News  

Balai Bahasa: Kehadiran Tambang Jadi Faktor Pergeseran Bahasa Sawai

Jalan utama perkampungan Lelilef. Foto: Rian Hidayat Husni/cermat

Deru industri nikel di Halmahera Tengah, Maluku Utara, membawa perubahan hingga ke ruang bahasa. Bahasa Sawai, yang digunakan turun-temurun masyarakat setempat, kini masuk kategori terancam punah.

Balai Bahasa Maluku Utara mengidentifikasi bahasa Sawai sebagai satu dari 19 bahasa daerah di provinsi Maluku Utara yang terancam punah.

Damaz Aristy Sisvareza, Ketua Tim Pelindungan Bahasa dan Sastra, Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara, mengatakan perubahan demografi setelah tambang hadir menjadi salah satu tekanan utama.

“Ada ancaman yang sangat berat karena dampak dari pembangunan dan tambang. Di sana ada dinamika interaksi, sosial, dan lainnya,” ujar Aristy di Ternate, akhir Agustus 2026.

Kawasan Lelilef dan sekitarnya berkembang menjadi kawasan industri PT Indonesia Weda Industrial Park (IWIP). Mobilitas pekerja ikut meningkat.

Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Halmahera Tengah mencatat per Mei 2026, tenaga kerja sektor industri nikel mencapai 71.510 orang. Weda Tengah menampung 5.552 tenaga kerja pendatang dan Weda Utara 4.108 orang.

Perubahan demografi itu membuat masyarakat Sawai semakin sering berinteraksi dengan penutur bahasa lain. Bahasa Indonesia kemudian menjadi bahasa penghubung.

Data Balai Bahasa mencatat penutur bahasa Sawai pada 2000 sekitar 12.000 orang. Sementara itu, belum ada angka terbaru yang memastikan jumlah penutur saat ini.

Kendati demikian, Aristy menyebut penutur jati bahasa Sawai kini banyak berada pada kelompok usia 40 tahun ke atas.

Agus Jamal, akademisi bahasa Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, meminta kondisi itu tidak disederhanakan sebagai akibat pertambangan.

Menurut dia, industrialisasi merupakan salah satu faktor eksternal yang mempercepat perubahan ekologi bahasa.

“Pertambangan tidak diposisikan sebagai satu-satunya penyebab kepunahan bahasa Sawai,” ujarnya.

Sementara PT IWIP mengakui perubahan sosial dan budaya akibat masuknya populasi baru telah menjadi perhatian perusahaan.

Baca Juga:  Pasar Takjil CBD Morotai Masih Sepi, Pedagang Harap Pembeli Meningkat

Deputy Manager External IWIP Fuad Albar mengatakan hal tersebut telah dipetakan dalam Influx Management Plan.

Namun perusahaan belum memiliki program khusus untuk pelestarian bahasa Sawai.

“Secara spesifik memang belum ada program yang terkait dengan bahasa Sawai,” kata Fuad.

IWIP saat ini mendukung sejumlah kegiatan budaya seperti Cokaiba, Fanten dan musik tradisional Bambu Tada.

Balai Bahasa mengatakan telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mendorong penggunaan bahasa Sawai di sekolah dan komunitas literasi. Namun, menurut Aristy, belum ada langkah konkret berupa kebijakan yang mengikat.

Wakil Bupati Halmahera Tengah Ahlan Djumadil sebelumnya menyatakan bahasa Sawai merupakan bagian dari identitas masyarakat setempat.

“Jika kondisi ini tidak diantisipasi, maka Bahasa Sawai berpotensi menuju kepunahan,” kata Ahlan.

Penulis: Rian HdiayatEditor: Rian Hidayat