Perspektif

Rempah dalam Tatapan Herman Oesman dan Fadrié

Oleh: Agus SB*

 

SAYA beruntung memperoleh novel  “Rempah Terakhir. Sebuah novel sosiologi”, terbit di bulan Oktober tahun ini (2025), ditulis Sosiolog Herman Oesman, dan di bulan yang sama saya berkesempatan menyaksikan deretan kurang lebih sebelas lukisan tema rempah yang ditampilkan di sebuah gedung dari Benteng Vredeburg, Yogyakarta, karya seniman pelukis Fadrié — informasi dari Asgar Saleh, tiga di antaranya telah dipamerkan di Swiss tiga atau empat bulan lalu di tahun 2025 ini. Penulis dan pelukis menetap di Ternate.

Tatapan (gaze) dari seorang sosiolog dan dari seorang pelukis, dari dua latar profesi dan keahlian yang berbeda, membingkai subyek rempah ke dalam dua medium berbeda, sebuah novel dan lukisan di atas kanvas. Narasi Herman dan sapuan kuas Fadré di atas kanvas merefleksikan titik fokus mereka: rempah dengan banyak dimensi yang terajut padanya, mengekspresikan relasi manusia – alam/rempah.

Lukisan karya Fadriah Syuaib

Bagi pikiran yang cermat menyelami dapat menangkap “pesan mitis” yang terpantul dari narasi Herman maupun sapuan kuas Fadrié yang mengguratkan lintasan warna warni di atas kanvas, mengonstruksi “relasi manusia perempuan-laki dan alam/rempah cengkeh dan pala”. Manusia (Maluku Utara) dan rempah tampak sebagai “pasangan kekasih” dalam suatu kelana budaya tempatan yang melintasi sejarah panjang di panggung dunia global.

Di atas kanvasnya, Fadrié “menuturkan” kelana pasangan manusia Malut dan rempah dari zaman kolonial hingga kini. Namun, narasi Herman Oesman maupun “tuturan lukisan” Fadrie tampak mengatakan bahwa, pada masa kini kelana pasangan kekasih ini tak lama lagi berakhir. “Masa berakhir” ini direpresentasikan oleh garpu eskavator baja yang menggaruk mengeruk perut bumi (tanah), menjungkalkan pepohonan rempah dan manusia di atasnya. Eskavator dengan kekejaman yang sama juga menderu dalam narasi Herman Oesman. Berakhirnya kelana manusia dan rempah digambarkan Herman (akan) ujud dan berakhir sebagai “ingatan” (memori) dan “kenangan” (nostalgia) manusia Maluku Utara.

Lukisan karya Fadriah Syuaib

Satu pelajaran penting dari dua karya ini: “berulangnya pola sejarah penghancuran alam dan kehidupan manusia Maluku Utara”. Ketika dalam keterasingannya (alienasi), manusia Maluku Utara menyadari kenyataan  dimana ia tak lagi memiliki kuasa atas kehidupan dan pulau dimana ia hidup; “…, orang mulai bertanya: Kita ini tinggal di pulau siapa?” (narasi dalam novel Rempah Terakhir; h.33).

—–

*Penulis merupakan seorang akademisi antropologi yang menyukai sastra dan seni

redaksi

Recent Posts

Polisi: Tidak Ada Peluru Tajam di Aksi Protes Warga Banemo, Halteng

Polda Maluku Utara menegaskan personelnya tidak menggunakan peluru tajam dalam operasi pengamanan protes dan penangkapan…

4 jam ago

Kapolda Malut Minta Masyarakat Tak Terprovokasi soal Pengamanan Warga di Banemo

Kapolda Maluku Utara Irjen Pol Arif Budiman meminta masyarakat tidak terprovokasi menyusul pengamanan sejumlah warga…

4 jam ago

Dishub Klaim Perbaikan 75 Titik PJU di Ternate Rampung Akhir 2026

Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Ternate memperbaiki 75 titik penerangan jalan umum (PJU) yang mengalami gangguan…

6 jam ago

Lestarikan Alam, Pertamina Tanam Terumbu Karang di Laut Jambula

Upaya menjaga ekosistem laut di wilayah pesisir Kota Ternate kembali dilakukan melalui penanaman terumbu karang…

7 jam ago

OJK Malut Terima Lagi Aduan Kerugian Investasi, 12 Warga Korban

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Maluku Utara kembali menerima pengaduan terkait dugaan investasi ilegal bernama Investasi…

8 jam ago

NHM Peduli Skrining 29 Anak dan Balita Stunting di Lima Kecamatan Halmahera Utara

PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) melalui program NHM Peduli kembali melakukan skrining kesehatan terhadap anak…

10 jam ago