Feature

Menjemput Berkah, Menitipkan Kecewa: Cerita dari Tanah Bicoli

Rabu pagi, 21 Januari 2026, Desa Bicoli terbangun dalam keheningan yang ganjil. Udara terasa khidmat, seolah kampung tua ini baru saja keluar dari mimpi panjang tentang sejarahnya sendiri. Warga berbondong-bondong menyambut kedatangan pemimpin tertinggi adat mereka, Sultan Tidore, dalam rangka Forum Adat II Sangaji Bicoli.

Di sepanjang jalan desa, anak-anak sekolah berdiri rapi membentuk pagar hidup. Tangan-tangan kecil itu bersiap melakukan Suba, salam hormat penuh makna bagi seorang Sultan. Irama adat, wajah-wajah penuh harap, dan semangat kolektif masyarakat menjadikan pagi itu lebih dari sekadar seremoni, ia adalah perayaan jati diri.

Namun, di balik meriahnya tarian Cakalele dan keunikan Cokaiba, terselip kekosongan yang terasa menyesakkan. Kursi-kursi undangan yang disiapkan untuk Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur tampak kosong. Rundown acara yang tersusun rapi pun seolah mubazir; sejumlah agenda tak terlaksana karena absennya representasi pemerintah daerah.

Tepat pukul 10.40 WIT, Sultan Tidore tiba. Ia menaiki perahu buatan sebagai simbol kebesaran bahari, lalu menjalani prosesi seka kaki dengan pasir, diiringi lantunan selawat yang mengalun sakral. Momen itu menandai secara simbolis: sang Sultan telah menginjakkan kaki di bumi Bicoli. Namun, ketidakhadiran pemerintah daerah menjadi noda hitam dalam acara yang sejatinya diharapkan menjadi ruang sinergi adat dan negara.

Cokaiba berlarian mengawal kedatangan Sultan Tidore Husain Alting Sjah dalam Forum Adat II Kesangadjian di Desa Bocoli, Halmahera Timur. Foto: Faris Bobero/cermat

Ahmad Jafar, Ketua Panitia Forum Adat II, tak mampu menyembunyikan kekecewaannya. Dengan nada lugas, ia mengungkapkan penyesalan mendalam atas absennya Bupati Halmahera Timur.

Bagi Jafar, ketidakhadiran pimpinan daerah bukan sekadar persoalan seremonial. Ini, katanya, adalah cermin dari sikap abai terhadap eksistensi masyarakat adat.

“Ini sangat mengecewakan,” ujarnya. Nada suaranya menyiratkan kenyataan pahit: masyarakat Bicoli seolah berjuang sendiri menjaga jati diri, tanpa sokongan birokrasi yang seharusnya berdiri bersama mereka.

Kekecewaan itu rupanya sejalan dengan pesan yang disampaikan Sultan Tidore, Husain Alting Sjah, dalam sambutannya. Di hadapan ratusan pasang mata yang menunduk khidmat, Sultan melontarkan sindiran tajam yang langsung menyentuh inti persoalan.

Ia menyinggung kebiasaan pemerintah yang kerap hadir ketika membutuhkan rakyat, namun absen saat rakyat merayakan atau mempertahankan nilai-nilai leluhurnya. Pesannya tegas:
“Seorang pemimpin sejati tidak akan membiarkan rakyatnya merasa dianaktirikan dalam peristiwa yang menyangkut kehormatan negeri.”

Di tengah tenda utama, dua kursi berbalut kain merah dan putih berdiri tegak. Putih diperuntukkan bagi Sultan, merah bagi Sangaji—simbol kedaulatan adat yang tetap kokoh, meski tanpa restu formal dari pejabat kabupaten.

Ishak Naser, dalam sambutannya, mempertegas makna peristiwa hari itu. Ia mengingatkan bahwa pembangunan yang mengabaikan akar adat hanya akan melahirkan kehampaan—megah secara fisik, namun rapuh secara identitas.

Sultan Tidore beserta peserta Forum Adat II Kesangadjian Bocoli melakukan ziarah kuburan Sultan Abidin Syah beserta perangkat adatnya. Foto: Faris Bobero/cermat

Hari itu ditutup dengan ziarah ke makam Sultan Abidin Syah. Di bawah kumandang azan dan taburan doa, masyarakat Bicoli seolah menitipkan keluh kesah mereka pada sejarah. Meski merasa “dibuang” oleh pemerintahnya sendiri di Halmahera Timur, kehadiran Sultan Tidore telah memulihkan martabat mereka.

Bagi warga Bicoli, kehormatan tidak lahir dari jabatan yang absen, melainkan dari keberanian menjaga warisan leluhur di tanah sendiri.

redaksi

Recent Posts

Dilema Generasi dan Hak Sehat yang Terampas di Bumi Fagogoru (2)

Oleh: Lukman Harun Tulisan ini merupakan lanjutan dari serial perspektif sebelumnya yang dapat dibaca di sini.…

3 jam ago

Ucapan ‘Londo Ireng’ Prabowo Dikecam Organisasi Pers, Didesak Minta Maaf

Sejumlah organisasi pers dan jurnalis mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam ucapan Presiden Prabowo Subianto yang…

1 hari ago

NHM-TNI Lanjutkan Program Stunting di Lima Kecamatan

PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) melalui Departemen NHM Peduli kembali memperkuat komitmen sosialnya dengan melaksanakan…

1 hari ago

130 Warga Terbantu Ambulans Gratis NHM

Komitmen PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) dalam mendukung pelayanan kesehatan masyarakat terus diwujudkan melalui program…

1 hari ago

Era Baru Kebangkitan Persiter Ternate

Pemerintah Kota Ternate mulai membuka jalan baru bagi kebangkitan Persiter Ternate. Klub kebanggaan masyarakat Ternate…

2 hari ago

Bupati Taliabu Pastikan Dicabutnya Status 3T Tak Hambat Program Pembangunan

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pulau Taliabu, Maluku Utara, optimistis berbagai program prioritas pemerintah pusat tetap dapat…

2 hari ago