Bak sampah di pasar Gamalama Ternate. Foto: Eko Pujianto/Cermat
Aktivitas ekonomi masyarakat di Kota Ternate, Maluku Utara, terlihat semakin menggeliat memasuki hari ke-14 Ramadan 1447 Hijriah. Berbagai sudut kota dipadati warga yang berburu takjil menjelang waktu berbuka puasa. Namun di balik ramainya perputaran ekonomi tersebut, volume sampah di sejumlah ruas jalan utama mulai menunjukkan peningkatan.
Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Ternate, Musli Muhammad mengatakan, kemunculan pedagang musiman menjadi salah satu penyebab munculnya titik-titik penumpukan sampah baru di beberapa lokasi.
“Kita lihat mulai hari pertama sampai hari ke-14 Ramadan ini memang ada beberapa titik yang mengalami sedikit penumpukan sampah, meskipun tidak terjadi di semua lokasi. Saya kira ini hal yang cukup normal karena adanya pedagang musiman,” ujar Musli saat ditemui usai menghadiri rapat paripurna di Kantor DPRD Kota Ternate, Rabu, 4 Maret 2026.
Menurutnya, pedagang musiman yang paling banyak bermunculan selama Ramadan adalah penjual kelapa muda dan aneka takjil yang berjualan di sepanjang badan jalan.
Mengantisipasi kondisi tersebut agar tidak semakin krodit, DLH Kota Ternate langsung mengambil langkah cepat. Musli mengaku telah menginstruksikan jajarannya untuk turun langsung ke lapangan memberikan edukasi kepada para pedagang.
Tidak hanya memberikan imbauan, petugas juga membagikan kantong dan karung sampah secara gratis kepada para pedagang. Langkah ini dilakukan agar sampah sisa dagangan dapat dikumpulkan di satu tempat dan tidak berserakan di sepanjang jalan.
“Ini untuk mempermudah kami dalam melakukan pengangkutan. Jadi sampah tidak lagi berserakan di badan jalan,” jelasnya.
Terkait total volume sampah selama Ramadan, Musli bilang perhitungan secara menyeluruh baru akan dilakukan setelah Ramadan berakhir. Meski begitu, berdasarkan simulasi dan pemantauan harian, terjadi peningkatan dibandingkan hari biasa.
Pada hari normal, produksi sampah di Kota Ternate rata-rata mencapai sekitar 100 ton per hari. Selama Ramadan, angka tersebut diperkirakan meningkat seiring perubahan pola aktivitas masyarakat.
Menurut Musli, perubahan pola konsumsi warga dari siang ke malam hari menjadi faktor utama meningkatnya produksi sampah. Aktivitas masyarakat yang lebih banyak berlangsung pada malam hari turut menggeser waktu produksi sampah rumah tangga maupun sisa dagangan para pedagang.
“Pola konsumsi yang berubah dari siang ke malam tentu berpengaruh terhadap produksi sampah di beberapa titik. Namun sejauh ini kondisi masih terkendali dan sudah kita antisipasi,” pungkasnya.
Oleh: Yanuardi Syukur Dosen Antropologi Universitas Khairun KORPS Garda Revolusi Iran (IRGC), sebuah cabang elite…
Kota Ternate merupakan wilayah dengan indeks pembangunan manusia (IPM) tertinggi di Maluku Utara (Malut) yang…
Selamat menjalankan ibadah puasa. Hari ini, Kamis, 5 Maret 2026 adalah hari kelima belas ibadah…
Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur (Haltim) resmi menghibahkan lahan seluas 3,75 hektare kepada Perum Bulog untuk…
Polres Pulau Morotai, Maluku Utara, diminta mengusut dugaan penyalahgunaan BBM bersubsidi jenis minyak tanah yang…
Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Sultan Hidayatullah Sjah, menggelar sosialisasi 4 Pilar…