Perspektif

Idul Fitri, Iptek dan Gusumi/Jole

Oleh: Agus SB

 

“BINGUNG!”, kata yang spontan meluncur dari gumaman saya ketika keluar dari pagar masjid Kayu Merah di malam tanggal 29 Agustus (2011/1432 H) lalu. Usai shalat magrib, ada di antara jamaah yang tanpa komando melantunkan takbir.

Tak lama, jamaah lain menginterupsi; “ini belum Idul Fitri!”. Bubar. Giliran usai shalat Isya, jamaah masjid ini bersitegang tentang apakah melanjutkan shalat taraweh ataukah menunggu keputusan penetapan Idul Fitri dari Kementerian Agama RI. Jamaah sepakat menunggu hasil keputusan kementerian yang mengurus agama itu. Saya tak lagi balik ke masjid untuk menunaikan taraweh meskipun kementerian itu memutuskan menurut metode rukhyat dan Idul Fitri jatuh pada Rabu 31 Agustus 2011.

Metode Rukhyat maupun Hisab yang digunakan untuk menentukan hari raya Idul Iitri bersandar pada pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi yang melahirkannya. Kedua metode berpangkal pada potensi dasar manusia yang melahirkan pengetahuan (knowledge), ilmu pengetahuan (science) dan teknologi; mata biologis dan akal/nalar matematik.

Malam itu memang terasa membingungkan. Kebingungan yang lahir dari hasrat pada yang pasti atau kepastian mengenai sesuatu yang ingin diketahui, ingin dipastikan. Hasrat dan kebingungan kepada yang Pasti atau Kepastian menyebabkan manusia mencoba dan menyeleksi berbagai cara untuk sampai pada “yang pasti”, “yang benar” atau “kebenaran”.

Hasrat kepada yang Pasti atau Kepastian menyebabkan kaum muslim, termasuk jamaah masjid di Kayu Merah misalnya, kebingungan pada malam-malam jelang idul fitri lantaran pengetahuan tempatan yang pernah mereka warisi dari leluhur tidak lagi fungsional untuk memenuhi hasrat mereka kepada yang pasti.

Hasrat dan kebingungan pada kepastian, barangkali karena itu, merupakan awal bagi manusia menyusun pengetahuan dan cara mengetahuinya untuk memenuhi keingintahuannya tentang dunia sosial dan semesta alam. Semua manusia, karena itu, dulu maupun kini, memiliki pengetahuan untuk mengetahui dan memahami segala sesuatu dengan cara tertentu untuk memenuhi kepentingan dan kebutuhan mengetahui.

Penemuan atau sebuah penjelasan mengenai sesuatu membuat manusia merasa pasti dan merasa telah memiliki kebenaran. Tetapi hasrat pada yang pasti, langsung ataupun tidak, juga memicu dan melahirkan persaingan dan dominasi tidak hanya satu pengetahuan atas pengetahuan lainnya, dominasi satu sumber otoritas pengetahuan atas sumber otoritas pengetahuan lainnya, tetapi juga metode yang satu atas metode lainnya.

Upaya manusia menyusun pengetahuannya, sebagian, dipenuhi oleh agama-agama langit dan sebagian dari upaya kreatif manusia. Kita, karena itu, kemudian menemukan berbagai pengetahuan yang ada pada kebudayaan di berbagai belahan bumi, dulu maupun kini, mengenai berbagai jenis masalah dalam hidup yang tak terelakkan dihadapi manusia.

Kecuali agama langit, pengetahuan di dalam berbagai kebudayaan di muka bumi itu di dalam literatur Antropologi dikenal sebagai pengetahuan tempatan (local knowledge). Kelahiran dan pertumbuhan pengetahuan ini merupakan akumulasi pengalaman manusia di dalam berinteraksi dengan dunia sosialnya dan semesta alamnya.

Jenis pengetahuan tempatan itu dikenal sebagai knowledge dan tampaknya dikategorikan sebagai pengetahuan common sense yang dipandang lebih rendah mutunya daripada jenis pengetahuan yang dinamakan science. Aliran Positivisme dalam pemikiran ilmu sosial humaniora misalnya, memandang bahwa dalam beberapa cara mencari (seek) kebenaran (truth), science adalah spesial, sebuah cara terbaik.

Pengetahuan ilmiah adalah lebih baik daripada dan akhirnya menggantikan cara-cara yang inferior dalam memperoleh pengetahuan seperti magic, agama, astrologi, pengalaman personal, tradisi. Science meminjam beberapa ide dari common sense, tetapi kemudian mengganti bagian-bagian dari (pengetahuan, pen) common sense yang lemah, yang secara logis tidak konsisten, tidak sistematik dan penuh bias (prasangka).

Komunitas ilmuwan—dengan norma-norma, sikap-sikap ilmiah dan teknik-teknik yang khusus—secara teratur dapat menghasilkan “Kebenaran” (truth). Sebaliknya common sense tidak konsisten dan jarang (mencapai hal itu, pen) (Neuman 1991: p. 63-87).
Pengetahuan tempatan atau common sense ini setua keberadaan manusia itu sendiri dan inheren pada setiap kebudayaan manusia di sepanjang sejarahnya hingga kini.

Sementara konsepsi tentang ilmu, seperti dikemukakan Ernst Cassirer (1987:315) baru muncul setelah tampil beberapa pemikir besar Yunani meskipun kemudian terlupakan pada abad-abad berikutnya. Periode Renaisance, konsepsi ilmu itu digali dan dikukuhkan kembali. Sesudah penemuan kembali ini, kata Cassirer, kejayaan ilmu tampak sempurna dan tak tertandingi.

Ilmu diyakini, lanjut Cassires, sebagai puncak dan penyempurnaan semua aktivitas manusiawi, bab terakhir dalam sejarah umat manusia dan pokok terpenting dalam filsafat manusia (Ibid).

Maka tak heran Agama pun (yang saya maksudkan seperti Islam dan Kristen) tidak dapat mengelak dari dan telah mengapropriasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilahirkannya sebagai alat bantu yang dipercaya dapat memberi penjelasan dan kepastian atas keyakinan keagamaan ketika keyakinan tersebut memerlukan pembuktian empiris seperti penentuan hari dan tanggal hari raya idul fitri 1432 H.

Sementara agama hingga kini tetap dianut dan diyakini manusia sehingga, secara Sosiologis, posisinya dapat dikatakan (masih?) setara dengan ilmu pengetahuan (science) yang dianut manusia, common sense terbungkam dan marginal.

Seperti ilmu pengetahuan dan agama Islam, pengetahuan common sense juga terdiri atas berbagai pengetahuan menyangkut berbagai aspek kehidupan manusia pendukungnya. Meskipun pada tataran tertentu dalam domain tertentu kehidupan manusia dimana praktek pengetahuan tempatan (common sense) masih dapat ditemui, tetapi pada taran lain dari domain yang sama dari kehidupan manusia dimana agama dan ilmu pengetahuan ilmiah telah menjadi sangat dominan. Pengetahuan common sense jadinya makin tak memiliki “suara” seiring gerakan modernisme dan modernisasi yang menyapu seluruh dunia hingga Maluku Utara.

Perembesan itu makin kencang sebagai akibat iptek ditularkan melalui teknologi komunikasi/informasi, dan melalui pendidikan sekolahan, proses medikalisasi dalam domain kesehatan manusia, melalui ekonomi uang, dan melalui modernisasi pertanian, sebagai contoh. Kekuatan perembesan iptek yang makin kuat dan mendominasi common sense berasal dari fakta bahwa hal itu ditopang oleh negara-bangsa yang berkepentingan dengan pembangunan menurut model developmentalisme.

Seperti ranah kehidupan manusia lainnya di Maluku Utara, pengetahuan tempatan (local knowledge) atau common sense yang mulanya memberi keyakinan akan kepastian dalam melaksanakan ritual keagamaan seperti Idul Fitri jadinya marginal dan goyah, bahkan tak lagi mendapat dukungan masyarakat pewarisnya sendiri, di kota maupun di desa. Tidak hanya berlaku bagi mereka yang setiap saat mengecap ilmu pengetahuan dan teknologi (kaum terpelajar) tetapi juga bagi masyarakat kebanyakan.

Pengetahuan tempatan tersebut di antaranya berkenaan dengan pembacaan terhadap tanda-tanda alam yang dinamakan “gusumi” dalam bahasa Ternate (?) atau “Jole” dalam bahasa Galela/Morotai. Gusumi atau Jole adalah sejenis rumput yang biasanya mengapung (?) di air laut dekat pantai pada waktu jelang idul fitri/pergantian bulan. Diyakini jika jenis rumput itu telah terlihat mengapung di laut pantai, maka kaum muslim telah dapat merayakan idul fitri keesokan harinya. Seiring dengan tanda alam itu adalah naiknya permukaan air laut yang menyebabkan air pasang menyapu pesisir pantai.

Apa yang berbeda sehingga gusumi atau Jole tidak dapat digunakan sebagai penanda tibanya Idul Fitri dibandingkan dengan metode melihat bulan (hilal) dan metode perhitungan perputaran bulan (hisab)? Jika metode rukhyat dan hisab juga mengacu pada tanda alam dimana yang satu dibuktikan dengan cara melihat melalui teknologi perpanjangan mata biologis, maupun dengan mata telanjang, dan lainnya dibuktikan dengan nalar penghitungan Falak tentang perputaran bulan, yang berarti hanya menandai siklus alam berdasarkan peredaran bulan, bukankah Gusumi atau Jole juga merupakan penanda siklus alam yang merupakan bagian dari pengetahuan manusia yang merupakan akumulasi pengalaman empirik?

Jika kaum Positivis menganggap pengetahuan common sense dipenuhi prasangka (bias), tidakkah metode ilmu pengetahuan yang dipilih juga mengandung bias dengan kepentingan tertentu? Jika mengatakan gusumi/jole tidak valid dan sahih untuk digunakan sebagai acuan menentukan jatuhnya hari idul fitri, hal itu juga mestinya melalui pengujian empiris.

Pengetahuan tempatan tentang tanda alam berupa Gusumi atau Jole yang sejak lama dimiliki dan diwarisi kaum muslim Maluku Utara, faktanya memang berada pada posisi marginal bahkan tak lagi seksi lantaran hegemoni ilmu pengetahuan ilmiah dan teknologi dalam kesadaran para pewaris pengetahuan tempatan. Karena itu, pengetahuan mengenai tanda alam yang menunjukkan pergantian bulan menurut siklus berulang gusumi atau jole kini hanyalah artefak yang bisanya hanya dikenang.

Sementara itu, meskipun kementerian agama RI telah memberi keputusan pasti bahwa idul fitri jatuh pada hari Rabu, 31 Agustus (2011), pun tampaknya kita masih merasa tak pasti lantaran perbedaan pendapat akibat perbedaan metode yang tak terdamaikan atau, tepatnya, tak terselesaikan. Kepastian hanya dimiliki Allah SWT. Sedangkan saya, mungkin juga anda pembaca, tetaplah rapuh dalam mencari kepastian/kebenaran betapapun Tuhan telah menganugerahkan mata dan akalbudi untuk beriktiar. Apa yang kita namakan “kepastian” juga terkandung potensi “ketidakpastian” [KM.29/08/11].


[Tulisan ini pernah dimuat pada harian Posko Malut, 29 Agustus, 2011, kemudian diterbitkan dalam buku kumpulan tulisan “Sudut Pandang. Perspektif Anak Negeri”, Editor Abdurrahim Thalib, co-editor Rahmat R. Wali, Malang, Intelegensia Media, 2022. Diterbitkan kembali oleh cermat atas permintaan penulis untuk mengedukasi publik di tengah perbedaan keputusan 1 Syawal antara Muhammadiyah dan pemerintah tahun ini].

*Penulis adalah dosen IAIN Ternate yang kini menempuh pendidikan S3 di UGM Yogyakarta 

redaksi

Recent Posts

Jakofi dan Proyek Kebaikan

“Saya pernah bertanya pada Sultan Tidore, Ou (sebutan untuk sultan) mau jadi apa? Ou bilang:…

2 hari ago

Cuaca Buruk Hantam Pelabuhan Wayabula Morotai, Warga Diimbau Waspada

Video yang memperlihatkan cuaca buruk di Dermaga Wayabula, Kecamatan Morotai Selatan Barat, Pulau Morotai, Maluku…

2 hari ago

Cara Mereka Menjaga Kampung

Perkumpulan Fakawele kembali menyelenggarakan Sekolah Relawan Kampung (SRK) sebagai ruang belajar bagi generasi muda untuk…

2 hari ago

Lebaran di Tengah Keterbatasan

Oleh: Aswan Kharie/Jurnalis cermat Dalam kehidupan masyarakat, lebaran bukan sekadar perayaan tahunan. Ia adalah ruang…

2 hari ago

Bantuan Helikopter NHM Peduli Antar Pasien dari Tobelo ke Manado

Kondisi geografis Pulau Halmahera yang luas dengan akses transportasi antar wilayah yang terbatas sering kali…

2 hari ago

Morotai dalam Imajinasi Geopolitik Australia

Oleh: Yanuardi Syukur Pengajar Antropologi Globalisasi di Universitas Khairun, Ternate dan Founder Indo-Pacific Center for…

2 hari ago