Perspektif

Sekutu Asia Meragukan Amerika

Oleh: Yanuardi Syukur
Pengajar Antropologi Globalisasi di Universitas Khairun, Ternate

Perang di Iran yang baru berusia dua minggu telah memicu guncangan strategis hingga ke kawasan Indo-Pasifik.

Mina Pollmann di laman The Diplomat mencatat bahwa pemindahan satu pertiga armada permukaan AS dan sistem pertahanan udara canggih termasuk THAAD dari Korea Selatan mengirimkan pesan yang bertolak belakang dengan janji Washington untuk “fokus pada Indo-Pasifik” (Pollmann, The Diplomat, 14/3/2026). Ironisnya, dalam sudut sekutu AS, di saat yang sama, arus utama aset pertahanan AS justru mengalir deras ke Timur Tengah.

Sistem THAAD yang dipindahkan tersebut adalah sistem senjata yang dirancang untuk mencegat dan menghancurkan rudal balistik jarak pendek, menengah, dan menengah-ke-jauh pada fase terminal penerbangannya—yaitu saat rudal tersebut mulai turun kembali ke atmosfer menuju targetnya. Berbeda dengan sistem pertahanan lainnya, keunikan THAAD adalah kemampuannya melakukan intersepsi baik di dalam atmosfer (endoatmosfer) maupun di luar atmosfer (eksoatmosfer).

Arash Marzbanmehr dalam “Blinding US Eyes in the Middle East” melaporkan bahwa Amerika Serikat telah memindahkan setidaknya satu baterai THAAD ke Yordania, memperkuat pertahanan udara di kawasan, serta mengerahkan ratusan sorti (satu kali misi tempur atau operasional yang dilakukan oleh satu pesawat udara) penerbangan strategis menggunakan C-17 Globemaster III dan C-5 Galaxy dari pangkalan-pangkalan di Fort Hood dan Fort Bliss—markas besar brigade pertahanan udara AS (Marzbanmehr, 10/3/2026).

Konsentrasi kekuatan ini, meskipun dimaksudkan untuk melindungi kepentingan AS di Timur Tengah, justru ‘mengorbankan postur pertahanan AS di Indo-Pasifik.’

Fenomena ini memunculkan tiga persoalan fundamental tentang kredibilitas Amerika sebagai mitra keamanan bagi sekutnya di Indo-Pasifik.

Pertama, terjadi erosi kepercayaan terhadap komitmen keamanan AS.

Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung mengakui secara terbuka bahwa meskipun menentang pemindahan aset militer, negaranya tidak dapat “memaksakan posisi” kepada Amerika (Cave dkk., New York Times, 13/3/2026).

Baca Juga:
Ironi Dari Kyiv ke Teheran

BeiDou di Tangan Iran
Australia dalam Pusaran Konflik Iran

Pengakuan ini mencerminkan realitas pahit dalam hubungan aliansi yang asimetris, yakni sekutu kecil tidak memiliki daya tawar saat patronnya mengambil keputusan sepihak.

Ely Ratner, mantan asisten menteri pertahanan AS, menegaskan bahwa “memindahkan pertahanan udara keluar dari Korea mengirimkan sinyal buruk di tengah kekhawatiran besar tentang komitmen AS terhadap Asia.” Sinyal ini semakin diperkuat oleh pernyataan singkat Pentagon yang menjawab kekhawatiran sekutu Asia dengan “kami tidak memiliki apa pun untuk disampaikan” (Cave dkk., 2026).

Kedua, krisis ini membuka ruang bagi manuver ekspansif Tiongkok.

Cave, Choe, Hernández, dan Schmitt melaporkan bahwa China Daily memuat kartun politik yang menggambarkan AS terperangkap jaring laba-laba dengan judul “AS Terperosok di Timur Tengah” (New York Times, 13/3/2026).

Di lapangan, citra satelit menunjukkan aktivitas reklamasi Tiongkok di Kepulauan Paracel justru semakin meningkat, memanfaatkan perhatian global yang teralihkan. Tsuneo Watanabe dari Sasakawa Peace Foundation memperingatkan bahwa Jepang harus bersiap menghadapi “skenario terburuk” karena ketidakpastian kebijakan Trump (Cave dkk., 2026).

Sementara itu, Marzbanmehr mencatat bahwa serangan Iran terhadap radar AN/FPS-132 di Qatar dan AN/TPY-2 di UAE, Arab Saudi, dan Yordania menunjukkan betapa rapuhnya infrastruktur pertahanan AS di kawasan (Marzbanmehr, 2026).

Ketiga, terguncangnya keyakinan pada rantai pasok senjata AS.

Mina Pollmann memberi catatan bahwa lebih dari seribu rudal Patriot telah digunakan dalam dua minggu pertama perang, sementara produksi tahunan AS hanya 600 unit (Pollmann, 2026).

Mengutip Cave dkk. (2026), investigasi pemerintah Jepang menemukan 118 pesanan senjata senilai US$7,2 miliar tertunda lebih dari lima tahun. Presiden Lee, lanjut Cave dkk., dengan tegas menyatakan: “Jika kita bergantung pada orang lain, ada kalanya ketergantungan itu bisa runtuh. Anda harus selalu memikirkan apa yang akan dilakukan jika tidak ada dukungan eksternal.”

Marzbanmehr (2026) menambahkan dimensi lain yang mengkhawatirkan, yakni Iran secara sistematis menargetkan radar AN/TPY-2. Radar canggih tersebut dirancang khusus untuk pertahanan rudal balistik dengan fungsi utamanya adalah mendeteksi, melacak, dan membedakan rudal balistik musuh. Masing-masing radar bernilai hingga US$500 juta (Rp8,45 Triliun).

Dengan menghancurkan radar canggih ini, Iran tidak hanya melumpuhkan kemampuan deteksi dini AS, tetapi juga menunjukkan bahwa aset termahal sekalipun tidak kebal dari serangan.

Akhirnya, ketika Pentagon menjawab kekhawatiran sekutu Asia-nya dengan pernyataan singkat bahwa “kami tidak memiliki apa pun untuk disampaikan” (Cave dkk., 2026), sesungguhnya pesan itu telah berbicara lebih keras dari ribuan kata. Sekutu AS di Asia kini memahami bahwa dalam geopolitik, ‘tidak ada jaminan abadi, kecuali yang dibangun sendiri.’

redaksi

Recent Posts

Metabolisme Berbuka dan Sahur

Oleh: Dr. Hasbullah, S.TP., M.Sc* Puasa di bulan Ramadan adalah salah satu syariat Islam yang…

22 menit ago

Aspidsus Kejati Maluku Utara Fajar Haryowimbuko Meninggal Dunia

Kabar duka menyelimuti keluarga besar Kejaksaan Tinggi Maluku Utara. Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Maluku…

36 menit ago

VIDEO: KOPRA dan Cerita Turun-Temurun

Di tengah perkembangan ekonomi dan pergeseran pilihan pekerjaan bagi generasi muda, keputusan untuk tetap melanjutkan…

1 jam ago

Morotai dalam Pusaran Indo-Pasifik

Oleh: Yanuardi Syukur Pengajar Antropologi Globalisasi di Universitas Khairun, Ternate/Alumni Short Course "Foreign Policy: Strategic…

1 jam ago

Polemik Internal, Sekretaris KNPI Morotai Tegaskan Keputusan Somasi

Sekretaris Umum Dewan Pengurus Daerah (DPD) II Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Pulau Morotai, Maluku…

2 jam ago

IKAPATTI Maluku Utara Berbagi 500 Paket Takjil dan Gelar Buka Puasa Bersama

Dewan Pengurus Daerah Ikatan Alumni Universitas Pattimura (DPD IKAPATTI) Maluku Utara menggelar aksi sosial berbagi…

10 jam ago