Saya, ketika menyerahkan buku Orang Halmahera karya saya ke Alm Irfan Ahmad. Ia adalah salah satu narasumber dalam buku itu.
Oleh: Faris Bobero
“Tinta kebaikan tak pernah kering. Ia hidup dalam tulisan,” kata itu diucapkan Irfan Ahmad kepada saya, suatu sore saat saya berkunjung ke kediamannya. Saya datang untuk menjemput sebuah karya monumentalnya: Sejarah Ternate: dari Kota Tradisional ke Kota Kolonial Abad XIII-XX (2025).
Kalimat itu bukan sekadar basa-basi seorang penulis. Bagi Bang Irfan—begitu saya menyapanya—kata-kata adalah nyawa, dan sejarah adalah jalan pengabdian.
Dalam pertemuan itu, saya sempat bercerita tentang niat membangun cermat Institute. Sebuah wadah riset sejarah dan kebudayaan untuk merawat sekaligus membumikan pengetahuan tempatan Maluku Utara. Mendengar itu, matanya berbinar. Beliau bahkan menawarkan diri untuk terlibat sepenuhnya.
Namun, di sela antusiasme itu, Bang Irfan menyelipkan sebuah pesan yang kini terasa seperti wasiat. “Faris, ingat. Kamu harus tetap menyuarakan kepastian hidup O’Hongana Manyawa,” ucapnya serius. Tak lupa, ia mengingatkan saya untuk menjaga kesehatan diri—hal yang seringkali ia tekankan berulang kali.
Persahabatan kami bukan sekadar obrolan di beranda rumah. Akhir tahun 2025, di Kedai Kofia, kami sempat mengulas kembali hasil kerja lapangan di Halmahera. Kami membedah dampak pertambangan, konflik horizontal yang kerap dimainkan elite, hingga nasib masyarakat hukum adat O’Hongana Manyawa.
Bang Irfan membawa perspektif risetnya bersama Yayasan The Tebings, sementara saya berbagi pengalaman belajar lapangan di hutan Halmahera yang telah saya tekuni sejak 2006.
Setiap kali berdiskusi, Bang Irfan selalu menunjukkan keseriusan yang luar biasa. Namun, ia tak pernah absen mengingatkan soal fisik. “Dulu, saya mengidap saraf kejepit di tulang belakang. Tidak bisa tidur, susah jalan, bahkan duduk di depan laptop pun susah. Saya paksa latihan agar tidak sakit. Kamu harus jaga kesehatan!”
Dulu, saya sering menganggap remeh nasihat itu. Padahal, tubuh saya sebenarnya sudah mulai mengirim sinyal yang sama.
Kehadiran Guntur Coboby dalam diskusi kami menambah hangat suasana. Sebagai sesama orang muda yang lahir dan besar di Halmahera Utara (Halut), kami sempat bermimpi besar. “Kita bertiga ini dari Halut. Ayo kita riset tentang Yasin Gamsung, pejuang lokal di sana, agar bisa jadi Pahlawan Nasional,” cetus Bang Irfan saat itu.
Sang Pemburu Arsip dan Kritik yang Membangun
Di mata publik, Irfan Ahmad dikenal sebagai akademisi muda yang progresif. Ia adalah sejarawan yang telaten. Saya saksi hidup bagaimana ia berburu naskah sejarah Maluku Utara dari berbagai penjuru dunia. Kami sering bertukar arsip, saling melengkapi kepingan masa lalu yang terserak.
Jauh sebelum ia dikenal luas, saya mengenalnya sebagai sosok yang haus diskursus. Pada medio 2016, saat saya bersama Rajif Duclun, Indra Talib, Budi Janglaha, Fatir M Natsir, Firjal Usdek, Irfan Mahardika, Guntur Coboby mengelola media komunitas Jalamalut, Bang Irfan adalah penulis yang paling produktif.
Ia bukan sekadar tamu di rubrik Perspektif, yang digawangi Firjal Usdek. Beliau adalah kritikus yang tajam. Ia pernah mengkritik habis-habisan cara kru Jalamalut mengambil data lapangan secara terbuka di media sosial. Awalnya, kami sempat kaget, bahkan sedikit emosi. Bagi kami, gaya menerbitkan artikel kami adalah “Jurnalisme Seadanya”. Sementara tugas menganalisis hingga meramu artikel dengan segala reverensi itu tugas akademisi. Belakangan kami sadar: kritik Bang Irfan adalah energi yang mendewasakan intelektualitas kami.
Pengabdian Irfan Ahmad untuk Sultan Baabullah
Salah satu jejak emas Bang Irfan adalah keterlibatannya dalam pengukuhan Sultan Baabullah sebagai Pahlawan Nasional.
Dimulai dari diskusi publik di Kedai JMG (Jalamalut Media Grup) milik almarhum Ali Jarod pada Desember 2019, Bang Irfan hadir sebagai narasumber bersama Rinto Taib dan Soekarno M. Adam. Saat itu, ia merupakan salah satu penyusun naskah akademik Sultan Baabullah.
Perjuangan itu membuahkan hasil. Pada 10 November 2020, Sultan Baabullah resmi dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional. Namun, Bang Irfan tidak berhenti di situ. Tenaga dan pikirannya seakan dihibahkan untuk para pejuang lain di Halmahera Tengah, Halmahera Barat, Tidore, hingga Halmahera Selatan agar diakui oleh negara.
Selain dedikasinya untuk para pahlawan, Bang Irfan adalah penulis yang subur. Dua belas buku telah ia lahirkan. Terakhir, ia sempat bercerita tentang naskah berjudul Blasteng yang sudah dikirim ke penerbit. Saya sempat menanti-nanti buku itu lahir dan dampai ke tangan saya.
Namun, takdir berkata lain.
Rabu, 08 April 2026, pukul 00.04 WIT. Saat saya sedang membuka laptop untuk membaca beberapa literatur di Jejakmalut—situs yang menjadi rumah bagi seluruh karya tulisnya Irfan Ahmad—sebuah telepon masuk. Kabar duka itu datang: Bang Irfan telah berpulang.
Saya bergegas ke rumah duka. Jenazahnya tiba pukul 00.55 WIT dari RST. Beliau menghembuskan napas terakhir pada pukul 23.45 WIT setelah dirawat selama empat hari.
Semasa hidupnya, tenaga dan pikirannya didedikasikan untuk masa lalu, masa kini, dan masa depan Maluku Utara. Bang Irfan, karyamu abadi. Engkau telah membuktikan bahwa tinta kebaikan itu memang tak pernah kering—ia akan terus mengalir dalam setiap lembar sejarah yang engkau tulis.
Selamat jalan, Bang. Al-Fatihah.
Jejak Langkah Irfan Ahmad (1983-2026)
Lahir di Ngofagita, Halmahera Utara, 12 Februari 1983. Meraih gelar Sarjana Ilmu Sejarah di Universitas Khairun (2008) dan Magister Ilmu Sejarah di Universitas Gadjah Mada (2012). Sejak 2009, beliau mendedikasikan dirinya sebagai dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun.
Beberapa Karya Monumental:
Pemerintah Kota Ternate memberikan fleksibilitas khusus bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bertugas di Kecamatan…
Dalam rangka memperingati Milad ke-15, Dewan Pengurus Komisariat Federasi Pertambangan dan Energi (DPK FPE) PT…
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Ternate, Rizal Marsaoly, dijadwalkan mendampingi Gubernur Maluku Utara dalam kunjungan ke…
Pemerintah Kota Ternate menggelar entry meeting bersama Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dalam rangka persiapan pemeriksaan…
Dugaan investasi bodong kembali terjadi di Kota Ternate, Maluku Utara, dan kali ini menelan kerugian…
Sekretaris Daerah (Sekda) Halmahera Timur, Ricky Chairul Richfat, memimpin rapat koordinasi terkait kesiapan pelaksanaan pemilihan…