News

El Nino Ancam Taliabu, Pemkab Siapkan Cadangan Air dan Satgas

Pemerintah Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara, mulai mengantisipasi ancaman kemarau panjang atau El Nino yang berpotensi berdampak terhadap pertanian dan ketersediaan air masyarakat.

Sekretaris Kabupaten (Sekab) Pulau Taliabu, Yosar Kardiat, mengatakan kondisi tersebut perlu diantisipasi sejak dini dengan memetakan wilayah terdampak serta memperkuat sumber daya air.

“Jadi, kita akan melakukan pemetaan wilayah yang berdampak dan petakan wilayah kalender, serta penguatan sumber daya air. Takutnya akan terjadi kekeringan, sehingga kita dapat memiliki cadangan air,” kata Yosar kepada Cermat, Kamis (13/8/2026).

Menurut dia, Pemkab Taliabu juga akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat, terutama petani, agar penggunaan air lebih efisien sekaligus menjaga produktivitas pertanian yang menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat.

“Sekarang, kita harus melakukan efisiensi air dan memberikan pemahaman terhadap masyarakat bahwa kondisi kita saat ini lagi menghadapi musim El Nino atau musim kemarau panjang,” ujarnya.

Yosar mengatakan, jika kemarau berkepanjangan berdampak pada lahan pertanian, pemerintah daerah akan membutuhkan Satuan Tugas (Satgas) yang dapat melakukan intervensi langsung di lapangan.

“Kalau ada petani yang terdampak, maka satgas yang mengintervensi langsung di lapangan. Karena ini bukan hanya kemarau panjang, melainkan efek yang ditimbulkan oleh lahan yang terdampak kekeringan,” jelasnya.

Selain itu, Pemkab Taliabu akan memperkuat peran penyuluh pertanian untuk mendampingi petani sekaligus menyiapkan strategi menghadapi kondisi kering.

“Kami juga akan memberikan penguatan-penguatan terhadap penyuluh untuk melakukan pendampingan dan mempunyai strategi dalam menghadapi musim kemarau,” tambahnya.

73,8 Persen Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau

BMKG sebelumnya memprediksikan kondisi iklim hingga akhir Juli 2026 menunjukkan atmosfer yang semakin mendukung kondisi kering di Indonesia.

Fenomena El Nino kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang cenderung positif menjadi faktor dominan yang berkontribusi terhadap berkurangnya suplai hujan.

BMKG mencatat sekitar 73,8 persen wilayah Indonesia atau 516 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau.

Kondisi kering juga terlihat dari distribusi curah hujan Dasarian III Juli 2026 yang didominasi kategori rendah. Sekitar 76,3 persen wilayah Indonesia mengalami sifat hujan di bawah normal.

Kondisi tersebut diperkirakan masih berlanjut pada awal Agustus dan berpotensi meningkatkan risiko kekeringan meteorologis serta kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah.

redaksi

Recent Posts

Sempat Jadi Sorotan Publik, Polda Malut Hentikan Kasus Dugaan Penjualan Ore Nikel di Haltim

Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Maluku Utara menyatakan tidak menemukan unsur tindak pidana dalam…

2 jam ago

NHM Ajak Warga Gamlaha dan Bobale Jaga Laut Lewat Lomba Mancing

PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) mengajak masyarakat Desa Gamlaha dan Desa Bobale, Kecamatan Kao Utara,…

2 jam ago

Kajati Roberthus Disambut dengan Joko Kaha saat Tiba di Maluku Utara

Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Maluku Utara, Roberthus Melchisedek Tacoy, bersama Ketua Ikatan Adhyaksa Dharmakarini (IAD)…

2 jam ago

Polda Malut Pastikan Kasus Dugaan Korupsi Dana Desa Taliabu Terus Berlanjut

Polda Maluku Utara memastikan penyidikan kasus dugaan korupsi pemotongan anggaran Dana Desa (DD) di Kabupaten…

2 jam ago

Warga RT 9 Moya, Ternate, Bebas dari Krisis Air Bersih Setelah 20 Tahun

Upaya Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Ake Gaale akhirnya berbuah hasil—mengakhiri krisis air bersih selama 20…

13 jam ago

Sejumlah Galian C Taliabu Masuk Pemetaan, Lokasi Berisiko Tinggi Bisa Dihentikan

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pulau Taliabu, Maluku Utara, akan meninjau lima lokasi penambangan pasir dan batuan…

16 jam ago