News

Pemilik Lahan Galian C di Taliabu Bantah Dugaan Bekingan Polisi

Pemilik lahan pertambangan galian C (batuan) di Pulau Taliabu, Maluku Utara, Lukman, memberikan klarifikasi terkait dugaan penyogokan atau adanya bekingan dari aparat kepolisian setempat.

Melalui kuasa hukumnya, Tawalani Djafaruddin, Lukman menegaskan bahwa tudingan tersebut tidak benar. Ia menyebut aktivitas yang dilakukan kliennya murni bertujuan mendukung pembangunan infrastruktur di Pulau Taliabu.

“Tidak ada sama sekali bekingan, instruksi, maupun perintah dari pihak kepolisian atau pihak mana pun. Selain itu, kegiatan penambangan galian C saat ini juga telah kami hentikan,” ujar Tawalani kepada Cermat, Sabtu, 25 April 2026.

Tawalani menjelaskan, lahan yang dikelola kliennya merupakan lahan perkebunan yang mengandung material batuan dan kemudian dimanfaatkan untuk kebutuhan konstruksi di daerah tersebut.

“Lahan yang dikelola klien kami sudah melalui uji laboratorium. Hasilnya menunjukkan material di lokasi tersebut layak digunakan sebagai bahan konstruksi, seperti pembangunan jembatan dan bangunan,” jelasnya.

Terkait perizinan, khususnya Surat Izin Penambangan Batuan (SIPB), Tawalani mengakui bahwa pihaknya masih dalam proses melengkapi dokumen yang dibutuhkan.

“Saat ini proses pembangunan sudah berjalan. Kami ingin tetap mengambil peran dalam pembangunan tersebut. Jika persoalan ini berlanjut ke ranah hukum, kami siap menghadapinya,” tegasnya.

Sebelumnya, pada Kamis, 23 April 2026, Jenderal Lapangan Aliansi Pemuda Peduli Taliabu (AP2T), Sauti Jamadin, mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut dugaan maraknya aktivitas galian C ilegal di Pulau Taliabu.

Menurut Sauti, penambangan ilegal terjadi di sejumlah titik dan dilakukan secara terbuka tanpa izin resmi. Ia pun meminta Polda Maluku Utara segera mengambil tindakan sesuai hukum yang berlaku, termasuk menyelidiki dugaan praktik perizinan ilegal.

Selain itu, Sauti juga menyoroti sikap aparat kepolisian yang diduga melindungi aktivitas tersebut.

“Bagaimana kami tidak menyayangkan, mereka (polisi) justru mengawal alat berat menuju lokasi tambang ilegal. Bahkan, kami menduga ada praktik penyogokan terhadap pihak kepolisian untuk melancarkan aktivitas tersebut,” ujarnya.

redaksi

Recent Posts

Harga Pertamax di Morotai Tembus Rp16.650, Warga: Pemerintah Pusat Bunuh Torang

Kenaikan harga BBM non-subsidi yang diberlakukan pemerintah pusat mulai dirasakan masyarakat di Pulau Morotai, Maluku…

24 menit ago

Oknum Kades Woekob Dilaporkan atas Dugaan Pengeroyokan, Korban Alami Luka Berat

Kasus dugaan penganiayaan dan pengeroyokan yang menyeret oknum Kepala Desa Woekob, Kecamatan Weda Tengah, Kabupaten…

2 jam ago

Nexus Gamalama Diluncurkan, Siap Perkuat Ketangguhan Iklim Kelompok Rentan

Pemerintah Kota Ternate meluncurkan Program Nexus Gamalama sebagai upaya memperkuat ketangguhan masyarakat terhadap risiko bencana…

5 jam ago

Kejari Ternate Selidiki Pembangunan Villa Lago Montana di Kawasan Lindung Danau Ngade

Tim Bidang Intelijen Kejaksaan Negeri (Kejari) Ternate mulai melakukan pengumpulan data (puldata) dan pengumpulan bahan…

7 jam ago

Anggaran Kanal di Halmahera Timur Dinilai Sudah Sesuai Mekanisme

Polemik alokasi anggaran jaringan kanal senilai Rp40,8 miliar di Kabupaten Halmahera Timurl menjadi perhatian publik.…

13 jam ago

Gubernur Sherly Buka Porprov V Maluku Utara di Tobelo, Siapkan Atlet Menuju PON 2028

Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos, secara resmi membuka Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) V Maluku…

22 jam ago