Ilustrasi hujan. Foto: Pixabay
Tiga daerah di Maluku Utara akhinya turun hujan, setelah menghadapi kemarau Panjang. Hal itu karena adanya Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilakukan Badan Nasional Penanggulanan Bencana (BNPB) di daerah Tersebut pada Sabtu 05 September 2026.
Saat melakukan OMC, BNPB Maluku Utara menyasar wilayah yang memiliki potensi pertumbuhan awan hujan. Setelah itu, dilakukan pemantauan lapangan. Hasilnya, hujan mulai terdeteksi di sejumlah kawasan Halmahera dan Pulau Morotai, meski intensitasnya masih relatif rendah.
Hal itu disampaikan Fehby Alting, Kepala Pelaksana BPBD Maluku Utara. Katanya, dari hasil pemantauan, di Halmahera Utara, Halmahera Barat, dan Pulau Morotai, yang diterima dari kepala pelaksana BPBD setempat menunjukkan hujan terpantau di Kecamatan Morotai Selatan Barat, termasuk Desa Cio Dalam, Cio Gerong, Cio Maloleo dan wilayah sekitarnya.
“Mulai pagi, siang, dan sore itu dapat terdokumentasi di masing-masing wilayah, sehingga ada potensi awan hitam yang bisa ada bibit hujan. Sehingga itu bisa dapat dimodifikasi lebih cepat,” kata Fehby.
Fehdy menjelaskan, OMC tersebut tidak sekadar menerbangkan pesawat dan menaburkan bahan semai untuk menghasilkan hujan. Awalnya harus melakukan pemantauan lalu, Tim harus menemukan awan dengan kondisi yang memungkinkan untuk dilakukan penyemaian.
Katanya, sebagian besar wilayah daratan Maluku Utara didominasi warna biru tua hingga biru muda pada citra radar, yang menunjukkan curah hujan sekitar 0,1 hingga 5 milimeter.
Berdasarkan citra radar Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 5 September 2026 pukul 19.25 WIT, akumulasi curah hujan selama enam jam di Maluku Utara secara umum masih tergolong ringan.
BMKG juga mendeteksi hujan di sejumlah wilayah Halmahera Utara, Halmahera Barat, Pulau Morotai, serta sebagian Halmahera Timur.
Di sisi lain, data BMKG pada September masih diwarnai kondisi panas dan kering, meski peluang hujan lokal tetap ada di sejumlah wilayah.
***
OMC yang dilakukan BNPB Maluku Utara mulai dijalankan pada Sabtu, 5 September 2026. Operasi itu menggunakan Pesawat Cessna Caravan 208 EX/PK-SNL milik PT Smart Cakrawala Aviation.
Penerbangan tersebut membawa flight scientist atau tenaga ahli atau peneliti di bidang meteorologi dan atmosfer yang bertugas di dalam pesawat yakni Fadli dan Riani, serta dua petugas penabur, Wahyu dan Aljan. Area penyemaian atau blocking area mencakup radial 0-060 dan 30-120 nautical mile dari Ternate, dengan sasaran utama Halmahera Barat, Halmahera Utara, dan Morotai.
Pesawat beroperasi pada ketinggian 8.000-12.000 kaki dengan membawa 1.000 kilogram natrium klorida (NaCl) sebagai bahan semai.
Air Terjun Nakamura di Desa Nakamura, Kecamatan Morotai Selatan, Pulau Morotai, Maluku Utara, kembali mengalami…
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pulau Taliabu, Maluku Utara, mempercepat tahapan pengadaan tanah untuk pembangunan Bandar Udara…
Film Warriors of the Rainbow: Seediq Bale menjadi pintu masuk diskusi tentang akar kebudayaan, masyarakat…
Rencana Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat (Halbar), Maluku Utara, untuk mengaktifkan kembali Terminal Goal sebagai titik…
Oleh: Mamat Jalil “Home is where one starts from.”- T.S. Eliot ADA kalimat-kalimat yang…
PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) melalui NHM Peduli terus memberikan bantuan dan pendampingan medis kepada…