Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Ternate, Rizal Marsaoly, dijadwalkan mendampingi Gubernur Maluku Utara dalam kunjungan ke Kecamatan Batang Dua pada 12 April mendatang. Penugasan tersebut berdasarkan surat resmi dari Gubernur kepada Wali Kota Ternate.
Rizal mengungkapkan, dirinya telah berkoordinasi dengan Wali Kota Ternate dan diminta untuk segera bergabung dalam agenda tersebut guna memastikan penanganan dampak gempa berjalan optimal di lapangan.
“Keberangkatan ke Batang Dua tanggal 12. Saya sudah mendapat arahan dari Pak Wali untuk mendampingi Ibu Gubernur ke sana,” ujar Rizal. Selasa, 7 April 2026.
Dalam keterangannya, Rizal menjelaskan bahwa progres penanganan di Batang Dua terus berjalan, termasuk mobilisasi logistik tahap kedua yang sebelumnya dipimpin langsung oleh wali kota. Distribusi bantuan tersebut dinilai sangat membantu sekitar 1.900 pengungsi yang masih bertahan di sejumlah titik pengungsian.
Selain itu, terdapat sekitar 233 fasilitas terdampak gempa, meliputi rumah warga, fasilitas pendidikan, perkantoran, hingga rumah ibadah. Saat ini, pemerintah tengah melakukan klasifikasi tingkat kerusakan rumah, mulai dari rusak berat, sedang, hingga ringan.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Ternate juga telah mengambil langkah strategis dengan menyurati pemerintah pusat. Walikota, kata Rizal, telah mengirim surat kepada Menteri Perumahan Rakyat untuk meminta dukungan perbaikan rumah warga melalui program rumah tidak layak huni (RTLH).
“Fokusnya adalah pembenahan rumah warga di Batang Dua yang mengalami kerusakan. Karena kita juga harus memastikan apakah struktur bangunan masih layak dihuni atau tidak,” jelasnya.
Tak hanya itu, Pemkot Ternate juga menyurati Menteri Keuangan guna mempercepat penyaluran dana bagi hasil (DBH) kurang salur sebesar kurang lebih Rp66 miliar. Dana tersebut dinilai sangat dibutuhkan untuk mendukung penanganan bencana di daerah.
“Dengan kondisi saat ini, kami berharap ada perhatian dari pemerintah pusat, terutama untuk percepatan penyaluran anggaran,” tambahnya.
Terkait kondisi pengungsi, Rizal menyebut sebagian warga masih bertahan di tenda-tenda darurat, baik di lokasi pengungsian resmi maupun di sekitar rumah masing-masing. Aktivitas warga pun masih diwarnai trauma, bahkan pelaksanaan ibadah masih dilakukan di luar bangunan.
“Trauma itu pasti ada. Sehingga ke depan perlu ada program trauma healing yang terukur, melibatkan tenaga profesional seperti psikolog,” katanya.
Namun demikian, Rizal menilai peran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sangat krusial dalam proses pemulihan psikologis masyarakat. Edukasi terkait kondisi gempa dan potensi susulan dinilai mampu meningkatkan rasa aman warga.
“Masyarakat butuh kepastian informasi. Ketika BMKG menyampaikan bahwa intensitas gempa menurun, itu membuat mereka lebih percaya diri,” ujarnya.
Ia juga mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap gempa susulan, meski intensitasnya diperkirakan semakin menurun. Untuk sementara waktu, warga diminta tetap bertahan di tenda pengungsian demi keselamatan.
Sementara itu, bantuan tahap ketiga juga direncanakan segera disalurkan, baik dari pemerintah provinsi maupun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), seiring dengan koordinasi lanjutan antara pemerintah daerah dan kementerian terkait.
“Ini akan terus berproses. Bantuan tahap berikutnya juga sedang disiapkan,” tutup Rizal.
Dalam rangka memperingati Milad ke-15, Dewan Pengurus Komisariat Federasi Pertambangan dan Energi (DPK FPE) PT…
Pemerintah Kota Ternate menggelar entry meeting bersama Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dalam rangka persiapan pemeriksaan…
Dugaan investasi bodong kembali terjadi di Kota Ternate, Maluku Utara, dan kali ini menelan kerugian…
Sekretaris Daerah (Sekda) Halmahera Timur, Ricky Chairul Richfat, memimpin rapat koordinasi terkait kesiapan pelaksanaan pemilihan…
Dalam dialog publik yang digelar AMPP Togammoloka, Provinsi Maluku Utara, Rektor Universitas Pasifik, Irfan Hi.…
Tim penyidik Bidang Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Maluku Utara memeriksa mantan Ketua Komite Olahraga Nasional…