Oleh: Yanuardi Syukur
Pengajar Antropologi Globalisasi di Universitas Khairun, Ternate
Kecurigaan bahwa Iran menggunakan sistem navigasi satelit China, BeiDou, untuk menargetkan Israel dan aset AS di Timur Tengah membuka babak baru dalam perang teknologi militer.
Geoffrey Hobbis dan Stephanie Ketterer dalam The Open Encyclopedia of Anthropology (21 Juli 2025) mencatat bahwa teknologi secara luas merujuk pada objek atau tindakan yang terkait dengan tekhne, istilah Yunani kuno untuk ‘keahlian’ atau ‘keterampilan’.
Dalam antropologi, teknologi dapat dipahami lebih luas, yakni bagaimana manusia dan non-manusia secara sengaja membuat atau melakukan sesuatu, dan bagaimana aktivitas tersebut dibentuk oleh dinamika sosiokultural yang lebih luas. Dari perkakas batu hingga rudal balistik, rentangnya seluas pengalaman manusia itu sendiri. Dalam hal ini, China melakukan ‘transfer teknologi’ kepada Iran agar dapat mempertahankan diri sekaligus melawan serangan musuhnya.
Alain Juillet, mantan direktur intelijen Prancis, menyebut akurasi rudal Iran meningkat drastis dibanding perang delapan bulan lalu, mengindikasikan adanya perubahan sistem pemandu (Al Jazeera, 11 Maret 2026). Jika benar, ini bukan sekadar peningkatan teknis, tetapi pergeseran geopolitik yang fundamental yang telah dibangun selama bertahun-tahun melalui kerjasama militer yang erat antara Tehran dan Beijing.
Baca Juga:
1. Australia dalam Pusaran Konflik Iran
2. Jiang Xueqin, Iran dan Prediksi Kekalahan Amerika
3. Senjata Minyak di Selat Hormuz
4. Ekologi Perang dalam Konflik AS-Israel Vs Ira
Nadia Helmy, Associate Professor of Political Science di Beni Suef University Mesir, dalam analisisnya di Modern Diplomacy (10 Maret 2026) mengungkap dimensi yang lebih dalam dari kerjasama ini.
Menurutnya, China Electronics Technology Corporation (CETC)—perusahaan raksasa milik negara yang menjadi tulang punggung teknologi militer Tentara Pembebasan Rakyat China—telah menjadi pilar utama dalam dukungan teknologi China kepada Iran.
CETC tidak hanya menyediakan komponen elektronik canggih seperti chip dan prosesor yang meningkatkan akurasi rudal balistik Iran, tetapi juga berperan dalam mentransisikan arsitektur militer Iran dari ketergantungan pada GPS Amerika ke sistem BeiDou-3 China.
Efektivitas BeiDou bagi Iran tidak hanya diukur dari akurasi teknisnya, tetapi juga dari kemampuannya membebaskan Tehran dari ketergantungan pada sistem navigasi Barat yang dapat dengan mudah diganggu oleh musuh.
Ada beberapa hal penting yang dapat kita lihat terkait ‘transfer teknologi’ tersebut.
Pertama, ini menandai berakhirnya monopoli AS atas intelijen satelit real-time di medan perang.
Selama ini, AS mengandalkan kemampuannya mengganggu sinyal GPS untuk melumpuhkan navigasi musuh. Namun dengan BeiDou yang memiliki 45 satelit—hampir dua kali lipat GPS—dan sinyal militer B3A yang “pada dasarnya tidak bisa dijam,” Iran kini memiliki alternatif yang kebal terhadap taktik jamming AS.
Analis militer Patricia Marins menyebut sistem ini berguna untuk mencegah pemalsuan sinyal. Hobbis dan Ketterer mengingatkan bahwa teknologi selalu tertanam dalam konteks, dan dalam hal ini konteksnya adalah pertempuran sengit melawan superioritas teknologi Barat.
Kedua, kerjasama ini telah direncanakan sejak lama dan mencakup berbagai aspek, bukan respons dadakan.
Theo Nencini, peneliti hubungan China-Iran, mengungkap bahwa Iran menandatangani nota kesepahaman untuk mengintegrasikan BeiDou sejak 2015, dan akses ke sinyal militer terenkripsi diberikan setelah penandatanganan Kemitraan Strategis Komprehensif Sino-Iran pada Maret 2021.
CETC juga mengembangkan taktik serangan simultan yang mensimulasikan pergerakan kapal dan mengintegrasikan data pengawasan dan kecerdasan buatan untuk mengoordinasikan serangan rudal dari berbagai platform (darat, laut, dan kapal selam) dengan presisi tinggi. Perusahaan ini juga mengembangkan “kembaran digital” (digital twins)—simulasi canggih pergerakan kapal dan kondisi lingkungan yang memungkinkan komandan menguji dan memodifikasi skenario serangan secara real-time.
Ketiga, perang ini menjadi laboratorium uji coba bagi China, sekaligus menandai pergeseran aliansi global.
Nencini mencatat bahwa China “pasti mengumpulkan intelijen militer melalui satelit pengawasnya” dan mendapatkan “kesempatan untuk menguji kemampuan sistemnya di teater operasi skala besar” yang melibatkan AS secara langsung. Iran membangun kembali persenjataan rudal dan kemampuan UAV meskipun embargo teknologi yang diberlakukan terhadap Teheran.
Dari perspektif Beijing, mempertahankan kekuatan Iran adalah cara untuk menguras sumber daya AS di Timur Tengah, melemahkan kemampuan Washington untuk fokus pada area pengaruh China lainnya seperti Taiwan.
Penggunaan BeiDou oleh Iran bisa disebut sebagai ‘pukulan telak bagi hegemoni teknologi AS’, tetapi ini hanyalah puncak gunung es dari kerjasama militer yang telah dibangun selama empat dekade. Seperti dicatat Helmi, kontribusi teknologi CETC kepada Iran adalah “pesan diam-diam” dari China kepada Washington bahwa superioritas teknologi Barat di kawasan tidak lagi mutlak berada di tangan Barat tapi kini telah beralih ke China (Helmi, 10/3/2026).
Negara-negara Teluk yang selama ini bergantung pada GPS mungkin akan mempertimbangkan ulang ketergantungan mereka. China tidak hanya membantu sekutunya, tetapi juga membangun arsitektur navigasi global baru yang lebih beragam dan kurang bergantung pada AS.
Dalam lintasan sejarah yang panjang, dari perkakas batu hingga satelit, manusia selalu menciptakan teknologi untuk memperluas kapasitas mereka. Kini, di medan perang Timur Tengah, teknologi navigasi telah menjadi senjata yang sama pentingnya dengan rudal itu sendiri.
Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Kejaksaan Negeri Ternate menuntut tiga terdakwa dalam perkara dugaan korupsi…
Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Maluku Utara menerima puluhan laporan dugaan pelanggaran kode etik…
Pemerintah Daerah Halmahera Timur menggelar pertemuan dengan jajaran direksi PT Antam Tbk di kantor pusat…
Pengurus Pusat Himpunan Pelajar Mahasiswa Sula (PP HPMS) Maluku Utara memanfaatkan momentum malam ke-22 Ramadan…
Pemda Pulau Taliabu, Maluku Utara resmi merilis jadwal kunjungan kerja Wakil Gubernur Maluku Utara, Sabrin…
Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Polairud) Polda Maluku Utara menerima penghargaan dan apresiasi dari Pemerintah…