News

Lokalisasi Menjamur, HIV/AIDS Ancam Pekerja Tambang di Halmahera Tengah


Tingginya mobilitas penduduk hingga kehadiran berbagai tempat prostitusi di wilayah Lelilef, Halmahera Tengah, Maluku Utara, memungkinkan pekerja tambang rentan terpapar virus HIV/AIDS.

Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) Lelilef di Kecamatan Weda Tengah, Halmahera Tengah, mencatat saat ini penderita HIV di Lelilef berjumlah 9 orang.

Dari jumlah kasus tersebut, 1 orang merupakan wanita pekerja seks (WPS), 1 orang lelaki seks lelaki (LSK) dan 2 orang waria. Sementara 5 kasus lainnya merupakan pasien rujukan dari luar wilayah.

“Pemicunya karena mobilitas penduduk yang tinggi, juga terdapat berbagai tempat prostitusi. Ini menjadi ancaman untuk masyarakat, terutama pekerja tambang,” kata Kepala PKM Lelilef, Asjuati Tawainella, sejak Rabu, 22 Januari 2025.

Asjuati menuturkan, dua desa di Kecamatan Weda Tengah yakni Lelilef Sawai dan Woebulen, memang sudah ditetapkan sebagai kampung penanganan HIV/AIDS pada November 2024 lalu. Penetapan ini dimaksudkan untuk menekan angka HIV/AIDS di dua wilayah tersebut.

Saat ini, kata dia, jumlah pemeriksaan HIV/AIDS di PKM Lelilef mencapai angka 164 orang dengan sasaran pemeriksaan mulai dari ibu hamil hingga populasi kunci seperti pekerja seks komersial (PSK).

“Untuk PSK sendiri kami melakukan pemeriksaan di sejumlah penginapan yang mempekerjakan mereka. Pemeriksaan itu harus ada izin dulu, kemudian ada surat kesediaan untuk individu yang nanti diperiksa,” katanya.

Asjuati bilang, pihaknya juga terus menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat terkait bahaya HIV/AIDS yang kini menjadi ancaman serius.

“Sosialisasi ini menyasar ke sekolah dan ibu hamil saat pelaksanaan posyandu. Intinya, kami mengajak agar masyarakat memiliki kesadaran akan bahaya virus ini,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Halmahera Tengah, Lutfi Djafar mengatakan, penyebab angka HIV/AIDS di Halmahera Tengah juga terindikasi pada titik masuknya mobilitas masyarakat dari berbagai daerah.

Menurutnya, hal itu tak mengherankan lantaran di Halmahera Tengah terdapat industri pertambangan yang mengakibatkan populasi penduduk meningkat.

Hingga Januari 2025, secara keseluruhan, kata dia, angka HIV di Halmahera Tengah sudah mencapai 120 kasus.

“Tetapi pada aspek kesehatan, Halteng memang beberapa kali meraih penghargaan secara nasional. Kita punya inovasi kesehatan yang tergolong cukup baik,” ujarnya.

Lutfi menuturkan bahwa Dinkes Halmahera Tengah terus berupaya menyadarkan masyarakat terkait penularan HIV melalui kerja sama dengan pusat kesehatan masyarakat.

“Ada sekitar 12 PKM yang sejauh ini kinerjanya sudah baik dalam memberikan kesadaran terhadap masyarakat. Jadi, kita juga berharap agar masyarakat memiliki peran aktif dalam penanganan penyakit menular ini,” ujarnya.


 

redaksi

Recent Posts

Kapolda Arif Sambut Bangga Iptu Masqun Usai Wakili Polwan Malut di IAWP

Kasat Lantas Polres Halmahera Tengah, Iptu Masqun Abdukish, tuntas mengikuti International Association of Women Police…

2 jam ago

Nomad

Oleh: Faris Bobero Nomad atau nomaden. Kata ini kerap digunakan untuk menyebut kelompok manusia yang…

3 jam ago

Camat Morotai Selatan Minta Aparatur Desa Fokus Layani Masyarakat

Camat Morotai Selatan, Pulau Morotai, Maluku Utara, Sri Wahyuni, meminta seluruh aparatur pemerintah desa di…

9 jam ago

Petugas SPBU Wari Banyak Layani Pengisian BBM Pakai Jeriken, Polres Halut Diminta Bertindak

Sejumlah tukang ojek dan pengemudi bentor mengeluhkan aktivitas pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) di SPBU…

10 jam ago

Perumda Ake Agaale Ternate Perbaiki Mesin Pompa Air di Tobenga

Warga di Lingkungan Tobenga, tepatnya di belakang SD 55, Kelurahan Kasturian, Kota Ternate, Maluku Utara,…

15 jam ago

Pemkab Taliabu Benahi Satu Data Indonesia

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pulau Taliabu, Maluku Utara mulai melakukan pembenahan tata kelola Satu Data Indonesia…

16 jam ago