News

Pemda Halteng Abaikan Status Perlindungan Karst Sagea Demi Tambang

Pemerintah Daerah (Pemda) Halmahera Tengah dinilai mengabaikan status kawasan Karst Sagea yang dilindungi demi operasi penambangan batuan PT Gamping Mining Indonesia (GMI).

Dinamisator Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Maluku Utara Julfikar Sangaji menyebut rencana operasi PT GMI menimbulkan dampak kerusakan bagi sistem ekologi di Desa Sagea dan Kiya.

“Ini akan memicu dampak buruk bagi bentang alam termasuk kawasan karst Sagea yang selama ini menjadi penopang masyarakat,” ujarnya, Rabu, 13 Agustus 2025.

PT GMI, kata dia, rencananya akan menambang batuan gamping dengan luas konsesi mencapai 2.539 hektare di wilayah Karst Sagea dan Kiya di Kecamatan Weda Utara. Salah satu kawasan yang juga dinilai terdampak adalah ekowisata Gua Bokimaruru.

“Kawasan Karst Sagea telah ditetapkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) tentang RPJMN 2025-2029 bahwa Kawasan Goa Bokimaruru merupakan 1 dari 3 kawasan prioritas konservasi di Maluku Utara untuk perlindungan, pengelolaan, dan pemanfaatan kawasan konservasi,” ucap Julfikar.

Kemudian dalam Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Maluku Utara Nomor 3 tahun 2024 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2024-2043 menjelaskan bahwa kawasan Karst Sagea adalah karst yang berfungsi sebagai pengatur alami tata air, yaitu daerah imbuhan air tanah yang mampu meresap air permukaan ke dalam tanah sekaligus penyimpan air tanah secara tetap dalam bentuk akuifer.

“Tak hanya itu, pada poin b juga menyebutkan bahwa Karst Sagea, memiliki keunikan dan nilai ilmiah sebagai objek penelitian dan penyelidikan bagi pengembangan ilmu pengetahuan serta tersedia zonasi kawasan karst dalam mendukung pengelolaan kawasan karst.”

Selain itu juga, kawasan Karst Sagea yang terancam ditambang ini, pun sebenarnya sudah dilindungi dan ditetapkan dalam Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 35 Tahun 2023 tentang Pengembangan Kawasan Geopark Halmahera Tengah di kawasan Karst
Sagea.

“Dan lebih dari itu, Kawasan Karst Sagea saat ini telah menjadi kawasan ekowisata gua dan air yang sedang dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi
warga,” katanya.

Juru Bicara Save Sagea Mardani Lagaelol mengatakan, rencana operasi PT GMI sebelumnya telah disosialisasikan pemerintah daerah pada Selasa 12 Agustus 2025 di ruang rapat bupati. Sosialisasi ini dipandu langsung oleh Ahlan Djumadil, Wakil Bupati Halmahera Tengah.

Mardani menilai upaya sosialisasi itu mencerminkan sikap pemerintah yang hanya mengutamakan kepentingan para korporasi sekaligus mengabaikan status perlindungan kawasan Karst Sagea.

“Kekuasaan yang dikendalikan oleh Ikram Malan Sangadji ini justru tak lebih dari perpanjangan tangan para korporat tambang.”

redaksi

Recent Posts

Ipda Imam Pimpin Polsek Wasile Selatan, Peredaran Miras Jadi Perhatian

Ipda Imam Eko Akbar Yudha resmi menjabat sebagai Kapolsek Wasile Selatan, Polres Halmahera Timur, menggantikan…

50 menit ago

Mantan Bupati Halteng Dilaporkan ke Polda Malut, Dugaan Penipuan Rp3,05 Miliar

Mantan Bupati Halmahera Tengah (Halteng) berinisial EL alias Elang dilaporkan ke Direktorat Reserse Kriminal Umum…

17 jam ago

Safri Abdul Muin Pimpin Kejari Morotai, Diminta Kawal Pembangunan Bebas Korupsi

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Pulau Morotai kini dijabat Safri Abdul Muin. Ia resmi menggantikan Dr.…

17 jam ago

BBM Langka di Pulau Taliabu, Dijual Rp35ribu Perliter

Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite dan Pertamax di Pulau Taliabu, Maluku Utara, kehabisan stok…

19 jam ago

Imbas Kenaikan Dollar, PAD di Pulau Taliabu Melemah

Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui retribusi Tenaga Kerja Asing (TKA) di Pulau Taliabu, Maluku Utara…

19 jam ago

Hudan Irsyadi Raih Anugerah Tokoh Akademisi Budaya di Festival Tara No Ate

Dosen Antropologi Sosial Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Hudan Irsyadi, menerima Anugerah Tokoh…

19 jam ago