Sastra

Cerebrum-Cerebellum!

Waktu itu, aku sedang menertawakan mereka yang sedang menertawakan sesuatu.


Bulan terik berkilau menyusuri celah-celah jendela. Sepertinya, malam memang sedang melukis dirinya di dinding-dinding rumah tetangga. Dengan sengaja, terlebih dahulu kubiarkan Chopin menggulirkan Nocturne ke dalam telingaku, menghirup habis ironi dari kematian kolosalnya. Karena apa yang mungkin tak bisa kita terima dari bayangan ini adalah fakta bahwa nada-nada itu bercampur dengan suara burung hantu yang mengantuk di bawah jendela kamarku. Komposisi yang terdengar merdu, berkelabat sambil lalu, dan menghilang tanpa bekas; tanpa pamrih, dan itu terjadi tadi sore setelah kumandikan beberapa kucing liar yang datang bertamu di pintu dapur, tatkala mendengar dengan seksama derit suara ranjang tetangga yang sedang bergoyang, merangkak pelan-pelan masuk ke dalam telingaku atau kini, di telingamu—menuntun sejumlah lamunan pendek untuk merayakan malam yang terasa kian puitis.

Seperti dua orang pria paruh baya yang sedang duduk bercakap di bawah pohon belimbing di belakang rumah, coba bayangkan! mereka terlihat sangat serius; tangan mereka bergerak saling memintal—sepintas, itu terlihat seperti diskusi-diskusi yang mungkin saja pernah dilakukan oleh orang-orang Yunani. Tapi tidak, itu hanyalah dua orang yang sedang serius bercakap-cakap dan lupa bahwa tikus-tikus sedang bertengkar tak jauh dari tempat mereka duduk, di bawah pohon belimbing yang sama, di sebelah bau amis gorong-gorong yang sedang mengendapkan limbah orang-orang bermartabat. Tikus-tikus dengan berani lari bersembunyi di sana, setelah terus menerus di usir dengan lemparan kerikil oleh tangan-tangan beradab—mereka pada akhirnya hanya melintas satu dua kali karena takut. Kalut. Tangan-tangan bermartabat memang selalu begitu.

Barangkali itu memang bukan tikus-tikus yang berasal dari zaman Yunani. Tetapi, seseorang bisa saja secara semberono membayangkan bahwa percakapan serius yang dilakukan oleh dua orang aneh itu adalah jelmaan keseriusan yang terwujud dari gerakan ritmis dari dua tangan Plato yang sedang menggurui murid-muridnya di Athena. Apa yang membuat mereka berbeda hanyalah karena dua orang lelaki itu tertawa saat tikus-tikus serius mengantisipasi pengusiran yang dilakukan orang-orang bermartabat dengan melawan instingnya. Tikus-tikus yang memberontak dengan mengorganisasi sebuah koloni karena takut dan kalut di hadapan tangan-tangan orang-orang bermartabat. Tikus-tikus “kiri” yang tersingkir ke dalam gorong-gorong yang dibangun oleh tangan-tangan “kanan”.

Bagaimanapun mari kita sepakati saja bahwa kebenaran memang bukan tentang itu dan tentang ini, tentang hitam dan putih, atau tentang apa yang masuk akal dan keluar dari akal, atau apa yang pergi ke surga dan apa yang jatuh ke dalam neraka. Semestinya cerita sangat pendek ini akan bergerak dengan semacam aksentuasi deduktif dari suatu kisah misterius—kalau boleh disebut begitu—karena tiba-tiba saja (sambung cerita) seorang lelaki datang dari dalam kegelapan dan nampaknya aku mengenalnya. Ia berdiri dan tak menunjukkan tingkah yang berarti, mungkin saja, ia memang harus ada sebagai bagian dari cerita misterius ini—kalau boleh dibilang begitu.

Tapi tidak, sebuah cerita yang “misterius” seharusnya menyediakan lebih banyak lubang untuk diinjak, lubang-lubang yang hendak menunjukkan bahwa sang pencerita memang mahir menebar tanda tanya. Dengan harapan bahwa pembaca akan tidur nyenyak di atas bantal empuknya dengan terlebih dahulu repot-repot berusaha menerka-nerka jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang datang dari lubang-lubang yang ia injak dalam cerita-cerita.

Tetapi marilah kita saksikan bahwa lelaki itu—yang datang dari kegelapan terlihat tak bergeming laiknya seorang pembunuh berantai yang menunggu para algojo membunyikan letusan klasikal dari (Misalnya) Derringger Kaliber 44—melesatkan peluru ke dalam batok kepalanya. Meski begitu, untuk tidak mengatakan bahwa ini adalah sebuah cerita kusir yang akan ditentukan nasibnya oleh diktum Barthesian (Ketika kita melihat foto diri kita atau orang lain, kita benar-benar melihat orang mati).

Marilah kita lanjutkan adegan berikutnya saat sang lelaki, tokoh kita, memantik korek api untuk menyulut bibir tembakau, sehingga kau sungguh-sungguh bisa mendengar suara merdu dari asap yang melintas di kerongkongannya, mengisi paru-parunya, dan sialnya sepenggal cerita mencuat keluar dari sana.

Lelaki itu, yang muncul dari kegelapan, yang melihat dua orang lelaki di bawah pohon belimbing, nampaknya memang tak sadar sedang melukai kenyataan fiksional—satu-satunya kenyataan yang bisa kita percaya sebagai fakta—fakta yang menjelma hantu-hantu imajiner Copernican di abad gila ini, yang masih saja dirasuki oleh adagium Cogito dan himpunan rumus matematika; yang pada gilirannya menggiring fantasi ke tepi kuburan agar dibaca oleh orang-orang mati (kupikir Barthes memang seorang Cartesian).

Karena telah tiba waktunya lelaki itu—pada akhirnya—mengambil pena di saku bajunya, membuka sebuah catatan, memilin satu per satu kertas dan mulai menulis dengan malas untuk merayakan alegori dari kematiannya yang asali. Meskipun siapapun pasti curiga bahwa memang benar kalimat pertama itu akan berbunyi:

Waktu itu, aku sedang menertawakan mereka yang sedang menertawakan sesuatu

Dengan tidak terlalu terburu-buru. Letusan senjata berbunyi, peluru melesat membelah udara. Meledak tepat di antara Cerebrum dan Cerebellum dalam batok kepalaku. Kepalamu. Kepala lelaki itu. Meledak. Buyar. Tempias.

Aku tertawa.

redaksi

Share
Published by
redaksi

Recent Posts

Kebudayaan Lokal, Fondasi Pembangunan Halmahera Tengah: Saatnya Masuk Muatan Lokal

Oleh: AGUS HI JAMAL Halmahera Tengah memiliki kekayaan kebudayaan lokal yang tidak hanya berupa benda…

55 menit ago

DLH Morotai Olah Limbah Pasar Jadi Kompos

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pulau Morotai, Maluku Utara mulai mengolah sampah organik dari pasar menjadi…

1 jam ago

Fitrawan Popa Jabat Camat Morselbar, Rio Pawane Minta Perkuat Pelayanan Warga

Muhammad Fitrawan Popa resmi menjabat sebagai Camat Morotai Selatan Barat (Morselbar) menggantikan Syamsul Bachri Y.…

1 jam ago

Jarak Pandang di Morotai Menurun akibat Kabut Asap, Nelayan Diminta Ekstra Hati-hati

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pulau Morotai, Maluku Utara mengingatkan masyarakat, khususnya nelayan, agar meningkatkan kewaspadaan menyusul…

12 jam ago

2 Kali Mangkir, Polres Halmahera Tengah Upaya Paksa Tangkap Oknum Anggota DPRD

Polres Halmahera Tengah, mengambil langkah tegas melakukan upaya paksa terhadap oknum anggota DPRD dengan inisial…

21 jam ago

Polda Malut Terima 32 Senjata Api Ilegal dan 358 Butir Amunisi dari Masyarakat

Polda Maluku Utara menerima 32 senjata api dan 358 butir amunisi yang diserahkan masyarakat secara…

1 hari ago