Sastra  

Hujan Tak Lagi Menggamit Kota

Puisi: Rian Hidayat Husni

(Ilustrasi Istimewa dari Pixabay)

Hujan Tak Lagi Menggamit Kota

September datang
dengan matahari yang panjang
menjemur jalan
mengeraskan tanah
membuat daun-daun
menyimpan hijau terakhirnya

Di layar berita
kemarau menjadi angka:
curah yang menurun
hari tanpa basah
titik api bertambah
dan langit dipaksa
menurunkan air
dengan tangan manusia

Di pulau-pulau kecil
orang mulai menghitung persediaan

Petani menatap ladang
yang retaknya menyerupai luka
Ibu-ibu menyimpan air
seperti menyimpan sesuatu
yang tak mudah dibeli kembali

Sementara kota terus bergerak

Mesin kendaraan menyala
toko-toko membuka pintu
berita berganti setiap jam
dan manusia tetap sibuk
seolah bumi baik-baik saja

Padahal di kejauhan
hutan mengirimkan asap
sungai menyusut perlahan
dan tanah kehilangan
suara lembapnya

Langit terlalu lama biru

Dulu, kita cukup menengadah
untuk membaca pertanda

Malam tiba

Kota masih menyala
tetapi halaman-halaman rumah
tetap kering

Tak ada suara di atap
Tak ada aroma tanah
yang biasanya membawa
ingatan tentang masa kecil

Hanya angin
melewati gang-gang sempit
membawa debu
dan pertanyaan: sampai kapan
kita akan menunggu langit berubah
tanpa pernah bertanya
apa yang telah kita ubah
di bumi?

Jika kelak awan kembali
semoga bukan sekadar
untuk membasahi jalan

Semoga ia menemukan
hutan yang masih berdiri
sungai yang belum mati
dan manusia
yang akhirnya belajar
bahwa bumi bukan milik kita

Kitalah
yang sedang dititipkan
kepada bumi


Kubacakan Puisimu

Sudah saatnya kubacakan puisimu
di satu malam paling hening.

Kulepas kata-katamu perlahan
di satu waktu paling sunyi.

Kupacu lidahmu di satu saat,
di sudut kegelapan.

Kubacakan puisimu
di satu kota paling sepi,
di mata bulan yang bening.

Kurangkai mekar katamu
di satu pantai di ujung tanjung.

Baca Juga:  Di Ruang Sempit Pangaji Al-Ashfiya, Teater Bersuara

Kubacakan puisimu sekarang juga,
dengarlah!

Di satu pintu penuh pilu,
kujumpai kata-katamu
pada jiwa-jiwa lugu.

Di satu hati yang sangat senduh,
kupanjangkan bibirku
di lampu jalan.

Angan-angan kepulangan
di medan kota,
tempat mereka menjual kata.

Lihatlah!
Puisimu ada di mana-mana.

Ternate, 2020