Hilir-mudik pekerja tambang di jalanan permukiman Lelilef, Weda Tengah, Halmahera Tengah, Maluku Utara, pada Kamis, 23 Januari 2025. Foto: Rian Hidayat Husni/cermat
Tingginya mobilitas penduduk hingga kehadiran berbagai tempat prostitusi di wilayah Lelilef, Halmahera Tengah, Maluku Utara, memungkinkan pekerja tambang rentan terpapar virus HIV/AIDS.
Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) Lelilef di Kecamatan Weda Tengah, Halmahera Tengah, mencatat saat ini penderita HIV di Lelilef berjumlah 9 orang.
Dari jumlah kasus tersebut, 1 orang merupakan wanita pekerja seks (WPS), 1 orang lelaki seks lelaki (LSK) dan 2 orang waria. Sementara 5 kasus lainnya merupakan pasien rujukan dari luar wilayah.
“Pemicunya karena mobilitas penduduk yang tinggi, juga terdapat berbagai tempat prostitusi. Ini menjadi ancaman untuk masyarakat, terutama pekerja tambang,” kata Kepala PKM Lelilef, Asjuati Tawainella, sejak Rabu, 22 Januari 2025.
Asjuati menuturkan, dua desa di Kecamatan Weda Tengah yakni Lelilef Sawai dan Woebulen, memang sudah ditetapkan sebagai kampung penanganan HIV/AIDS pada November 2024 lalu. Penetapan ini dimaksudkan untuk menekan angka HIV/AIDS di dua wilayah tersebut.
Saat ini, kata dia, jumlah pemeriksaan HIV/AIDS di PKM Lelilef mencapai angka 164 orang dengan sasaran pemeriksaan mulai dari ibu hamil hingga populasi kunci seperti pekerja seks komersial (PSK).
“Untuk PSK sendiri kami melakukan pemeriksaan di sejumlah penginapan yang mempekerjakan mereka. Pemeriksaan itu harus ada izin dulu, kemudian ada surat kesediaan untuk individu yang nanti diperiksa,” katanya.
Asjuati bilang, pihaknya juga terus menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat terkait bahaya HIV/AIDS yang kini menjadi ancaman serius.
“Sosialisasi ini menyasar ke sekolah dan ibu hamil saat pelaksanaan posyandu. Intinya, kami mengajak agar masyarakat memiliki kesadaran akan bahaya virus ini,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Halmahera Tengah, Lutfi Djafar mengatakan, penyebab angka HIV/AIDS di Halmahera Tengah juga terindikasi pada titik masuknya mobilitas masyarakat dari berbagai daerah.
Menurutnya, hal itu tak mengherankan lantaran di Halmahera Tengah terdapat industri pertambangan yang mengakibatkan populasi penduduk meningkat.
Hingga Januari 2025, secara keseluruhan, kata dia, angka HIV di Halmahera Tengah sudah mencapai 120 kasus.
“Tetapi pada aspek kesehatan, Halteng memang beberapa kali meraih penghargaan secara nasional. Kita punya inovasi kesehatan yang tergolong cukup baik,” ujarnya.
Lutfi menuturkan bahwa Dinkes Halmahera Tengah terus berupaya menyadarkan masyarakat terkait penularan HIV melalui kerja sama dengan pusat kesehatan masyarakat.
“Ada sekitar 12 PKM yang sejauh ini kinerjanya sudah baik dalam memberikan kesadaran terhadap masyarakat. Jadi, kita juga berharap agar masyarakat memiliki peran aktif dalam penanganan penyakit menular ini,” ujarnya.
Panitia Khusus (Pansus) II DPRD Kota Ternate memfinalisasi dua Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) usulan Pemerintah…
Dinas Pendidikan (Disdik) Pulau Morotai, Maluku Utara, menyampaikan penjelasan terkait sejumlah barang pengadaan berupa mobiler…
Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku Utara kembali memeriksa Sekretaris Daerah Provinsi (Sekprov) Maluku Utara, Samsuddin A.…
Satuan Tugas (Satgas) Sapu Bersih (Saber) Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan di Maluku Utara…
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pulau Morotai meminta aparat penegak hukum dan inspektorat daerah melakukan…
Sekretaris Daerah Kota Ternate, Rizal Marsaoly, menyatakan apresiasinya terhadap peran media dalam momentum Hari Pers…