Perspektif

Bookfest untuk Torang Bangun Kebiasaan Babaca

Oleh: Budhy Nurgianto*

 

ADA seorang pengusaha dan filantropis asal Amerika Serikat yang terkenal paling sukses di dunia, setiap akhir pekan selalu sibuk cari-cari buku ekonomi, sejarah, dan sosial di pasar loak tara jauh dari dia pe tempat tinggal. Paitua itu dia pe nama Warren Buffett, yang sepuluh tahun terakhir dikenal deng julukan Oracle of Omaha. Saat ini paitua Buffett memimpin perusahaan konglomerat terbesar di dunia, Berkshire Hathaway.

Paitua Buffett ini dikenal sebagai orang yang paling suka sekali babaca. Setiap hari dia selalu kase habis 5-6 jam cuma untuk babaca buku. Temanya banyak, ada soal sejarah, sosial deng ekonomi. Tapi sesekali dia juga baca koran dan majalah. Buffett bilang babaca buku selain bikin pintar juga bisa dipakai sebagai investasi pengetahuan. Ada banyak tokoh-tokoh dunia yang senang sekali kase habis waktu untuk babaca buku.

Sebenarnya bukan cuma paitua Buffett yang bilang bagitu, babaca adalah kunci kesuksesan. Di Maluku Utara, tokoh-tokoh kayak, Syaiful Ruray-mantan Anggota DPR RI, Prof Gufran Ali Ibrahim-mantan rektor Unkhair, Herman Oesman-dosen UMMU, Asghar Saleh-pegiat literasi, deng Rusly Saraha- Komisioner Bawaslu Maluku Utara, juga pernah bilang bagitu. Babaca buku adalah cara apik untuk torang tetap bisa menjaga kewarasan berfikir. Cuma dengan babaca, orang bisa dapa pengetahuan, memperluas wawasan, deng digunakan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis.

Torang semua pasti so tahu, di tengah arus informasi dan perkembangan teknologi yang bajalan cepat sekali kayak sekarang, kemampuan babaca, memahami, mengolah, serta memanfaatkan informasi so jadi kebutuhan yang sangat penting. Kemerdekaan berpikir so jadi kemampuan yang harus torang bentuk sejak dini-deng untuk membentuk itu cuma bisa melalui proses babaca yang berkelanjutan.

Ketika seseorang so mulai suka babaca berbagai sumber, dia sebenarnya so mulai bisa membangun beragam sudut pandang yang bisa kase kaya bahan untuk berfikir. Dia akan bisa membentuk pendapatnya secara mandiri, dan tentu akan lebih kritis. Itulah mengapa, kebiasaan babaca sangat berperan penting dalam membentuk orang bisa cerdas deng demokratis. Gemar babaca akan bikin orang lebih terbuka menerima perbedaan pendapat deng lebih kritis dalam menyikapi persoalan.

Penelitian yang diterbitkan jurnal Science kase tahu kalau babaca dapa mempertajam perspektif yang berbeda, akan lebih berempati, toleran, dan lebih baik dalam memahami hubungan sosial di dunia nyata. Penelitian psikolog Keith Stanovich juga bilang hal yang sama. Dia bahkan sampai berani berkesimpulan kalau anak-anak yang terbiasa babaca dari kecili akan mengalami lompatan kecerdasan yang eksponensial. Dengan kata lain babaca bikin kosakata jadi meningkat dan kosakata yang kaya mempermudah penyerapan informasi baru.

Namun, untuk membangun budaya babaca di torang pe daerah -Kota Ternate- tentu bukanlah perkara yang mudah. Ada banyak tantangan yang tara kecil, mulai rendahnya minat baca, keterbatasan akses sampai dengan bahan bacaan yang masih sediki, sampai saat ini masih belum selesai deng terus muncul. Belum lagi ditambah kebijakan pemerintah daerah yang belum perspektif literasi dan minimnya anggaran makin bikin buram torang pe budaya babaca.

Jadi waktu ada teman bae, Rusly Saraha-Komisioner Bawaslu Maluku Utara- kase tau mo bikin festival buku (BookFest) di Ternate, saya langsung sambut gembira. Secara pribadi saya dukung penuh kegiatan ini. Kenapa? Karena kegiatan itu, saya lia akan bisa menumbuhkan minat baca orang-orang Ternate dan merangsang orang lebih peduli pada buku.

Bookfest atau festival buku kalau serius bajalan, saya prediksi bisa dipakai jadi sarana untuk memperkenalkan buku, karya tulis ke banyak orang, deng juga bisa digunakan untuk memperkuat ekosistem literasi, meningkatkan daya baca, deng mendorong budaya literasi di kalangan anak muda.

Selama ini, banyak orang bilang, babaca itu aktivitas soliter (sendirian) yang paling membosankan, tara asik, dan cenderung ketinggalan jaman. Makanya saat dibilang akan ada festival buku, saya senang sekali. Ini adalah salah satu cara untuk mendobrak stigma bahwa babaca itu tara asik, salah total. Babaca bikin torang gembira, deng BookFest dapat menjadi perayaan publik.

Lewat sesi talkshow, bedah buku, dan temu sapa (meet and greet), orang-orang di Ternate bisa dengar langsung bagaimana proses kreatif cara membuat buku. Cerita langsung dari penulis dipercaya bisa jadi rangsangan dan percikan inspirasi untuk banyak orang.

Dulu era 1980-an, 1990-an, hingga awal 2000-an—atmosfer festival buku pasti ramai sekali. Akan banyak orang datang lia, berinteraksi deng penulis, yang pasti asik untuk berburu buku. Festival Buku (BookFest) waktu dulu itu dianggap peristiwa langka yang sangat dinanti banyak orang, kayak “pasar malam”, megah bagi pencinta ilmu.

Di Jerman, Festival Buku kayak Frankfurt Book Fair bahkan sampai jadi pameran buku terbesar dan paling berpengaruh di dunia sampai sekarang. Ada ribuan orang penulis, penerbit, agen literasi, penerjemah, media sampai perusahaan teknologi di seluruh dunia datang ke festival itu.

Karena itu, rencana kegiatan festival buku (bookfest) di Ternate ini saya anggap sebagai alat yang bagus untuk bertransformasi menjadi pengalaman gaya hidup (lifestyle experience), pusat komunitas, dan perayaan komunitas kreatif. Momen kegiatan ini bisa jadi perayaan bukan cuma untuk penulis buku tapi juga untuk orang-orang Ternate, terutama dalam membentuk sikap merdeka babaca.

Itulah mengapa Festival Buku Ternate harus torang jadi panggung, merangsang minat baca, pusat kreatifitas, deng momentum memperkuat stigma kalau orang Ternate memang suka babaca. Lewat festival buku, torang jadikan babaca sebagai lifestyle baru yang bikin torang tara cuma gaul di penampilan, tapi juga cerdas, kritis, waras dan tajam dalam berpikir. Babaca adalah jalan torang samua orang-orang Ternate.

—–

*Penulis adalah Jurnalis dan Penikmat Isu Sosial

redaksi

Recent Posts

Kejar Kebutuhan 60 Ribu Tenaga Kerja, Pemkab Haltim Jajaki Kerja Sama dengan Unhan RI

Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur menjajaki kerja sama dengan Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) untuk…

12 jam ago

Kasus KDRT Bripka RAP: Keluarga Kecewa Pipin Pilih Berdamai dan Bela Suami

Polemik dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang melibatkan mantan anggota Brimob Polda Maluku Utara…

13 jam ago

Buku dan Kutu-Kutu Buku

Oleh: WDGafoer “Sebuah buku seharusnya menjadi sebilah kapak yang sanggup memecahkan lautan beku dalam diri…

14 jam ago

Wabup Morotai Minta Ketua APDESI Terpilih Rangkul Seluruh Kades dan Perkuat Pembangunan Desa

Wakil Bupati Pulau Morotai, Rio Cristian Pawane, berharap Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Asosiasi Pemerintah…

17 jam ago

Polda Malut Tegaskan PTDH Oknum Brimob Kasus KDRT Meski Istri Membantah Jadi Korban

Polda Maluku Utara menegaskan keputusan Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) terhadap oknum anggota Brimob, Bripka…

17 jam ago

Sokong Lumbung Pangan Halmahera Timur, BWS Malut Gelar Penandatanganan PKS dan Pakta Integritas P3-TGAI

Hamparan sawah yang membentang di Kecamatan Wasile Timur menjadi saksi harapan baru bagi para petani…

19 jam ago