Categories: News

Pertemuan Daerah WALHI Malut Tegaskan Perlawanan Ekstraktivisme di Bumi Kie Raha

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Maluku Utara resmi menggelar Pertemuan Daerah Lingkungan Hidup (PDLH) ke-6 di Hotel Jati Ternate, pada 12-13 Februari 2026.

Forum tertinggi organisasi ini mengusung misi besar untuk mengevaluasi sekaligus memperkuat barisan menghadapi ancaman industri ekstraktif yang kian masif di wilayah Maluku Utara.

Direktur Eksekutif Daerah WALHI Maluku Utara, Faisal Ratuela, dalam sambutannya menegaskan bahwa perjalanan WALHI Malut selama ini adalah sejarah panjang perlawanan terhadap perusakan sistem ekologi.

Ia menyebut, fase keenam ini menjadi krusial karena tekanan terhadap ruang hidup masyarakat lokal terus meningkat akibat kebijakan yang tidak berpihak pada lingkungan.

“Kita besar dan terdidik dengan memahami ekosistem serta tradisi lokal yang kuat. PDLH ini adalah panggilan bagi para pejuang rakyat di Maluku Utara untuk kembali mengonsolidasikan diri, memastikan tidak ada lagi perampasan ruang hidup di negeri yang kita cintai ini,” tegas Faisal di hadapan para delegasi anggota lembaga.

Faisal juga menyoroti tema kegiatan, yakni “Pulihkan Maluku Utara dari Cengkraman Rezim Ekstraktivisme, Wujudkan Keadilan Spasial dan Antar Generasi”. Menurutnya, narasi pembangunan saat ini justru sering kali menjadi alat penghancur tatanan sosial dan alam yang sudah ada sejak lama.

Senada dengan Faisal, perwakilan Eksekutif Nasional WALHI, Tubagus Soleh Ahmadi, yang hadir sekaligus membuka kegiatan tersebut, melontarkan kritik tajam terhadap tren industri nikel di Maluku Utara.

Ia mengingatkan bahwa narasi transisi energi hijau yang sering digaungkan pemerintah pusat membawa dampak buruk yang nyata bagi warga pesisir dan hutan di Maluku Utara.

“Maluku Utara sedang tidak baik-baik saja. Pembangunan masif, terutama industri pertambangan yang diklaim sebagai transisi energi, nyatanya menjadi ancaman serius bagi keselamatan rakyat,” ujar Tubagus.

Tubagus menekankan bahwa PDLH VI bukan sekadar ajang rutin empat tahunan untuk mengganti kepemimpinan di tingkat daerah. Lebih dari itu, forum ini adalah ruang evaluasi mandat perjuangan dan penyusunan strategi politik lingkungan hidup yang harus tetap konsisten berpihak pada rakyat adat dan lokal.

“Setiap kebijakan yang lahir dari forum ini harus mampu menjawab kebutuhan mendesak masyarakat yang tengah berjuang mempertahankan tanahnya di tengah kepungan regulasi yang membatasi ruang hidup,” tambahnya.

PDLH VI ini dijadwalkan akan berlangsung selama beberapa hari ke depan dengan agenda utama evaluasi kinerja kepengurusan, perumusan mandat organisasi, hingga pemilihan Direktur Eksekutif Daerah dan Dewan Daerah WALHI Maluku Utara untuk periode mendatang.

redaksi

Recent Posts

Sambut Hari Jadi Propam Polri Ke-24, Polres Taliabu Salurkan Bansos

Polres Pulau Taliabu, Maluku Utara menyalurkan Bantuan Sosial (Bansos) sebanyak 20 paket Sembilan Bahan Pokok…

2 jam ago

Dugaan Galian C Ilegal di Jalan Villa Dukono Kembali Beraktivitas, Pencopotan Garis Polisi Dipertanyakan

Aktivitas galian C yang diduga ilegal di Jalan Villa Dukono, Desa Gosoma, Kecamatan Tobelo, Kabupaten…

3 jam ago

Event TEMU 2026 Sajikan Kelas Puisi di IAIN Ternate

Rumah Literia bersama Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) IAIN Ternate menggelar kelas menulis puisi bertajuk “Merangkai…

5 jam ago

Mahasiswa UNUTARA Aksi, Soroti Mandeknya Perkuliahan hingga Hak Dosen

Sejumlah mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara (UNUTARA) menggelar demonstrasi di depan kampusnya, pada Selasa,…

6 jam ago

Aktivitas Penyeberangan Taman Kota Daruba Akan Dipindah ke Waterfront City 2

Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, berencana memindahkan aktivitas penyeberangan dari Dermaga Taman Kota Daruba…

6 jam ago

Polisi Diminta Tak Sudutkan Suku Nomaden di Kasus Ali Daud

Yayasan Sosial Ekologi Maluku Utara (Salawaku) meminta Polda Maluku Utara tidak menyudutkan suku nomaden yang…

8 jam ago