulisan mengenai sejarah kampung di Ternate.
Ia juga mencontohkan sejumlah nama tempat yang diduga memiliki keterkaitan dengan keberadaan masyarakat Sula, seperti Facei, Faudu, Mangon, Falau, dan Sulamadaha.
Nama-nama tersebut, kata dia, menarik untuk dikaji lebih jauh karena berpotensi menjadi petunjuk mengenai pergerakan dan keberadaan kelompok masyarakat di masa lalu.
Persoalan utama dalam menggali sejarah Ternate dan Maluku Utara, lanjut Soekarno, adalah kuatnya tradisi sejarah lisan dibandingkan tradisi menulis.
“Takutnya para penutur itu sudah habis, maka sejarah itu ikut habis,” ujarnya.
Karena itu, buku Rafli Marwan dinilai penting sebagai langkah awal untuk mengubah ingatan kolektif yang selama ini diwariskan secara lisan menjadi dokumentasi tertulis yang dapat dikaji generasi berikutnya.
Diskusi tersebut pada akhirnya tidak hanya membicarakan asal-usul nama kampung. Lebih jauh, pembahasan membuka kesadaran bahwa nama sebuah tempat dapat menjadi pintu untuk memahami masyarakat yang membentuknya, hubungan manusia dengan alam, serta bagaimana sejarah dan kebudayaan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Buku Rafli diharapkan menjadi awal dari penelusuran yang lebih luas terhadap sejarah kampung-kampung di Ternate yang hingga kini masih menyimpan banyak cerita yang belum terdokumentasikan.
Pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Provinsi Maluku Utara…
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Maluku Utara mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi…
Praktisi hukum Maluku Utara, Rahim Yasim, memprotes tindakan pemotongan atau penertiban rumpon milik nelayan yang…
Polres Ternate memastikan laporan dugaan penganiayaan dan pengeroyokan terhadap seorang guru yang melibatkan anggota Polri…
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) memasuki hari kedua di Provinsi Maluku Utara, Minggu, 6 September 2026.…
Upaya memperkuat wawasan kebangsaan di kalangan generasi muda terus dilakukan. Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik…