Sastra  

Tiga Sajak Rifaldi Eka Shaputra Tantu

Blues Indonesia Hari Ini

Indonesia tanah air beta

Tanah di mana tumpah darah

Darah-darah yang bercucuran akibat penggusuran, penindasan, persekusi, dan pembantaian oleh rezim fasis Indonesia.

Indonesia tanah air beta

Di sana tempat lahir beta dibuai dan dibesarkan dengan ketergantungan hutang setiap tahun pada antek asing.

Indonesia tanah air beta

Sungguh indah tanah air beta namun sakit hati beta melihat hutan, lautan, dan segala bentang alam telah dirusak atas nama Program Strategis Nasional.

Indonesia tanah air beta

Tempat beta berlindung dari penjahat berbaju teknokrat yang mengatasnamakan NKRI harga mati,

Namun menjual segala kekayaan sumber daya kepada pemilik modal dan kepentingan asing.

Indonesia tanah air beta

Yang selalu beta puja ketika saban senin

berdiri dibawah langit biru nan indah dan tersinari  kulit beta yang terbakar oleh amarah Tuhan bahwa kita masih hidup dalam kemiskinan kota dan kesajahteraan yang delusi.

 

Elegi Agust 25

“Hiduplah Indonesia Raya”

Setiap saban tahun nyanyian kebanggan Indonesia Raya selalu dikumandangkan

Nyanyian akar rumput para martir yang dihabisi alat kekuasaan negara menjadi tangisan.

Mari kita nyanyikan “17 Agustus tahun 45 itulah hari kemerdekaan kita”

Kemerdekaan siapa yang dimaksud?

Affan Kurniawan? Saiful Akbar? Muhammad Akbar Basri? Sarina Wati? Rusdamiansyah? Rheza Sendy Pratama? Sumari? Andika Lutfi Falah? Iko Juliant Junior? Reno Syahputra Dewo? ataukah Muhammad Farhan?

Kemerdekan bagi kesebelas martir adalah ilusi negara

Nama mereka mungkin hanya angka bagi kekuasaan

Tapi nama mereka abadi sebagai simbol perjuangan menjadi martir.

Mari mengheningkan cipta

Bagi pejuang veteran

Bagi korban pembantaian 65

Bagi korban penghilangan paksa 98

Dan bagi para martir Agustus 25

Baca Juga:  Mengenal Sang Maestro Pantomim di Kota Ternate

Mengheningkan cipta, Mulai!

 

Sajak Demonstran: Perjuangan Menuju Martir

Gelanggang demonstran adalah pintu-pintu istana yang macet

Dimana mereka menuntut hak untuk hidup dan berdikari:

Sumarsih berdiri untuk kematian anaknnya saban kamis

Rakyat kendeng mempertahankan ruang hidupnya dari korporasi

Kawula muda rakyat Indonesia menagih janji 19 juta pekerjaan tapi direpresif.

O penguasa yang militeristik dan tiran

Demonstran adalah api perlawanan rakyat

Jangan kau halangi dan bungkam dengan berondongan senjata

Mereka akan hadir pada lintasan generasi dan berlipat ganda.

O penguasa kejam dan totalitarian

Demonstran ada untuk mengingatkan negara

Bahwa Republik ini telah dikuasai oleh para cukong-cukong

Melawan cukong berarti berhadapan dengan Rahwana:

Dia akan tumbang pada waktunya sebelum perjuangan menuju martir


Oleh: Rifaldi Eka Shaputra Tantu
Aktif menulis berbagai tulisan di platform media sosialnya. W.S Rendra adalah tokoh sekaligus inspirasi dari penulis menulis puisi ini.