Sastra  

Kalamata Institute Bedah Rempah dari Sastra hingga Ambivalensi

Ketiga narasumber hendak memaparkan penyampaian mereka, dan satu moderator yang memandu acara. Foto: Eko Pujianto/cermat

Kalamata Institute menggelar Dialog Polifoni dengan mengangkat tema “Rempah dalam Sastra, Seni, Resiliensi, dan Ambivalensi” di Kafe Buku Fort Oranje, Kota Ternate, Sabtu 3 Oktober 2026. malam.

Dialog tersebut mempertemukan sejumlah perspektif dalam melihat rempah, tidak hanya sebagai komoditas, tetapi juga sebagai bagian dari pengalaman sosial, budaya, seni, hingga hasil riset yang berkembang di Maluku Utara.

Direktur Kalamata Institute, Herman Oesman, dalam pembukaan kegiatan mengatakan, Dialog Polifoni sengaja dirancang untuk memperbincangkan rempah melalui beragam sudut pandang.

Menurut Herman, istilah polifoni digunakan karena pembahasan dalam forum tersebut tidak berdiri pada satu perspektif. Sejumlah gagasan mengenai rempah dipertemukan, mulai dari seni, antropologi, hingga persoalan ambivalensi dan resistensi yang muncul dalam penelitian.

“Dialog Polifoni ini kita bicarakan rempah dari berbagai sudut pandang, dari seni sampai persoalan ambivalensi dan resistensi,” ujar Herman dalam sambutannya.

Ia menjelaskan, pembahasan mengenai ambivalensi dan resistensi tersebut berangkat dari riset yang dilakukan Dani dan Pomat. Hasil riset itu kemudian dipadukan dengan perspektif seni yang dibawa Fadriah Suaib, yang selama ini menulis dan melukis tentang rempah.

Sementara perspektif antropologi dalam diskusi tersebut turut diperkuat oleh Agus SB.

Herman mengatakan, pertemuan berbagai perspektif itu diharapkan dapat memperkaya cara melihat rempah, terutama dalam konteks Maluku Utara yang memiliki sejarah panjang dengan komoditas tersebut.

Selain membuka diskusi, Herman juga memperkenalkan kembali Kalamata Institute kepada peserta. Ia menyebut lembaga tersebut telah berdiri sejak 2017, namun kini kembali diaktifkan dengan fokus kajian yang lebih diarahkan pada isu rempah, pangan, lingkungan, dan berbagai persoalan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat.

“Kalamata Institute ini sebenarnya sudah berdiri sejak 2017, tetapi sekarang kita aktifkan kembali dengan fokus pada kajian rempah, pangan, lingkungan dan isu-isu sejenis,” katanya.

Baca Juga:  Sehimpun Puisi M Wahib: Sang Pembual hingga Jejak Langkah Kota

Herman menyebut, untuk saat ini Kalamata Institute baru memiliki empat anggota, yakni dirinya, Rahmi Husein, Agus, dan Komat.

Ke depan, kata dia, lembaga tersebut akan membuka ruang bagi anggota baru. Proses perekrutan bahkan direncanakan menggunakan mekanisme seleksi yang menyerupai penerimaan ASN, termasuk melalui tes berbasis komputer atau Computer Assisted Test (CAT) serta sejumlah tahapan lainnya.

“Ke depan akan ada perekrutan anggota baru. Mekanismenya akan kita buat melalui proses seleksi, termasuk menggunakan CAT dan tahapan lainnya,” ungkapnya.

Dialog Polifoni menghadirkan Agus SB, Fadriah Suaib, Rahmat R. Wali, dan Hamdani Rais sebagai pembicara dalam membedah berbagai perspektif mengenai rempah.

Penulis: Eko PujiantoEditor: Rian Hidayat