News

Hudan Irsyadi Raih Anugerah Tokoh Akademisi Budaya di Festival Tara No Ate

Dosen Antropologi Sosial Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Hudan Irsyadi, menerima Anugerah Tokoh Akademisi Budaya dari Kesultanan Ternate dalam malam puncak Festival Tara No Ate, Sabtu, 24 Oktober 2026.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Permaisuri Kesultanan Ternate bersama Gubernur Maluku Utara. Festival yang dihadiri ribuan peserta dari berbagai wilayah di itu menjadi ruang apresiasi bagi individu, komunitas, dan lembaga yang berkontribusi dalam pelestarian serta pengembangan kebudayaan daerah.

Hudan dinilai memiliki rekam jejak dalam mengkaji dan merawat kebudayaan lokal, terutama tradisi lisan dan sastra lisan Maluku Utara. Akademisi lulusan magister Universitas Gadjah Mada itu juga aktif mendorong perlindungan cagar budaya serta menghubungkan hasil penelitian akademik dengan kehidupan masyarakat.

Sebagai Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Maluku Utara, Hudan konsisten menyuarakan pentingnya menjaga tradisi lisan Ternate dan Tidore di tengah perubahan sosial dan arus globalisasi.

Pada September 2012, misalnya, ia menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk “Tradisi Lisan di Ternate dan Tidore” yang diselenggarakan Ternate Heritage Society. Dalam forum tersebut, ia membahas “Tradisi Lisan di Ternate di Tengah Himpitan Globalisasi”.

Komitmen itu juga tercermin dalam sejumlah kajian akademiknya mengenai sastra lisan dan kearifan lokal, termasuk legenda Batu Tolu dan Batu Anyar serta Pulau Orang Kaya. Kajian-kajian tersebut merekam nilai dan pandangan hidup masyarakat yang diwariskan melalui cerita dari generasi ke generasi.

Di bidang perlindungan warisan sejarah, Hudan turut mengingatkan pentingnya menjaga peninggalan bersejarah Ternate. Ia pernah menyebut Ternate layak dijuluki “kota seribu benteng” karena kekayaan tinggalan sejarahnya.

Ia juga mengkritisi kebijakan pemerintah kota yang dinilai mengurangi kawasan cagar budaya dalam rancangan peraturan daerah. Menurut Hudan, perlindungan cagar budaya telah memiliki landasan hukum melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya sehingga tidak semestinya diabaikan.

Selain melalui penelitian dan forum diskusi, Hudan terlibat dalam kegiatan pemajuan kebudayaan bersama komunitas lokal. Ia pernah menjadi narasumber dalam lokakarya yang diselenggarakan Buku Suba Institute dengan tema “Ngofa Gam Nonako Budaya” atau anak negeri mengenal budaya.

Seusai menerima penghargaan, Hudan menegaskan bahwa apresiasi tersebut bukan semata-mata pencapaian pribadi.

“Penghargaan ini bukan hanya milik saya pribadi, tetapi milik Universitas Khairun dan seluruh masyarakat Maluku Utara yang terus menjaga warisan budayanya,” ujar Hudan.

Sejumlah Pelaku Budaya Turut Mendapat Penghargaan

Selain Hudan, Festival Tara No Ate memberikan penghargaan kepada sejumlah individu, komunitas, dan lembaga yang dinilai berkontribusi dalam pelestarian kebudayaan dan pengembangan potensi daerah.

Anugerah Pelestari Budaya diberikan kepada Pengrajin Tuala Lipa, yang berperan menjaga keberadaan penutup kepala tradisional Ternate. Kerajinan tersebut memiliki nilai filosofis dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.

Anugerah Tokoh Inspiratif Kebudayaan diraih Dr. Agus Salim Bujang. Sementara itu, Anugerah Sanggar Seni diberikan kepada Sanggar Teater Anak Bangsa, yang dikenal melibatkan anak-anak dari pulau-pulau sekitar Ternate melalui program “Teater Masuk Kampung”.

Adapun Buku Suba Institute menerima Anugerah Komunitas Budaya atas keterlibatannya dalam riset dan penerbitan kajian kearifan lokal Ternate. Lembaga ini turut mendokumentasikan tradisi masyarakat, termasuk Tuala Lipa, Ngogu Adat, dan Fere Kie.

Di bidang media dan pengembangan usaha, Malut Post menerima Anugerah Media Partner Terbaik. KTH Buku Manyeku dari Pulau Hiri meraih Anugerah UMKM Inspiratif melalui produk Minyak Cengkeh Hiri yang diolah dari daun cengkih.

Sementara itu, Bank Indonesia menerima Anugerah Mitra Pendukung Festival atas dukungannya terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Pemberian penghargaan kepada akademisi, pelaku seni, komunitas budaya, media, dan pelaku usaha memperlihatkan beragam peran dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan Maluku Utara.

Malam puncak Festival Tara No Ate ditutup dalam suasana khidmat. Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat keterlibatan berbagai pihak dalam merawat warisan budaya, bukan hanya sebagai identitas masyarakat, tetapi juga sebagai pengetahuan dan nilai yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.

redaksi

Recent Posts

BBM Langka di Pulau Taliabu, Dijual Rp35ribu Perliter

Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite dan Pertamax di Pulau Taliabu, Maluku Utara, kehabisan stok…

20 menit ago

Imbas Kenaikan Dollar, PAD di Pulau Taliabu Melemah

Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui retribusi Tenaga Kerja Asing (TKA) di Pulau Taliabu, Maluku Utara…

1 jam ago

Kunjungan Pengawasan ke Maba Utara, R. Graal Taliawo: Menjangkau yang Jauh, Merangkul yang Ditinggal dan Terisolasi

Perjalanan panjang kunjungan pengawasannya kali ini, Graal maknai untuk menjangkau yang jauh, merangkul yang ditinggal…

3 jam ago

Pelanggaran yang Disasar Saat Operasi Patuh di Morotai

Pelanggaran melawan arus hingga tidak menggunakan helm menjadi sasaran Operasi Patuh Kie Raha 2026 yang…

8 jam ago

Krisis Sosial Eropa dan Pelajaran untuk Indonesia

Eropa sedang tidak baik-baik saja. Bukan karena perang di perbatasan, melainkan karena sesuatu yang jauh…

8 jam ago

Polri Bersama Gekrafs Lakukan MoU, Komitmen Lindungi Karya dan Dorong Potensi Ekraf

Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) bersama Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS) menjalin kerja sama melalui…

1 hari ago