Categories: News

Nobar Film Pesta Babi Masif Digelar di Berbagai Daerah

Pesta Babi, film bergenre dokumenter garapan jurnalis investigasi Dhandy Laksono dan Cypri Dale makin masif ditonton di berbagai daerah di tengah ancaman pembubaran oleh aparat keamanan.

Sejak 7 Mei 2026, Rumah Produksi Watchdoc mencatat adanya 500 titik penayangan dan 2228 pengajuan nobar film tersebut.

Film ini menjadi perbincangan luas usai sejumlah agenda nonton bareng (nobar) di berbagai daerah, mengalami penolakan hingga pembubaran oleh aparat.

Mulai dari Yogyakarta, Mataram, hingga Ternate, pemutaran film tersebut menuai polemik. Namun di saat yang sama, nama Pesta Babi justru semakin ramai diperbincangkan di media sosial dan ruang publik.

Di Ternate, pemutaran film yang digelar Aliansi Jurnalis Independen bersama SIEJ di Benteng Oranje, Jumat 8 Mei 2026, dihentikan aparat dengan alasan menjaga kondusivitas daerah dan mencegah isu tersebut dipolitisasi.

Sementara di Yogyakarta, agenda pemutaran yang diinisiasi kelompok sipil juga sempat batal setelah muncul tekanan dan penolakan terhadap kegiatan tersebut.

Di Universitas Mataram, mahasiswa bahkan tetap melanjutkan pemutaran film di luar kampus usai kegiatan dibubarkan pihak universitas. Teriakan “anti-demokrasi” menggema dari peserta yang menilai ruang diskusi publik dibatasi.

Ironisnya, semakin banyak penolakan muncul, semakin besar pula rasa penasaran publik terhadap isi film tersebut.

Berdasarkan sejumlah laporan media, film dokumenter produksi Watchdoc Documentary itu, kini telah diputar di lebih dari 500 titik pemutaran di Indonesia, mulai dari kampus, komunitas warga, hingga forum diskusi publik.

Film ini mengangkat persoalan masyarakat adat Papua Selatan yang menghadapi ekspansi proyek strategis nasional (PSN), termasuk pembukaan lahan skala besar untuk pangan dan bioenergi. Dokumenter tersebut juga menyoroti konflik agraria, kerusakan lingkungan, serta perubahan ruang hidup masyarakat adat di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi.

Dalam berbagai unggahan media sosial yang beredar, pembubaran nobar justru membuat publik semakin aktif mencari sinopsis, trailer, hingga lokasi pemutaran alternatif film tersebut.

Sutradara film, Dandhy Laksono, sebelumnya juga menyinggung ironi pembubaran nobar di lingkungan kampus. Menurutnya, kampus seharusnya menjadi ruang aman untuk mendiskusikan isu-isu sensitif, termasuk persoalan Papua. Dandhy juga mempertanyakan alasan TNI membubarkan pemutaran film tersebut.

redaksi

Recent Posts

Sopir Truk se-Halmahera Demo di Kantor Gubernur, Tuntut Kelangkaan Biosolar Segera Diatasi

Ratusan sopir truk yang tergabung dalam aliansi lintas kabupaten/kota di Halmahera menggelar aksi unjuk rasa…

13 menit ago

Sekda Haltim Dorong KNPI Jadi Ruang bagi Anak Muda Bangun Kreativitas

Sekretaris Daerah Ricky Chairul Richfat membuka Musyawarah Daerah (Musda) ke-V Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI)…

2 jam ago

Penyidik Polres Morotai Dilaporkan soal Dugaan Pemalsuan Tanda Tangan

Kuasa hukum tersangka kasus Minyakita di Pulau Morotai melaporkan Kasat Reskrim Polres Morotai, Iptu Yakup…

2 jam ago

Mahasiswa Desak PT Feni Tanggung Kerugian Nelayan Akibat Pencemaran Laut Haltim

Dugaan pencemaran laut di wilayah Mabapura, Kabupaten Halmahera Timur, menuai sorotan dari Badan Eksekutif Mahasiswa…

5 jam ago

Malut United Gagal Curi Poin di Bantul, Hendri Susilo Soroti Kartu Merah Angulo

Kekalahan harus diterima Malut United saat menghadapi PSIM Yogyakarta pada pekan ke-32 BRI Super League…

5 jam ago

Tiga Jasad Korban Ditemukan, Operasi Sar Gunung Dukono Ditutup

Tim SAR gabungan akhirnya berhasil mengevakuasi dua jenazah warga negara (WN) Singapura korban erupsi Gunung…

19 jam ago