Oleh: Dinda Rahma Al Hujairah
GENERASI Z kerap kali mendapat label yang kurang mengenakkan di ruang publik: generasi “stroberi” yang lembek, rapuh, dan mudah depresi. Generasi Z hari ini tumbuh dalam kepungan sistem yang gemar mendikte. Mereka dipaksa tunduk pada standar kesuksesan yang dikerdilkan lewat nominal uang, dibungkam oleh kepentingan materi, hingga kerap dicap sebagai generasi rapuh yang mudah depresi.
Namun, dunia sering kali salah menilai. Di balik riuhnya kecemasan dan tekanan yang mereka pikul saban hari, generasi ini sebenarnya menyimpan potensi laten yang luar biasa besar untuk melakukan resistensi. Depresi yang mereka alami bukanlah tanda menyerah, melainkan sebuah alarm balik dari jiwa-jiwa murni yang menolak diperbudak. Di titik terendah itulah, Gen Z justru memiliki kapasitas besar untuk membalikkan keadaan: mengubah kerapuhan menjadi perlawanan batin yang radikal.
Memasuki tahun 2026, alarm darurat kesehatan mental kian nyaring berbunyi. Data program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kemenkes per Maret 2026 mendeteksi hampir 10 persen anak dan remaja kita mengalami indikasi masalah kejiwaan, di mana sekitar 363 ribu di antaranya menunjukkan gejala depresi nyata.
Belum lagi angka belasan persen dari survei SMRC (Saiful Mujani Research and Consulting) di Maret 2026 atau ratusan ribu anak muda yang terjaring gejala depresi dalam skrining Kemenkes tersebut, bukanlah sekadar barisan statistik mati di atas kertas. Angka-angka itu adalah akumulasi dari jeritan senyap Gen Z yang lelah jiwanya terus-menerus diperas oleh sistem sekuler kapitalistik yang menempatkan uang sebagai majikan tertinggi.
Jika kita menilik data nasional melalui laporan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) oleh Kementerian Kesehatan, prevalensi depresi di Indonesia justru paling tinggi dialami oleh kelompok usia 15–24 tahun (Gen Z), yaitu menyentuh angka 2%.
Berbagai studi lanjutannya menyebutkan bahwa tingginya angka cemas dan depresi pada Gen Z di Indonesia ini dipicu oleh akumulasi tekanan yang kompleks: beban akademis/ekonomi, ketidakpastian lapangan kerja masa depan, paparan konstan terhadap standar hidup semu di media sosial (cyberbullying dan FOMO), hingga trauma masa lalu atau pola asuh.
Menariknya, jika ditarik ke konteks lokal, data historis berskala besar seperti Riskesdas menunjukkan bahwa wilayah kepulauan seperti Maluku Utara menempati salah satu posisi teratas dalam prevalensi depresi nasional, dengan angka mencapai 9,3 persen. Bahkan baru-baru ini, Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara mengeluarkan alarm kesehatan remaja yang menyebutkan adanya klaster masalah kesehatan mental yang cukup dominan, salah satunya di Kota Ternate.
Fakta-fakta ini membongkar sebuah realita pahit: di balik keindahan alam dan kekayaan komoditasnya, ada beban mental yang sangat berat yang harus dipikul oleh pundak anak-anak mudanya.
Depresi yang dialami Gen Z tidak tumbuh di ruang hampa. Mereka adalah generasi yang lahir dan tumbuh besar di bawah tekanan glorifikasi materi. Hari ini, standar kesuksesan dikerdilkan secara kejam hanya dalam bentuk nominal: rumah estetik, kendaraan mewah, dan gaya hidup konsumtif yang dipamerkan di algoritma media sosial.
Lebih parah lagi, struktur sosial dan politik saat ini seolah mengonfirmasi bahwa kebahagiaan yg hakiki bisa dibeli dengan uang. Fenomena di mana rakyat kecil dibungkam dengan materi, diadu domba demi kepentingan kekuasaan, hingga digiring untuk melawan sesama demi membela oligarki atau penguasa, menjadi tontonan sehari-hari yang merusak kewarasan.
Nyatanya, potensi mereka sebagai pemuda dilemahkan dengan berbagai hal yang merusak jati diri melalui peradaban sekuleristik kapitalistik.ebuah tatanan yang memisahkan agama dari kehidupan dan menjadikan materi sebagai tuhan baru.
Ketika uang dipaksa naik pangkat menjadi “majikan” tertinggi yang mendikte hukum, nurani, dan harga diri bangsa, di situlah Gen Z mengalami guncangan eksistensial. Mereka dipaksa masuk ke dalam sistem pacuan kuda (rat race) yang tidak masuk akal. Mereka lelah cemas karena sadar, sekeras apa pun mereka berlari, mereka sedang dijajah oleh ekspektasi manusia dan tekanan ekonomi yang mencekik.
Akar dari carut-marut ini tidak lain adalah abainya riayah negara terhadap generasi. Alih-alih dirangkul, dilindungi, dan difasilitasi potensi besarnya, generasi muda justru seringkali mendapat stigma buruk dari generasi di atasnya sebagai kelompok yang manja dan lemah. Negara yang harusnya berperan sebagai junnah untuk rakyatnya kini menjadi abai untuk hadir sebagai pengurus yang menjaga akidah, akal, dan mental mereka dari gempuran industri sekuler. Pemuda dibiarkan bertarung sendirian di tengah badai ekonomi dan sosial, sementara kebijakan yang lahir justru sering kali lebih memihak pada pemilik modal. Akibatnya, tanpa adanya riayah yang semestinya, kesehatan mental mereka menjadi tumbal utama.
Rasa cemas yang mereka rasakan membuktikan bahwa nurani mereka belum mati; mereka gelisah karena tahu ada yang salah dengan peradaban saat ini. Sikap kritis yang selama ini dianggap sebagai bentuk ‘pemberontakan’ sebenarnya adalah modal utama mereka untuk mempertanyakan kelayakan sistem sekuler-kapitalistik yang menindas. Ketika kesadaran ini menyatu, kecemasan tidak lagi melumpuhkan, melainkan menjelma menjadi energi penggerak. Gen Z mulai menyadari bahwa untuk mencapai kondisi yang ideal, mereka tidak bisa lagi berharap pada sistem yang abai, melainkan harus menginisiasi perubahan itu dari dalam diri mereka sendiri.
Resistensi senyap ini terlihat jelas dari bagaimana cara Gen Z hari ini mengonsumsi informasi dan mencari jawaban atas kegelisahan hidup mereka. Mereka tidak lagi menelan mentah-mentah narasi media arus utama yang penuh dengan kepalsuan. Sebaliknya, Gen Z sekarang memilih untuk mencari tahu dan menggali kebenaran lewat sharing session, mendengarkan podcast-podcast kritis, bahkan berbondong-bondong meramaikan majelis-majelis ilmu.
Islam adalah solusi memberantas penyebab rapuhnya jiwa gen z. Fitrah manusia adalah taat kepada Allah secara keseluruhan. Apabila manusia mendobrak keras aturan-Nya maka jiwanya tidak akan menerima itu dan tidak akan ada ketenangan dalam hidupnya walaupun tumpukan materi berada dalam hidupnya. Pada akhirnya gangguan kesehatan mental itupun terjadi.
Sistem Kapitalisme telah membuat manusia sakit dengan mencintai materi,sebaliknya sistem Islam yang akan menjadi obat untuk sembuh. Di dalam sistem Islam, manusia akan difasilitasi untuk tetap berada pada fitrah ketaatan karena menjadikan Al Qur’an dan As-sunnah sebagai aturan dalam bernegara.
Hubungan antara penguasa dan rakyat diatur berdasarkan syariat Islam, bukan berdasarkan kepentingan, manfaat, atau melanggengkan kekuasaan. Melalui aturan ini, penguasa diposisikan sebagai pengurus (ra’in) yang kelak dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah dalam menjaga jiwa, akal, dan urusan umat, sebaliknya bukan bertindak sebagai korporasi yang mengejar untung rugi dari rakyatnya.
Atas dasar itu pula, penguasa wajib menerapkan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Mulai dari ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, hingga keamanan. Rakyat wajib taat pada penguasa yang menerapkan syariat Islam tersebut. Ketika seluruh lini kehidupan bersandar penuh pada ketetapan syariat dan bukan hukum buatan manusia yang cacat, maka jaminan ketenangan mental dan keadilan sosial bukan lagi sekadar utopia.
Ketika sebuah generasi sudah sampai pada titik kesadaran ini, maka resistensi mereka telah mencapai puncaknya. Mereka tidak lagi bisa dibeli dengan nominal uang dan tidak lagi bisa digetarkan oleh kecemasan masa depan. Di bawah naungan aturan Allah yang menyeluruh, Gen Z bukan lagi generasi yang meratapi depresi, melainkan generasi merdeka yang siap membangun peradaban yang ideal.
Lebih jauh lagi, keterlibatan aktif generasi dalam tatanan ini dijamin secara mutlak dalam dua fungsi kontrol yang fundamental. Pertama, rakyat memiliki hak syuro (musyawarah) dengan penguasa dalam berbagai hal yang diatur oleh syariat, sehingga suara dan aspirasi generasi muda tidak lagi dikebiri, melainkan didengar sebagai bagian dari pengambilan kebijakan publik. Kedua, rakyat memiliki kewajiban muhasabah (mengoreksi) penguasa yang berbuat kezaliman. Kewajiban batin inilah yang mengubah kecemasan dan sikap kritis Gen Z yang selama ini terombang-ambing, menjadi sebuah keberanian terarah untuk meluruskan jalannya roda pemerintahan. Ketika hak syuro dan kewajiban muhasabah ini berjalan beriringan di atas koridor ketakwaan, maka resistensi mereka telah mencapai puncaknya. Di bawah naungan aturan Allah yang menyeluruh, Gen Z bukan lagi generasi yang meratapi depresi, melainkan generasi merdeka yang siap mengawal dan membangun kembali peradaban yang ideal.
*Penulis merupakan guru di sebuah les privat Teras Qur’an Tidore–sangat menyukai dunia literasi, penikmat fotografi alam, dan aktif membagikan tulisan inspiratif di media sosial.
*anda juga dapat menikmati tulisan menarik lainnya di kolom perspektif cermat.co.id.
Polda Maluku Utara terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Bumi…
Polres Pulau Taliabu, Maluku Utara, memusnahkan setidaknya 1.326 botol minuman beralkohol (mihol) hasil sitaan dalam…
Kapolda Maluku Utara, Irjen Pol Arif Budiman, memimpin upacara peringatan Hari Bhayangkara ke-80 sebagai inspektur…
Kapolres Ternate AKBP Anita Ratna Yulianto memimpin upacara peringatan Hari Bhayangkara ke-80 di Markas Polres…
Tim hukum korban kasus dugaan penganiayaan yang melibatkan oknum Kepala Desa Woekob, Kecamatan Weda Tengah,…
Oleh: Abu Zubair Latupono, S.IP., M.M. Mahasiswa Doktoral Ilmu Manajemen Universitas Terbuka 1 Juli 2026,…