Advetorial

Pengurus Dekranasda Kota Ternate Dilantik, Dorong Tenun Lokal Masuk Sekolah

Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Ternate, Maluku Utara, untuk masa bakti 2025-2030 resmi dilantik di Pendopo Benteng Oranje, Selasa, 23 Juni 2026.

Pelantikan yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Ke-46 Dekranas ini menjadi penanda dimulainya sejumlah agenda besar pengembangan sektor kerajinan di Kota Ternate.

Agenda tersebut yakni mulai dari penguatan industri kecil menengah (IKM) hingga rencana memasukkan tenun dan kriya lokal ke dalam kurikulum muatan lokal sekolah.

Ketua Harian Dekranasda Kota Ternate yang juga Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Ternate, Nursidah DJ Mahmud, mengatakan pelantikan kepengurusan baru merupakan langkah strategis memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan para perajin.

Menurut dia, struktur kepengurusan yang diisi sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) sengaja dibentuk untuk mengoptimalkan pengembangan ekonomi kreatif, khususnya di sektor kerajinan.

“Ini menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen kita dalam memajukan sektor kerajinan daerah, meningkatkan kreativitas perajin, serta mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat,” kata Nursidah.

Sementara Ketua Dekranasda Kota Ternate, Marliza M. Tauhid, dalam sambutannya menegaskan bahwa keterbatasan fiskal daerah tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berinovasi. Ia menuturkan pengurus Dekranasda tetap dituntut melahirkan gagasan baru guna mendorong kemajuan pelaku IKM dan perajin lokal.

“Ada pekerjaan besar ke depan. Di tengah keterbatasan fiskal daerah yang hampir kita semua rasakan, saya berharap pengurus Dekranasda tetap melahirkan inovasi dan pemikiran baru. Kalau keterbatasan dana, paling tidak kita harus punya semangat,” ujar Marliza.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para pelaku industri kerajinan di Ternate yang selama ini tetap menjaga keberlanjutan produk lokal, di antaranya pengrajin Tenun Koloncucu, Tenun Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM), Mayana Ecoprint, dan Batik Maleyfo.

Menurut Marliza, para perajin memiliki peran penting bukan hanya dalam menggerakkan ekonomi, tetapi juga merawat sejarah dan kearifan lokal Ternate melalui karya-karya yang mereka hasilkan.

“Di tangan Bapak dan Ibu sekalian, kita bisa merawat sejarah dan kearifan lokal yang ada di Kota Ternate,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Marliza turut menyinggung perjalanan kerajinan tenun di Ternate yang mengalami pasang surut. Ia mengingatkan bahwa Tenun ATBM pernah berjaya pada era 1980-an, tetapi kemudian vakum sekitar 1999 hingga 2000.

Upaya menghidupkan kembali tenun tersebut, kata dia, mulai dilakukan pada 2021-2022. Saat itu, pengurus Dekranasda menemui salah satu tokoh penting dalam sejarah tenun Ternate, almarhum Prahoro. Meski sudah berusia lanjut dan penglihatannya menurun, Prahoro tetap membagikan pengetahuan dan materi yang dimilikinya demi keberlanjutan tenun ATBM.

“Kami di sini sebatas melanjutkan, mengembangkan, dan melestarikan. Namun hasil inovasi dari para pendahulu itu sungguh luar biasa,” ujar Marliza.

Marliza juga meluruskan anggapan bahwa tenun tidak memiliki akar sejarah di Ternate. Ia mencontohkan Tenun Koloncucu yang hingga kini masih bertahan dan bahkan telah memasuki generasi kelima.

Salah satu agenda besar Dekranasda Kota Ternate dalam periode 2025-2030 ialah mendorong kriya tenun, wastra, dan kerajinan tangan lainnya masuk ke dalam kurikulum muatan lokal pada jenjang pendidikan formal. Langkah ini dinilai penting sebagai upaya regenerasi perajin sekaligus penguatan identitas budaya sejak usia dini.

Menurut Marliza, rencana tersebut mulai dimatangkan melalui rapat koordinasi yang digelar sebulan lalu bersama Bank Indonesia, Dinas Pendidikan Provinsi Maluku Utara, Dinas Pendidikan Kota Ternate, dan Dekranasda.

“Kami sudah sampaikan bahwa Dekranasda Kota Ternate siap mendukung penuh penguatan materi-materi itu untuk dijadikan muatan lokal mulai dari murid SD, SMP, hingga SMA,” kata Marliza.

Ia berharap agenda tersebut mendapat dukungan penuh dari Dekranasda Provinsi Maluku Utara serta kolaborasi berkelanjutan dengan Bank Indonesia agar program pembinaan perajin dan penguatan produk kerajinan lokal dapat berjalan lebih optimal.

Dengan pelantikan kepengurusan baru ini, Dekranasda Kota Ternate diharapkan tidak hanya menjadi wadah pembinaan perajin, tetapi juga motor penggerak pelestarian wastra dan kerajinan lokal di tengah tantangan fiskal daerah.

redaksi

Recent Posts

Bookfest untuk Torang Bangun Kebiasaan Babaca

Oleh: Budhy Nurgianto*   ADA seorang pengusaha dan filantropis asal Amerika Serikat yang terkenal paling…

4 jam ago

Kejar Kebutuhan 60 Ribu Tenaga Kerja, Pemkab Haltim Jajaki Kerja Sama dengan Unhan RI

Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur menjajaki kerja sama dengan Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) untuk…

15 jam ago

Kasus KDRT Bripka RAP: Keluarga Kecewa Pipin Pilih Berdamai dan Bela Suami

Polemik dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang melibatkan mantan anggota Brimob Polda Maluku Utara…

16 jam ago

Buku dan Kutu-Kutu Buku

Oleh: WDGafoer “Sebuah buku seharusnya menjadi sebilah kapak yang sanggup memecahkan lautan beku dalam diri…

17 jam ago

Wabup Morotai Minta Ketua APDESI Terpilih Rangkul Seluruh Kades dan Perkuat Pembangunan Desa

Wakil Bupati Pulau Morotai, Rio Cristian Pawane, berharap Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Asosiasi Pemerintah…

20 jam ago

Polda Malut Tegaskan PTDH Oknum Brimob Kasus KDRT Meski Istri Membantah Jadi Korban

Polda Maluku Utara menegaskan keputusan Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) terhadap oknum anggota Brimob, Bripka…

21 jam ago