Sastra

AFO : Pohon Terakhir Mahira

Oleh: Ema Emhade*

“Lenna, akhir-akhir ini ngoni tertarik foto pohon. Kenapa? Kita so jarang kaufoto. Setiap ke rumah, sama Domma dan Matto, kalian selalu ke kebun. Yang kaufoto, selalu pohon. Bahkan pohon-pohon kecil pun kaufoto, dari atas, dari samping dan kadang dari jarak semeter. Ada apa, Kawan?”, tagih Hira kepada Lenna, suatu hari.

 

“Maaf, Hira! Kita sekarang dapat job buat tambah biaya kuliah. Kita diminta foto pohon, kong setor ke Om Tan, bosnya Matto. Satu foto sepuluh ribu. Puji Tuhan!” Lenna singkat menjawab.

Hira diam terpaku mendengar jawaban sahabat kampusnya. Lenna mulai tampak menghindar darinya.

****

Hampir sebulan lebih, Matto dan Domma sibuk mondar-mandir dari sekretariat HMJ ke markas Ecolens, tempat Lenna berkumpul dengan komunitas fotografi. Ternyata, mereka bertiga sedang sibuk membuat foto-foto pohon kecil dilengkapi data koordinat. Sebagian diambil dari tanaman yang dikunjungi bersama Pak Kahar, juragan sekaligus penjual bibit. Selain kerja sama dengan kantor pemerintah, kadang Pak Kahar juga dapat pekerjaan dari pengusaha tambang untuk garap proyek penanaman pohon.

Matto, mahasiswa Celebes, sebagai pengurus HMJ yang bertekad mandiri. Ia kuliah sambil bekerja di usaha fotokopi milik Om Tan, sekaligus kepala bidang sebuah perusahaan tambang di pulau sebelah. Ia terobsesi kesuksesan Om Tan, multi talenta, pandai bergaul dan kolega banyak. Kekagumannya kian bertambah, karena Om Tan bisa menikahi salah satu anak tokoh daerah.

Lain Matto, lain Domma. Meski sama-sama dari keluarga kurang mampu, dia yatim dan Matto piatu, Domma si kutu buku dari Borneo ini cenderung lebih irit bicara. Dia akan banyak bercerita jika ditanya buku yang dibaca ataupun mata kuliah terbaru. Dia hafal teori Eksakta, rumus Aljabar dan analisis Statistik. Kepintarannya kian sempurna dengan pengetahuan teknologi dan IT. Domma hampir sama dengan Lenna, hanya saja Lenna lebih pendiam. Mereka tak bisa basa-basi seperti halnya Matto.

Lenna, laki-laki Timur dari pulau yang sama dengan Mahira. Meski sudah bergaul sejak awal kuliah, Lenna hanya bisa memendam perasaan kepada Hira. Lenna tahu, Hira sangat mengagumi Domma. Hira terkesima dengan kecerdasan Domma, ditambah sikap yang tenang dan menghanyutkan.

Terhadap Matto, Hira suka keramahannya. Matto tampak selalu riang, mengobral senyum dan tawa seakan tak tersirat kesedihan di wajah.

Pertautan Hira dengan ketiga pemuda itu unik. Lenna suka Hira dan Hira suka Domma. Namun, Domma lebih suka jika Lenna dekat Hira. Karena Domma masih menyimpan cinta pertamanya, tiga tahun lalu di pelabuhan Borneo. Matto sendiri punya obsesi dengan Ruth, sahabat Hira.

****

“Hira, ini Afo! Bibit yang tong tanam lebaran tahun lalu.” Suatu hari Lenna menunjukkan foto tanaman pala kepada Hira. Setahun lalu, Lenna, Matto dan Domma berkunjung ke rumahnya. Saat itu pula, Ruth, sahabat Hira yang turut bakubantu persiapan lebaran keluarganya, bersimpati kepada Lenna. Ruth yang antar Lenna melaksanakan ibadah Paskah di gereja desa sebelah.

“Daunnya segar, jumlahnya pun lebih dari enam helai. Tingginya sudah setengah meter, pun batang hijaunya sudah mulai bercabang kecil. Lihatlah! Matto bilang, foto ini bagus kalo dijual ke Pak Kahar atau Om Tan. Matto bilang, tanaman ini bisa diambil gambar dari sudut mana pun. Nanti Domma yang olah!” Lenna tampak bersemangat menjelaskan foto tersebut. Katanya, satu foto bisa diambil gambar minimal sepuluh kali. Apalagi jika diambil pas di waktu berbeda. Paling tidak, pagi-sore. Setidaknya, satu foto bisa laku seratus ribu.

“Ditambah foto-foto tanaman lain, kita bisa dapat lebe dan dapat bayar SPP dua semester. Puji Tuhan!” pungkas Lenna, matanya berbinar.

Hira diam menyimak penjelasan Lenna tentang foto tanaman myristica fragrans. Ia ingat, bibit itu ditanam bersama Lenna. Ia menghormati ajakan Lenna yang ingin merayakan Paskah di bulan Lebaran dengan menanam pohon di kebun orang tuanya.

Ini pohon Toleransi Sebumi, kata Lenna. Hira paham maknanya, sebatang pohon yang ditanam dua insan dengan doa berbeda. Mereka mengucap mantra bertanam dengan bahasa lokal orang pulau, kaha wito tufa naro, bumi dorong – langit tarik, agar tumbuh. Hira menyisipkan kalimat basmalah dan shalawat sebelum menanam. Lenna memasukkan salib kayu kecil di bawah tanaman. Sebuah asa bersama agar tanaman tumbuh, uto ena sado yahu.

Namun…

Kita tara setuju, Lenna!” Hira menimpali penjelasan kawannya. “Kita tara mau, tong pe foto tanaman, jadi barang dagangan. Jangan cemari prasasti persahabatan torang. Biarkan tanaman itu tumbuh tanpa menjadi bagian proyek kalian.”

Hira sedikit tahu dari Matto perihal proyek penanaman pohon yang melibatkan kawan-kawannya. Pekan lalu, Hira menanyakan Matto, terkait perubahan sikap Lenna. Saat itu, dengan segala keramahan, Matto bercerita kepada Hira perihal proyek foto pohon. Sebagian foto diambil dari tanaman asli perusahaan Om Tan, dikerjakan Pak Kahar. Namun, sebagian juga diambil dari sembarang tanaman dari kebun orang lain. Dan kini, Lenna ingin menggunakan foto tanaman Afo, pohon toleransi mereka.

“Tapi Hira, foto-foto ini bisa menambah tong pe uang saku. Ngana tahu, kan! Selama ini, torang selalu kekurangan biaya kuliah. Bahkan, kadang torang harus buang malu pinjam ke Pak Mus,” Lenna mencoba membela diri.

Hira tahu, ketiga kawannya tersebut sangat dekat dengan keluarganya. Ayahnya sudah menganggap mereka seperti anak sendiri, sebagai pelengkap, karena dia anak tunggal perempuan. Tak jarang, ayahnya meminjamkan uang. Terlebih, ayahnya tahu latar belakang mereka dan pernah merasakan nasib sebagai anak rantau, tepatnya anak transmigran.

“Pokoknya tidak! Terserah kalian!” Hira merebut foto tersebut, sembari berlalu.

Lenna terdiam, paham dengan karakter Hira, anak pekebun yang sangat dihormatinya.

****

“Matto…Domma, tolong jangan libatkan Lenna!” Suatu hari, Hira bertemu kedua kawannya, setelah mata kuliah Silvikultur. Kebetulan, hari itu Lenna tidak masuk kuliah, sakit.

“Kalau ngoni mo cari tambahan penghasilan, cobalah bekerja jujur. Jaga marwah kalian! Jauh-jauh merantau, kuliah untuk kasenae derajat dan nama baik orang tua. Jang bagitu! Apalagi ajak-ajak Lenna. Kalian tahu, kan, badannya ringkih! Kalian sering ajak begadang, ngopi tengah-tengah malam. Terkadang, besoknya kalian ajak menyeberang, masuk hutan dan kebun orang. Janganlah!” Hira mengakhiri khutbahnya.

“Semenjak bertemu Alam, engkau mulai kritis rupanya. Apa yang kaudapat dari si Gondrong itu?” Matto menimpali kata Hira.

“Aku merantau ke sini untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. Di kota ini, aku bisa sukses, lulus kuliah, punya penghasilan dan dapat kerjaan layak, seperti Om Tan, Pak Kahar. Paling tidak, seperti ayahmu lah! Apalagi, ehm … ada  Ruth,” Matto tersipu.

“Kamu tahu kan, ongkos nikah mahal. Aku mau punya uang seratus juta. Biarkan kami mancari, kerja sesuai keinginan. Aku janji, tidak akan merepotkanmu, apalagi Pak Mus. Kami juga mo bayar hutang ke ayahmu, mo berbagi dengan Lenna. Kami senasib, serantau. Beda dengan engkau, Ruth ataupun Alam, akamsi!”.

Hira hanya diam membisu. Tampak dia kurang suka saat Matto sebut nama Alam; ketua Mapala. Padahal, Alam-lah yang memberikan informasi bisnis tersembunyi Pak Kahar, dibantu ketiga kawannya. Pak Kahar juga menggandeng oknum aparat untuk melindungi usahanya.

“Hira, terus terang, kakak saya sudah kewalahan membiayai sekolah ketiga anaknya, sementara gaji suaminya pas-pasan. Saya juga mau mengangkat martabat keluarga. Sama dengan Matto, saya perlu biaya. Perlu beli buku-buku, biaya kegiatan kampus. Sementara, pengumuman beasiswa belum ada hasil,” Domma mencoba menjelaskan dengan lebih lembut.

“Tolong, pahami kami!” pintanya.

Hira masih terdiam. Rasa kagumnya kepada Domma berangsur surut semenjak tahu aktivitas kedua kawannya, apalagi melibatkan Lenna. Baginya, di antara mereka, Lenna yang terdekat dengannya. Lenna kawan yang tak pernah menyela cerita, selain sekadar senyum tipis atau diam dan berlalu jika tak setuju. Sesekali, jika tak tertarik cerita, Lenna akan menyibukkan diri dengan kamera atau benda apapun di dekatnya.

“Domma, kita tara larang ngoni kuliah sembari kerja. Tapi, kenapa harus dengan pekerjaan itu. Kau tahu kan, itu bertentangan dengan perjuangan warga kami. Sawah tercemar, tanah tandus, sungai mengering. Tak sedikit sesama warga bakulai, berebut tanah warisan untuk dijual ke perusahaan. Bahkan ngoni juga mengerti, sebagian kawan Om Tan bakongsi dengan oknum pemerintah dan pengusaha lokal yang nakal. Dong korbankan tanah dodomi untuk keuntungan pribadi. Dong ikut rusak tong pe kampung. Ingat Domma, torang punya korsa anak-anak Perimba,” Hira menjelaskan secara akademis kepada sang intelektual kampus.

“Matto, kita tara peduli urusanmu deng Ruth. Aku hanya peduli kampungku, negeriku!” Hira menghujamkan kalimat pamungkas sembari berlalu meninggalkan kedua ‘saudara’-nya.

****

Setahun kemudian…

“Kak Hira, salam dari Bang Matto. Maaf, dong belum bisa datang karena belum dapat cuti. Selamat Hari Raya, ya, Kak! Maaf lahir batin,” ujar Ruth, lebaran pekan lalu. Hira tersenyum sembari memeluk sahabat mudanya.

“Di mana dorang sekarang?” tanya Hira. Semenjak meninggalnya Lenna karena tersengat listrik di markas Ecolens, mereka tak bertemu lagi. Bahkan saat pemakaman Lenna, Hira dan ayahnya tak sempat bertemu Matto dan Domma karena datang terlambat. Berita kematian Lenna termasuk mendadak. Hira merasa perlu menjemput ayahnya agar bisa menyaksikan pemakaman salah satu ‘anak piara’. Semenjak itu, mereka berdua menghilang, tak ada kabar.

“Bang Matto tak lanjut kuliah. Ia kerja di perusahaan, bagian enviro. Bang Domma pindah kuliah di kampung halamannya. Dorang merasa shock sepeninggal Bang Lenna, karena saat tragedi itu, dong tiga sedang garap proyek foto pohon di markas Ecolens,” jelas Ruth.

“Pesan Bang Matto, foto Afo tolong disimpan baik-baik. Dorang tara jadi pakai. Proyek foto pohon telah berakhir. Terimakasih Kak! Dong mo berubah!” pungkas Ruth.

“Syukurlah!” sahut Hira.

Ia pandangi langit, membayang wajah ketiga kawannya yang jauh. Ia tersenyum, foto Afo tak menjadi bagian dari bisnis manipulasi pengerat negeri. Menurut ayahnya, kini Afo mencapai dua meter dan mulai bertunas bunga. Afo, pohon terakhir di ujung kehidupan sahabatnya, Lenna.


Glosarium

(Bahasa Ternate, Tidore, Arab, Latin & Inggris)

Afo                                          = Tua

ngoni                                       = kalian, Anda

ngana                                      = kamu

kita                                          = aku

so                                             = sudah

job                                           = tugas/pekerjaan

kong                                        = kemudian

tong (torang), kitong               = kita, aku

bakubantu                               = saling bantu

tara                                         = tidak

kaha wito tufa naro                 = bumi tolak/dorong, langit Tarik

basmalah                                 = bismillahirrahmaanirrahiim = Dengan menyebut asma Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

shalawat                                  = Allahummas halli ‘ala Muhammad = Ya Allah, berilah keselamatan kepada Nabi Muhammad saw

uto ena sado yahu                   = tanam (pohon) sampai hidup

kalo                                         = kalau, jika

lebe                                         = lebih

myristica fragrans                   = tanaman pala

tong pe (torang punya)           = milikku, milik kita

buang malu                             = nekad

kasenae                                   = menaikkan

jang bagitu                              = jangan begitu

mancari                                   = bekerja

mo                                           = mau, akan

akamsi                                     = anak kampung sini, anak lokal, pribumi

bakulai                                    = berkelahi, bertikai

bakongsi                                  = kerja sama

dodomi                                    = ari-ari, plasenta

dong (dorang)                         = dia, mereka

deng                                        = dengan

anak piara                               = anak angkat

enviro                                      = bagian lingkungan/penghijauan

shock                                       = kaget

dong tiga                                 = mereka bertiga


BIODATA PENULIS

*Ema Emhade (Muh. Arba’in Mahmud), kelahiran Sragen, Jawa Tengah dan aktif pada gerakan ‘Sastra Hijau’ dan ‘Literasi Lestari’.  Kini bermukim di Ternate, Maluku Utara dan menulis 13 buku pribadi/kompilasi puisi dan esai ekoteologi (ekologi, sosial/budaya dan spiritualitas). Motto hidup: “Diam adalah emas, bicara adalah permata, karya adalah mutiara. Fastabiqul literat!”

redaksi

Share
Published by
redaksi

Recent Posts

Tak Beri Celah bagi Narkoba, Lapas Sanana Perkuat Komitmen “Zero Halinar”

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Sanana, Kepulauan Sula, Maluku Utara, terus menggencarkan komitmen Zero Halinar…

3 menit ago

Penerimaan Anggota Polri 2026, Polda Malut Ingatkan Orang Tua Casis Waspada Penipuan

Polda Maluku Utara kembali mengingatkan para orang tua Calon Siswa (Casis) yang anaknya tengah mengikuti…

32 menit ago

Dampak Geopolitik, Harga LPG di Maluku Utara Berpotensi Naik 30 Persen

Pemerintah Provinsi Maluku Utara bersama Pertamina Patra Niaga dan sejumlah agen LPG mulai mengantisipasi lonjakan…

1 jam ago

NHM Paparkan Inovasi Dry Stack Tailings di Seminar Nasional ITNY

Dedikasi PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) dalam mendukung pendidikan khususnya bidang pertambangan adalah investasi strategis…

7 jam ago

Korban Kebakaran di Ternate Dapat Bantuan Pemkot

Sekretaris Daerah Kota Ternate, Rizal Marsaoly, turun langsung meninjau lokasi musibah kebakaran yang melanda dua…

11 jam ago

Pemkot Lakukan Penataan Kembali Kawasan Parkir Pasar Higienis Ternate

Pemerintah melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Ternate kembali melakukan penataan di kawasan parkir…

12 jam ago