Taman Kota Daruba, Pulau Morotai, Maluku Utara menjadi salah satu pilihan warga untuk menghabiskan waktu malam, mulai dari bersantai bersama keluarga hingga menikmati jajanan pedagang. Foto: Aswan Kharie/cermat
Malam membawa suasana berbeda di Taman Kota Daruba, Pulau Morotai, Maluku Utara. Di bawah cahaya lampu jalan, deretan sepeda motor terparkir di sisi kawasan. Sejumlah pedagang masih melayani pembeli, sementara anak-anak muda berkumpul bersama teman dan keluarga menikmati waktu di ruang terbuka.
Di antara aktivitas tersebut, Iqiu tetap melayani pelanggan di kedai Bocor Coffee. Sudah dua tahun ia menjalankan usaha minuman di kawasan itu, menawarkan kopi, cokelat, dan teh yang disajikan panas maupun dingin.
“Sudah dua tahun berjualan di sini. Yang saya jual itu cuma kopi, cokelat, dan teh, ada yang dingin dan panas,” kata Iqiu saat ditemui di lokasi, Sabtu, 10 Oktober 2026.
Harga minuman yang ditawarkan berkisar Rp10 ribu hingga Rp18 ribu per gelas. Bagi Iqiu, penjualan setiap malam sangat bergantung pada jumlah pengunjung yang datang.
“Penghasilan itu tergantung keramaian. Per malam bisa untung Rp100 ribu sampai Rp150 ribu,” ujarnya.
Ia mengaku menetapkan harga dengan mempertimbangkan kemampuan ekonomi masyarakat. Dengan begitu, pengunjung tetap bisa menikmati minuman tanpa harus mengeluarkan biaya terlalu besar.
“Karena saya menjual ini dengan harga merakyat, mengikuti kondisi ekonomi masyarakat,” tuturnya.
Bagi Iqiu, keramaian Taman Kota Daruba bukan sekadar pemandangan malam. Aktivitas warga di kawasan tersebut turut membuka peluang bagi usahanya untuk memperoleh penghasilan.
Namun, ia berharap pemerintah daerah lebih sering menggelar kegiatan di taman agar semakin banyak masyarakat yang datang. Selain itu, ketersediaan fasilitas umum juga menjadi perhatian, terutama toilet yang dapat digunakan pengunjung.
“Kami berharap agar diperbanyak event di Taman Kota Daruba, kemudian disediakan WC umum,” kata Iqiu.
Ia juga menyinggung kontribusi yang dibayarkan pedagang kepada Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Perindagkop) sebesar Rp5.000, yang menurutnya dibayarkan hampir setiap malam.
“Padahal kita hampir tiap malam bayar uang kontribusi ke Perindagkop Rp5.000. Untuk fasilitas publik daerah,” ujarnya.
Harapan tersebut memperlihatkan bahwa bagi pedagang, keberadaan taman tidak hanya berkaitan dengan tempat berjualan. Fasilitas yang memadai dan kegiatan yang mampu menarik pengunjung juga menjadi bagian penting untuk mendukung keberlangsungan usaha mereka.
Di sisi lain, Taman Kota Daruba memiliki arti tersendiri bagi orang-orang yang datang untuk bersantai. Lokasinya yang berada di pusat kota membuat kawasan ini mudah dijangkau, baik untuk sekadar membeli minuman maupun menghabiskan waktu bersama orang terdekat.
Yasir, salah satu pengunjung, mengatakan kedekatan lokasi menjadi alasan taman tersebut kerap dipilih masyarakat sebagai tempat bersantai.
“Yang pertama itu, kalau di Morotai, Taman Kota menjadi sasaran tempat santai karena jarak dekat di dalam pusat kota,” kata Yasir.
Menurut dia, harga minuman yang terjangkau turut menjadi daya tarik, termasuk kopi yang dijual di kedai Bocor Coffee. Suasana taman juga membuatnya nyaman untuk menghabiskan waktu di luar rumah.
“Kemudian harga kopinya terjangkau karena lebih murah, apalagi di kedai Bocor Coffee. Terus, Taman Kota juga jadi tempat ternyaman,” ujarnya.
Yasir mengaku lebih banyak menghabiskan waktu di kawasan itu bersama keluarga. Sesekali, ia juga datang untuk berkumpul dengan teman-temannya.
“Saya lebih banyak menghabiskan waktu di sini dengan keluarga dan kadang juga dengan teman-teman,” tuturnya.
Bagi Yasir, menikmati waktu luang tidak selalu membutuhkan perjalanan jauh atau biaya besar. Berada di taman, membeli minuman, dan bercakap-cakap bersama orang terdekat sudah cukup untuk menghadirkan suasana berbeda dari rutinitas sehari-hari.
Pengalaman Iqiu dan Yasir memperlihatkan dua sisi kehidupan yang bertemu di satu tempat. Bagi pedagang, keramaian menjadi peluang mencari penghasilan. Sementara bagi pengunjung, taman menawarkan ruang untuk beristirahat, bersosialisasi, dan menikmati kebersamaan.
Di tengah aktivitas tersebut, kenyamanan fasilitas publik tetap menjadi hal yang perlu diperhatikan. Penerangan, kebersihan, toilet umum, bangku, serta akses pedestrian menjadi bagian penting agar masyarakat dapat menggunakan kawasan itu dengan aman dan nyaman.
Di antara lapak minuman, kendaraan yang terparkir, dan percakapan pengunjung, taman menjadi ruang tempat berbagai kepentingan bertemu.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pulau Morotai, Maluku Utara, mendorong Pemerintah Desa Juanga, Kecamatan Morotai Selatan,…
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pulau Taliabu, Maluku Utara resmi melakukan penyaluran dana bantuan Asistensi Rehabilitasi Sosial…
Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Pulau Taliabu, Maluku Utara kembali berganti.…
Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) memasuki fase baru pengembangan ekosistem industri setelah Presiden Republik…
Kementrian Pertanian resmi mendistribusikan pupuk organik sebanyak 346,6 Ton untuk penanaman dan peremajaan kelapa di…
Jajaran Polres Pulau Morotai, Maluku Utara menyalurkan bantuan sembako kepada keluarga korban meninggal dunia akibat…