Perspektif

Jiang Xueqin, Iran dan Prediksi Kekalahan Amerika

Oleh: Yanuardi Syukur
Dosen Antropologi Universitas Khairun Ternate


Fenomena viralnya video ceramah Jiang Xueqin (50 tahun) yang direkam pada Mei 2024 (dan kembali ramai diperbincangkan sepanjang 2025 hingga 2026) telah melahirkan julukan baru: “Nostradamus dari China”. Julukan ini tidak terlalu tepat, akan tetapi spiritnya sama: ketepatan prediksi.

Nostradamus, seorang astrolog, dokter, apoteker sekaligus peramal Perancis abad ke-16 (1503-1566), pernah menulis syair-syair gelap 942 kuatrain puitis tentang peristiwa masa depan dalam bukunya “Les Prophéties” (diterbitkan tahun 1555), dan baru “dipahami” setelah peristiwa terjadi. Sementara Jiang, pendidik kelahiran Guangdong 1976 yang meraih gelar dari Yale University dan kini mengajar sejarah dan filsafat di Beijing, bekerja dengan kerangka analisis sejarah komparatif dan teori permainan yang transparan dan dapat diuji.

Alih-alih terjebak dalam perdebatan tentang akurasi prediksinya, saya coba menawarkan pembacaan antropologis, yakni apa yang membuat prediksi Jiang, sang ‘Nostradamus di era digital’ begitu relevan secara sosial, dan apa yang diungkapkannya tentang cara masyarakat modern memahami geopolitik di era ketidakpastian seperti sekarang?

Hybrid Knowledge System

Jiang Xueqin merepresentasikan apa yang dapat disebut sebagai hybrid knowledge system, yakni perpaduan antara pengetahuan disipliner dan epistemologi populer. Di satu sisi, ia menggunakan perangkat akademik yang sahih sebagai berikut:

Pertama, sejarah komparatif ala sejarawan Athena Thucydides (460-400 SM) yang menganalisis peristiwa masa kini dengan membandingkannya secara struktural dengan peristiwa masa lalu, berdasarkan asumsi bahwa pola sejarah cenderung berulang karena sifat manusia yang tidak berubah; kedua, teori permainan (game theory) yang melihat keputusan manusia itu saling bergantung, seperti bermain catur; ketiga, analisis insentif strategis atau ‘motif tersembunyi’ di balik tindakan; bahwa aktor-aktor selalu berpikir apa yang didapatkan dalam situasi strategis seperti konflik, negosiasi atau persaingan.

Dia misalnya mengutip Ekspedisi Sisilia (415-413 SM), membandingkan medan Iran yang bergunung-gunung dengan pengalaman Athena di Syracuse, dan membaca pola berulang dalam sejarah imperium yang jatuh karena overreach atau ambisi berlebihan. Ekspedisi Sisilia adalah kampanye militer besar-besaran yang dilancarkan oleh Athena ke pulau Sisilia, selama Perang Peloponnesos melawan Sparta dan sekutunya. Ekspedisi ini berakhir dengan bencana total bagi Athena dan menjadi titik balik yang menentukan dalam perang tersebut.

Ceritanya, pada tahun 416 SM, kota Segesta di Sisilia (sekutu Athena) meminta bantuan untuk melawan kota tetangganya, Selinus, yang didukung oleh Syracuse. Syracuse adalah kota terkuat di Sisilia, beretnis Dorian seperti Sparta, dan merupakan sekutu penting Korintus (saingan dagang utama Athena). Duta-duta Segesta juga meyakinkan Athena bahwa mereka mampu membiayai perang, bahkan memamerkan kekayaan palsu untuk meyakinkan para utusan Athena. Bagi Athena, Sisilia juga dilihat sebagai ancaman potensial, dan jika Syracuse tidak dikendalikan, mereka bisa mengirim bantuan gandum ke Sparta (rival Athena).

Pada akhirnya, pasukan Athena terjebak di pelabuhan. Armada mereka dikalahkan dalam pertempuran laut. Pasukan yang tersisa kemudian mencoba melarikan diri melalui darat, tapi terus dihantui. Akhirnya, hampir seluruh pasukan tewas, ditangkap, atau dijual sebagai budak. Sebanyak 200 kapal Athena hancur, ribuan tentara tewas, dan bisa dikatakan: sebagian besar kekuatan militer Athena lenyap dalam satu pukulan.

Dengan menggunakan analogi tersebut, Jiang Xueqin membaca situasi di Iran. Bagi Jiang, AS ibaratnya seperti “Athena modern” dengan kekuatan super dengan ambisi besar, tapi berisiko terjebak dalam perang di medan asing (‘bentang beton raksasa’ pegunungan Zagros dan Alborz) dengan jalur pasokan yang potensial untuk rapuh, melawan penduduk lokal yang bersatu—dan didukung oleh topografi alam yang sudah pasti melemahkan kekuatan invasi. Bagi dia, sejarah tidak berulang persis, tapi polanya berulang, dan satu hukum ‘kekekalan sejarah’—kalau bisa kita sebut begitu—telah mengingatkan manusia: “mereka yang tidak belajar dari sejarah akan mengulang kesalahan yang sama.”

Selain soal konten, kemasan berbagai pengetahuan yang digunakan Jiang (seperti kanal YouTube, gaya ceramah dramatis, klaim “pratinjau sejarah sebelum terjadi”) adalah bentuk popularisasi pengetahuan yang khas abad ke-21. Saya lihat, dia terlihat begitu rileks, santai dan tidak terbebani dengan status apapun. Baginya, berbagi pengetahuan adalah nilai, dan pakai saluran apapun itu tidak terlepas dari apa yang membuat dia nyaman (termasuk kenyamanan untuk tidak memonetisasi akun media sosialnya untuk kepentingan komersil).

Jiang, olehnya bisa kita sebut sebagai versi geopolitik dari fenomena seorang analis rasional yang karyanya dikonsumsi dengan cara yang mirip dengan konsumsi ramalan tradisional. Efektivitas prediksinya justru terletak pada ambiguitasnya; bahwa dia tidak memberikan tanggal pasti, tetapi menawarkan skenario yang cukup longgar untuk diinterpretasikan ulang ketika peristiwa terjadi.

Ketika Trump kembali dan perang dengan Iran memanas, publik dengan mudah “mengingat” bahwa Jiang telah memprediksinya—sebuah mekanisme yang dikenal sebagai retroactive fitting. Seperti dicatat dalam “Encyclopedia of Time: Science, Philosophy, Theology, & Culture” yang diedit H. James Birx, ramalan Nostradamus itu sifatnya “ambigu karena gagal memberikan tanggal spesifik; oleh karena itu prediksi ini terbuka untuk interpretasi yang beragam dan bahkan kontradiktif” (SAGE, 2009). Hal yang sama berlaku untuk Jiang, dan di sinilah letak daya tariknya sekaligus keterbatasannya.

Malleable Fixity

Salah satu kerangka teoretis yang paling relevan untuk memahami fenomena Jiang adalah konsep malleable fixity atau “kepastian yang dapat ditempa/lentur/fleksibel” yang dikemukakan oleh Alice Elliot dan Laura Menin dalam esai mereka “For an Anthropology of Destiny” (HAU: Journal of Ethnographic Theory, 2018) Mereka berargumen bahwa nasib tidak dipahami sekadar sebagai takdir tetap yang tak terelakkan, melainkan sebagai “pertentangan paradoks antara gambaran kepastian temporal dan historis dengan perhitungan praktis dan reorientasi diri yang terbuka.”

Di satu sisi, prediksi Jiang menawarkan kepastian, yakni Trump akan kembali, perang dengan Iran akan terjadi—dua hal itu terjadi terjadi—dan satu lagi: AS akan kalah. Ini adalah narasi tentang masa depan yang “tetap” atau “telah ditentukan.” Namun di sisi lain, prediksi ini justru memicu diskusi, perdebatan, dan interpretasi yang lentur—publik tidak pasif menerima ramalan, tetapi aktif menggunakannya untuk memahami dunia, mempertanyakan asumsinya, dan bahkan mengkritik metodologinya.

Antropolog Inggris, Alfred Gell (1945-1997) dalam “The Anthropology of Time” (BERG, 2001) mengingatkan bahwa persepsi tentang waktu selalu terkait dengan cara masyarakat mengorganisasi pengetahuan secara sosial, dan fenomena Jiang adalah contoh sempurna bagaimana produksi pengetahuan tentang masa depan selalu terkait dengan kondisi sosial-politik kontemporer.

Jiang dengan demikian menawarkan teori nasib untuk era sekuler dalam konteks ‘bukan nasib yang ditulis oleh dewa, tetapi nasib yang ditulis oleh sejarah, geografi, dan psikologi manusia’; ini adalah sebuah narasi yang menegaskan kepastian sambil membuka ruang untuk negosiasi.

Dialog dengan Eskatologi Islam

Diskusi tentang Jiang tidak dapat dilepaskan dari wacana yang lebih luas tentang “akhir zaman” dalam tradisi keagamaan, khususnya Islam. Dalam Islam, konsep Qadar—ketetapan ilahi—adalah salah satu dari enam rukun iman, merujuk pada ketentuan Allah atas segala sesuatu di alam semesta, namun manusia tetap memiliki kehendak bebas dan bertanggung jawab atas pilihannya. Keseimbangan teologis antara takdir dan tanggung jawab manusia ini menciptakan ruang interpretasi yang kaya.

Cendekiawan Muslim asal Trinidad dan Tobago, negara kepulauan kembar di Karibia yang terletak di dekat Venezuela, Imran Hosein (84 tahun), dalam tulisannya “Will Israel Attack Iran” (akses 7 Maret 2026), membaca konflik Iran sebagai bagian dari skenario besar akhir zaman, melihat perang terhadap Iran sebagai upaya kekuatan tertentu untuk “mencuri minyak dan gas Iran.” Hosein juga membahas kemungkinan penggunaan senjata nuklir yang akan menyebabkan harga minyak melonjak dan nilai dolar AS ambruk, sebuah skenario yang pada akhirnya akan menguntungkan Israel.

Terlepas dari setuju atau tidak dengan analisisnya, yang menarik adalah bagaimana Hosein menggunakan kerangka eskatologis untuk membaca peristiwa kontemporer, persis seperti yang dilakukan Jiang dengan kerangka sejarah komparatif. Baik ramalan Jiang maupun tulisan para penulis Islam seperti Hosein sama-sama berfungsi sebagai kerangka interpretasi untuk memahami peristiwa yang terjadi. Ketika dunia terasa kacau balau dan tidak menentu (‘uncertainty’), publik mencari “peta makna”, baik dari analisis geopolitik Jiang maupun dari hadits-hadits Nabi tentang nubuat akhir zaman.

Dalam kedua cara berpikir ini, kita menemukan konsep malleable fixity yang bekerja dengan cara berbeda namun dengan fungsi yang serupa. Elliot dan Menin mendefinisikan malleable fixity sebagai “Pertentangan paradoks antara gambaran kepastian temporal dan historis dengan perhitungan praktis dan reorientasi diri yang terbuka.”

Penjelasannya begini:

Terkait ‘gambaran kepastian temporal dan historis’ adalah terkait dengan keyakinan bahwa masa depan sudah “ditulis” atau “ditetapkan” oleh kekuatan tertentu yang oleh masyarakat menyebutnya oleh Tuhan, takdir, karma, hukum sejarah, atau bahkan pola struktural dalam masyarakat.

Sedangkan ‘perhitungan praktis dan reorientasi diri yang terbuka’ berkaitan dengan kenyataan bahwa manusia tidak pasif menerima nasib. Mereka tetap membuat perhitungan, mengambil keputusan, menyesuaikan diri, dan bahkan mencoba “membaca” tanda-tanda untuk memahami apa yang akan terjadi.

Jadi intinya: nasib itu dipahami sebagai sesuatu yang tetap, tetapi dalam praktiknya ia lentur karena manusia terus berinteraksi dengannya.

Eskatologi Islam olehnya itu, menawarkan “kepastian” yang bersifat mutlak, misalnya dalam beberapa peristiwa masa depan sebagai berikut:

Soal kiamat pasti terjadi, ada hadis dari Anas RA, Rasulullah SAW bersabda :

بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ . (قَالَ:) وَضَمَّ السَّبَّابَةَ وَالْوُسْطَى

‘(Masa) diutusnya aku dan (hari terjadinya) Kiamat seperti dua (jari) ini’.” (Anas Radhiyallahu ‘Anhu) berkata, “Dan beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merapatkan jari telunjuk dengan jari tengahnya” (HR. Muslim).

Soal Dajjal yang pasti muncul, Rasulullah SAW bersabda:

إنَّ الدَّجَّالَ يَخرُجُ من أرضٍ بالمَشرِقِ يُقالُ لَها: خُراسانُ، يَتبَعُه أقوامٌ كأنَّ وُجوهَهم الْمَجَانُّ الْمُطْرَقةُ

“Sungguh dajjal itu akan keluar dari sebuah negeri di Timur bernama Khurasan, yang diikuti oleh orang-orang yang wajahnya seperti topeng kepala dari besi yang dipukuli dengan palu.” (HR Tirmidzi).

Kemudian, soal Ya’juj dan Ma’juj (bangsa perusak yang dikurung oleh Zulkarnain di balik tembok besar yang masih misterius; ada yang menyebut mereka sekarang di pegunungan Kaukasus, dekat Georgia dan Rusia yang terus berusaha keluar) yang cepat atau lambat juga pasti keluar, Allah SWT berfirman:

وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ فَاِذَا هِيَ شَاخِصَةٌ اَبْصَارُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْاۗ يٰوَيْلَنَا قَدْ كُنَّا فِيْ غَفْلَةٍ مِّنْ هٰذَا بَلْ كُنَّا ظٰلِمِيْنَ

“Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari Berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang kafir. (Mereka berkata,) ‘Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Anbiya’: 97)

Namun waktu pasti tiga peristiwa dari sekian banyak tanda kiamat besar dan kecil dalam Islam, sifatnya “tidak tetap”, alias tidak bisa ditentukan kapan pastinya, atau hanya Allah yang tahu (kita sebutnya: Wallahu a’lam bisshawab). Hal ini menciptakan ruang interpretasi yang luas, di mana setiap peristiwa besar dapat dibaca sebagai “tanda” tanpa pernah dapat dipastikan.

Jiang, di sisi lain, menawarkan “kepastian” yang bersifat probabilistik (seperti perang kemungkinan besar akan terjadi), namun dengan skenario yang cukup longgar untuk diinterpretasi ulang ketika peristiwa benar-benar terjadi.

Keduanya, dengan cara masing-masing, memenuhi kebutuhan manusia akan orientasi di tengah ketidakpastian. Di tengah “kegelapan” geopolitik (informasi yang simpang siur, propaganda yang membingungkan, masa depan yang tidak pasti), mereka menawarkan “cahaya” analisis yang menerangi jalan, meskipun sumber cahayanya berbeda: satu dari nalar manusia, satu lagi dari wahyu ilahi.

Antropologi Prediksi

Fenomena Jiang Xueqin, dari perspektif antropologi prediksi (anthropology of prediction), adalah gejala dari kondisi zaman, yakni kebutuhan manusia akan narasi koheren di tengah fragmentasi informasi, pencarian pola di tengah kekacauan geopolitik, dan kerinduan akan otoritas intelektual yang dapat menjelaskan dunia dengan cara manusiawi.

Giuseppe Tateo dan Maria Sapignoli dari Universitas Milan berintensi pada studi tentang ramalan/divinasi dan kecerdasan buatan (AI). Walaupun special issue rencana suntingan buku mereka (sejak 13 Desember 2024) kelihatannya belum terbit di criticaldivination.org atau jurnal milik Perhimpunan Antropologi Budaya Italia, ANUAC (akses 7 Maret 2026), akan tetapi mereka mencoba mengaitkan tiga konsep penting dalam studi anthropology of prediction, yakni knowledge (pengetahuan), divination (ramalan), dan algorithmic futures (masa depan algoritmik).

Studi lainnya, “The role of the political prophecy of the Boer “Nostradamus” in the formation of the ideology of the conservative right in South Africa,” terkait dengan prediksi kita rujuk pada Mladen Stajić (2014) dari University of Belgrade, tentang nubuat seorang ‘Siener’ (‘pelihat’, ‘orang yang melihat masa depan’) bernama Van Rensburg (1864-1926) di Afrika Selatan. Van Rensburg hanya pernah sekolah formal selama 20 hari, dan tidak bisa menulis, belajar Alkitab dari ibunya, dan kabarnya tidak pernah membaca buku lain selain Alkitab. Bagi pengikutnya, ramalan sering menjadi alat untuk menghadapi perubahan sosial yang mengancam, menjadi “tempat yang dapat diterima untuk mengekspresikan sikap yang tidak dapat diterima secara sosial dan keinginan politik yang tidak terwujud.”

Ramalannya antara lain terkait perang Boer (keselamatan jenderal Boer atau penangkapan rekannya), Perang Dunia I dan kematian Jenderal Koos de la Rey, kelahiran komunisme dan epidemi Flu Spanyol (1918), kemerdekaan Irlandia (1949), dan bencana nuklir Chernobyl di Ukraina (26 April 1986) yang melepaskan radiasi dalam jumlah besar ke seluruh Eropa, perang di Bosnia dan Herzegovina (1992-1995), dan penyerahan kekuasaan kepada kulit hitam di Afrika Selatan pada tahun 1994. Dia juga meramal tentang masa depan yang belum terjadi, seperti kehancuran total Jepang akibat gempa bumi (mungkin perlu diantisipasi potensi gempa di zona Megathrust Nankai yang kerap berulang 90-200 tahun), Perang Dunia III (cukup banyak yang mulai memprediksi itu), dan kehancuran total Inggris (sesuatu yang belum terprediksi).

Nubuat-nubuat Van Rensburg dalam konteks antropologi, tidaklah dilihat sebagai ramalan masa depan yang kaku, melainkan sebagai alat untuk menginterpretasi ulang masa lalu dan masa kini. Secara fungsional, masyarakat, terutama pengikutnya, menjadikan ramalan tersebut sebagai ‘alat untuk menghadapi krisis dan melegitimasi aspirasi politik yang tertindas.’

Sedangkan Jiang, dengan kanal Predictive History-nya telah memenuhi fungsi serupa di era digital. Dia tidak hanya meramalkan perang, tetapi juga memberi bahasa untuk membicarakan kecemasan kolektif tentang tatanan dunia yang bergeser, tentang ketidakpastian masa depan, tentang nasib bangsa-bangsa. Nilai Jiang bukan terletak pada apakah prediksinya “benar” secara harfiah, melainkan pada bagaimana ia memicu percakapan, membentuk cara berpikir, dan memberi makna pada peristiwa yang kita alami bersama.

Manusia adalah makhluk yang tidak tahan pada ketidakpastian. Pada akhirnya manusia akan terus mencari pola, meramal masa depan, dan menciptakan narasi, baik melalui syair Nostradamus yang misterius, algoritma AI yang kompleks, ceramah profesor Beijing yang karismatik, atau keyakinan akan hari akhir yang dijanjikan dalam kitab suci. Bukan karena kita dapat benar-benar mengetahui masa depan (karena secara teologis: hanya Tuhan yang tahu), tetapi karena proses mencarinya (secara hybrid: ilmiah & nubuwah) itulah yang membuat masa kini terasa lebih bermakna.

Jiang bisa jadi benar atau salah tentang nasib perang Iran, khususnya soal Amerika yang akan kalah. Namun lewat narasi-narasinya, dia telah membantu jutaan orang di seluruh dunia untuk berpikir secara lebih historis, lebih strategis, dan lebih kritis tentang dunia yang terus berubah, sebuah fungsi yang jauh lebih penting daripada sekadar akurasi prediksi.

Dalam kerangka malleable fixity yang ditawarkan Elliot dan Menin, Jiang sepertinya mengingatkan kita bahwa nasib (bahkan dalam bentuknya yang paling modern, paling sekuler, paling “ilmiah” sekalipun) selalu menyisakan ruang untuk interpretasi, negosiasi, dan makna oleh komunitas manusia. Manusia selalu berusaha menafsirkan, menegosiasikan dan memberi makna dari pelajaran sejarah.

Moral Sejarah

Akhirnya, jika prediksi ‘kekalahan Amerika’ di atas benar, maka kita ambil pelajaran moralnya—belajar dari Ekspedisi Sisilia tentu saja—sebagai berikut. Pertama, logistik dan medan menentukan hasil perang, bukan hanya jumlah tentara. Kedua, politik internal bisa merusak strategi militer terbaik sekalipun. Ketiga, jangan meremehkan musuh hanya karena melihat diri sebagai bangsa yang kuat, dan terakhir, jangan overreach atau ambisi berlebihan, sebab ambisi berlebihan kerap membawa pada kehancuran.

Pada tahun 1905, seorang penulis Spanyol, George Santayana (1863-1952) menerbitkan lima jilid buku tentang kemajuan manusia dan peran akal dalam masyarakat, agama, seni dan sains berjudul “The Life of Reason: The Phases of Human Progress.” Dalam buku tersebut, ada kutipannya yang menarik dan ini penting untuk kita semua: “Those who cannot remember the past are condemned to repeat it” (Mereka yang tidak dapat mengingat masa lalu, [akan] dikutuk untuk mengulanginya). Sebelum terlambat, Amerika perlu memperhatikan kembali kalimat tersebut—belajar dari kekalahan total Athena saat menyerbu Sisilia.

redaksi

Recent Posts

Malut United Ditahan Imbang PSM 3-3 di Ternate, Pertahanan Jadi Catatan

Malut United harus puas berbagi poin setelah bermain imbang 3-3 melawan PSM Makassar pada pekan…

2 menit ago

Berkah Ramadan, Bank Maluku-Malut di Taliabu Berbagi Takjil untuk Warga

PT Bank Maluku Malut di Pulau Taliabu membagikan ratusan paket takjil kepada warga pengendara roda…

49 menit ago

Halal Fair: Momentum Perkuat Ekosistem Syariah di Maluku Utara

Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, resmi menutup gelaran Halal Fair yang diinisiasi Bank Indonesia…

2 jam ago

JATAM Kecam Pemanggilan 14 Warga Sagea–Kiya oleh Polda Malut, Dinilai sebagai Bentuk Kriminalisasi

Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) mengecam pemanggilan 14 warga Desa Sagea dan Desa Kiya, Kecamatan Weda…

20 jam ago

Mahasiswa Ekonomi Demo di Kantor Wali Kota Ternate, Soroti IPM hingga Kebijakan Pembangunan

Aliansi Mahasiswa Ekonomi Maluku Utara menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Wali Kota Ternate,…

1 hari ago

Kejati Malut Jadwalkan Panggil Eks Sekretaris dan Bendahara DPRD atas Kaitan Kasus Tunjangan

Tim penyidik Bidang Pidana Khusus (Pidsus) pada Kejaksaan Tinggi Maluku Utara menjadwalkan pemanggilan terhadap mantan…

1 hari ago