Sastra  

Buku dan Kutu-Kutu Buku

“Portrait of Two Friends”, by Pontormo (c.1524). Foto: Istimewa

Oleh: WDGafoer


“Sebuah buku seharusnya menjadi sebilah kapak yang sanggup memecahkan lautan beku dalam diri kita”. Guten menyodorkan sepenggal kutipan itu dari mulutnya yang diserobot gumpalan asam tembakau. Gelas mendarat, aroma kopi kental mengudara—kombinasi artistik dari dua sendok susu, tiga sendok kopi, dan taburan daun kemangi—sajian unik yang membuat kafe ini begitu mudah diingat oleh para pengunjung yang tak pernah bosan berlama-lama di sana.

Konon, siapa saja bisa memesan dan memikirkan secara khusus komposisi kopi macam apapun yang ia inginkan. “Di kafe ini, semua pesanan mengalami kemerdekaannya,” tegas sang Barista.

Baca Juga:  Puisi Ovi Hayatuddin

“Bangsat! Itu Kafka… kau sedang mengutip Kafka,” ujar Soja, buru-buru menyerobot senyum belepotan Guten yang sedang menjulurkan lidahnya, ia sungguh-sungguh menjulurkan lidah; itu dilakukannya dengan serius karena sedang menghayati potret hitam putih Einstein yang legendaris itu—salah satu sosok yang sering atau terlalu sering ia peragakan. Tentu, dengan terlebih dahulu bergosip tentang teori mekanikan kuantum, lubang hitam, atau teori relativitas yang dipelajarinya secara otodidak di internet.

Guten memang seorang intelektual yang nyeleneh dan ambisius, setidaknya itulah yang diyakininya dengan percaya diri. Ia selalu tak lupa menyertai presentasi-presentasi gemilangnya dengan sebuah senyuman—senyum khas seorang Guten; Senyuman beraksen narsistik yang ia hayati sebagai bentuk penegasan bahwa ia memang seorang intelektual cum tukang debat ulung. Sekurang-kurangnya oleh orang-orang yang pernah mengenalnya. Senyum seorang kutu buku yang menjengkelkan.

Baca Juga:  Sehimpun Puisi M Wahib: Sang Pembual hingga Jejak Langkah Kota

Guten adalah kutipan berjalan dan ini adalah satire yang sering ditujukan untuk kepribadiannya yang cerdas dan kocak itu. Di waktu-waktu tertentu kadang beberapa orang dibuat terpukau karena tak bisa menebak berapa banyak buku yang telah dikuasainya. Guten mampu secara genit dan semi profesional menganalisis suatu masalah.

Guten lincah menjahit fakta dan fiksi dengan untaian-untaian argumennya. Jika kebetulan ada orang kekeh berusaha menyanggahnya, mudah bagi seorang Guten untuk menepis tindakan tak senonoh itu dengan superioritas a la Guten: “Belajarlah untuk berpikir out of the box sepertiku, bung-bung yang terhormat dan pemalas”.

Baca Juga:  Tiga Puisi Pilihan Sultan Musa

Dalam pengantar yang selalu diingat kawanannya, Guten memaknai out of the box sebagai cara berpikir yang berbeda dari kebanyakan orang, apalagi jika hanya untuk para cecunguk yang tak berani kelaparan karena tergila-gila membeli buku, para budak kelas menengah yang batang otaknya terdiri dari kecepatan jari-jari dan algoritma mesin pencari Google, macam Soja dan kawan-kawannya. Guten meledek. Kurang lebih itulah yang diyakini oleh sang dewa buku. Biasanya lawan bicaranya hanya dibuat melotot, sumringah, merasa dipermalukan dan pulang membawa bokong yang sakit, dan penyesalan remeh-temeh yang akan mereka keluhkan bersama ketika Guten kebetulan sedang sakit atau hampir mati ditabrak kuda nyasar. Entahlah, perihal kuda nyasar dan kapan Guten akan mati mendadak, kita serahkan saja kepada yang maha kuasa.

“Dasar mahasiswa pemalas,” tegas, suara Guten terdengar dalam bayangan orang-orang kalah dan berhati lemah yang pernah duduk bersamanya. Alhasil, beberapa teman yang kebetulan mengenal Guten memutuskan untuk menjauhi si pesilat lidah itu agar tidak terpapar oleh caci maki intelektual a la Guten yang sedang dihantui“Renaissance” beraksen Prancis itu.

Baca Juga:  Di Dada ini Ada Kata-kata

“Berhentilah mengutip Ten!, itu pekerjaan yang terlalu mudah, gagasanmu tidak orisinal!” Cela Soja untuk menyambung obrolan yang putus tadi, “lihatlah para cecunguk kelas menegah itu, mereka tiba-tiba jadi petani kutu!” terbahak-bahak Guten tertawa, tetapi benaknya selalu terancam jika lawan bicaranya adalah Soja. Lelaki parlente yang juga berani mengorbankan nasib lambungya dengan duduk berlama-lama membaca buku. Bersama Soja, Guten tahu betul bahwa musuh bubuyutannya hanya satu dan itu Soja—lelaki “Hey Jude” yang berani “don’t make it bad …” menegur Guten jika ia terlalu mengada-ada dan melebih-lebihkan argumennya.

Meskipun dari cara menatap, bicara, dan berkomentar Guten selalu punya alasan yang reasonable untuk membela apa pun yang telah berhasil mereka pelajari dari buku-buku yang membuat mereka kelaparan. “Reasonable? Hah! Dasar inlander sampah?”, Soja menggeliat seperti ulat kena garam. Dua garis keningnya menyatu. Dengan sedikit menggerutu Guten mengatakan: “Kau tahu apa yang membuat kita berdua nampak tak berbeda Soja,” serius, Soja menyimak “aku memang pengutip, dan aku bersyukur bisa melakoninya, meskipun lapar, Tuhan sungguh baik dengan tidak membiarkanku lahir dari rahim kelas menengah, seperti para cecunguk pemalas itu”.

“Bangsat!… itu Kafka … !”

Baca Juga:  Aminah yang Malang

Mereka berdua tertawa dalam keramaian kafe yang tentu saja semakin bertambah ramai karena dua orang kutu buku yang sedang merayakan kedunguan.

“Semua pesanan mengalami kemerdekaannya,” tegas sang Barista.