News

Dampak Geopolitik, Harga LPG di Maluku Utara Berpotensi Naik 30 Persen

Pemerintah Provinsi Maluku Utara bersama Pertamina Patra Niaga dan sejumlah agen LPG mulai mengantisipasi lonjakan harga gas pascaperubahan situasi geopolitik global dan pengalihan jalur suplai.

Meski penggunaan LPG di wilayah ini baru menyentuh angka 4 persen, kenaikan ini diprediksi akan berdampak signifikan pada sektor UMKM dan industri rumah tangga.

Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Utara Samsuddin A. Kadir mengungkapkan bahwa kenaikan harga ini dipicu oleh dua faktor utama yakni kenaikan harga internasional dan perubahan pola distribusi. Sebelumnya, pasokan gas diambil dari Surabaya, namun kini dialihkan melalui Ambon.

“Surabaya jaraknya memang lebih jauh tapi pelayarannya lancar. Sementara dari Ambon, meski dekat, kita tidak punya pelayaran barang reguler sehingga agen harus men-charter kapal,” ujar Sekda saat di wawancarai, Selasa 21 April 2026.

Biaya carter kapal yang tinggi ini menyebabkan potensi kenaikan harga di pasar bisa mencapai 30 persen, jauh di atas kenaikan harga dasar yang hanya sekitar 17 persen. Pemerintah khawatir jika harga gas melonjak terlalu tajam, masyarakat akan kembali beralih ke minyak tanah bersubsidi, yang pada akhirnya akan menambah beban subsidi negara.

Sekda bilang, sebagai solusi jangka pendek, Pemerintah Provinsi Maluku Utara berencana bersurat ke pemerintah pusat untuk meminta dukungan kapal Tol Laut rute Ambon-Ternate guna menekan biaya distribusi.

“Untuk jangka panjang, kami berharap di Ternate segera dibangun Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) agar pengisian tabung bisa dilakukan langsung di sini dan memangkas rantai pasok yang mahal,” tambahnya.

Sementara itu, Dewi dari agen LPG Satria Reksa Binaguna menuturkan bahwa meskipun kenaikan harga tidak terhindarkan, pihaknya masih terus melakukan pengkajian agar harga baru nantinya tidak memberatkan masyarakat.

“Kami berkomitmen dengan kenaikan itu, tapi harus adil. Tidak merugikan pengusaha namun juga tidak memberatkan masyarakat,” kata Dewi.

Dewi juga memastikan bahwa stok gas di tingkat agen saat ini masih aman untuk memenuhi kebutuhan warga hingga pasokan baru tiba. Kapal pengangkut yang bertolak dari Ambon dijadwalkan tiba di Ternate pada Sabtu mendatang.

“Masyarakat tidak perlu panic buying. Stok masih ada sekitar 1.000 tabung dan kami atur sedemikian rupa agar tetap tersedia sampai kapal tiba,” pungkasnya.

redaksi

Recent Posts

Anak Muda Ternate Ingatkan Bahaya Sampah, Desak Pemkot Bertindak Nyata

Komunitas Anak Muda Sadar Sampah (Ankam) menyoroti penanganan sampah di Kota Ternate yang dinilai masih…

7 jam ago

Pemkot Ternate Siapkan Pilot Project Pengolahan Sampah Organik Jadi Pupuk

Pemerintah Kota Ternate terus mendorong inovasi dalam pengelolaan lingkungan sekaligus penguatan sektor pertanian. Salah satu…

1 hari ago

Kemenko Kumham Imipas Kunker ke Kejati Malut, Sinkronisasi Agenda Pembangunan Nasional

Kementerian Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Kemenko Kumham Imipas) Republik Indonesia…

2 hari ago

𝐒𝐄𝐊𝐓𝐎𝐑𝐀𝐋 𝐈𝐬 𝐌𝐞

Oleh: Jho’e_MA. Pendiri dJAMAN dan SAMURAI Maluku Utara   “…𝗣𝗮𝗱𝗮 𝗸𝗲𝘀𝗮𝗱𝗮𝗿𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗗𝗜𝗧𝗨𝗠𝗕𝗨𝗛𝗞𝗔𝗡, 𝗽𝗮𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴…

2 hari ago

PT SMA di Halteng Disomasi Gegara Upah Pekerja Tak Dibayar

PT Samudera Mulia Abadi (SMA) Site Weda Bay Nickel di Halmahera Tengah, Maluku Utara, disomasi…

2 hari ago

Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, PT IWIP Resmikan Sanctuary Park untuk Pelestarian Flora dan Fauna Endemik Halmahera

PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 dengan meresmikan…

2 hari ago