Oleh: Yanuardi Syukur
(Dosen Antropologi Universitas Khairun)
Saya beruntung dapat berkunjung ke Sanya, Hainan, China, menghadiri Konferensi Produktivitas Kualitas Baru dan Pengembangan Berkualitas Tinggi untuk Makanan, Obat-obatan, Peralatan Medis, dan Kosmetik Tiongkok 2026 (8–11 Mei 2026).
Berada di sana, berkat rekomendasi Dr. Muslim Abdullah, saya menyaksikan langsung bagaimana sebuah provinsi yang dulunya dikenal sebagai pulau wisata kini bertransformasi menjadi pusat inovasi global. Sejak pemberlakuan operasi penutupan bea cukai seluruh Pulau Hainan pada 18 Desember 2025, kawasan ini mencatat 139.000 entitas bisnis baru (+58,62%) dan 1,021 juta kunjungan wisatawan asing dalam empat bulan pertama.
Di Taman Sains dan Teknologi Teluk Yazhou, puluhan ribu peneliti dari berbagai universitas ternama berkumpul memecahkan masalah dari teknologi benih hingga energi laut dalam.
Hingga awal 2025, setiap 10.000 penduduk Hainan sudah memiliki 10,1 hak paten penemuan, dengan proses pengajuan yang dipangkas dari satu setengah tahun menjadi hanya 29 hari kerja. Mereka tidak banyak bicara, tetapi membuktikan bahwa kesederhanaan—jika dikelola dengan sistem yang serius—bisa melahirkan keajaiban.
Dalam forum tersebut, saya mendapatkan paparan langsung tentang dua teknologi kesehatan yang sangat relevan bagi Indonesia, yakni terapi sel punca (stem cell) yang penting untuk pengobatan dan sistem persiapan Plasma Kaya Trombosit (PRP) dengan teknologi yang relatif murah, menggunakan darah pasien sendiri, dan dapat diaplikasikan untuk ortopedi, kecantikan, hingga kedokteran reproduksi.
Apa yang membuat Hainan begitu istimewa?
Bukan hanya soal teknologinya, melainkan “mental bangsa besar” yang mereka tunjukkan: mereka tidak membangun inovasi untuk diri sendiri, tetapi untuk keberadaan semua. Kawasan medis Boao Lecheng tidak hanya melayani warga China, tetapi juga menarik pasien dari Indonesia, Rusia, hingga Dubai, dengan kunjungan wisata medis mencapai lebih dari 860.000 orang pada 2025.
Zona Pilot Inovasi Pendidikan Internasional Li’an (12,7 km²) menyatukan mahasiswa dari 50 negara lebih, menciptakan ekosistem pembelajaran lintas budaya yang sesungguhnya, dengan konsep “Belajar di Hainan Sama dengan Belajar di Luar Negeri”. Mental pro-eksistensi ini juga tercermin dari kebijakan ekonomi mereka.
Di era ketidakpastian global, China mengusung semangat “kemakmuran bersama”, dan menegaskan bahwa modernisasi adalah untuk semua orang, tanpa meninggalkan siapa pun. Hainan adalah mikro kosmos dari visi besar itu: pembangunan harus inklusif, berkelanjutan, dan bermanfaat bagi kemanusiaan secara luas. Inilah yang membedakan “kekuatan” dari “kebesaran”.
Menyaksikan Hainan, saya bertanya pada diri sendiri: bagaimana dengan kita? Seringkali kita terpaku pada mimpi-mimpi besar yang rumit, padahal kekuatan sejati justru lahir dari hal-hal kecil yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh.
Masyarakat Hainan tidak serta-merta menjadi jenius dalam semalam. Mereka membangun fondasi dari hal yang paling sederhana, yakni sistem administrasi paten yang efisien, kawasan pendidikan kolaboratif, serta pelabuhan perdagangan bebas dengan birokrasi yang ramping. Dari fondasi sederhana ini, mereka kemudian menciptakan inovasi-inovasi besar.
Lalu, pelajaran apa yang bisa kita petik? Jika kita ingin berkompetisi di era digital dan inovasi, kita harus mulai dari “kerendahan hati untuk belajar” dan “ketekunan untuk membangun sistem”. Jangan selalu mencari “jalan pintas” atau “keajaiban instan”.
Hainan mengajarkan bahwa kebesaran suatu bangsa tidak diukur dari seberapa keras ia berteriak, melainkan dari seberapa gigih ia bekerja di balik layar, dan seberapa tulus ia berbagi hasilnya dengan dunia. Mentalitas “sederhana tapi kuat” ini adalah kunci untuk keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah.
Setelah menyaksikan semangat Hainan secara langsung, saya optimis bahwa kita semua bisa belajar dari mereka. Bukan berarti kita harus meniru persis kebijakan China, tetapi kita perlu meniru esensinya: kerja keras yang tidak banyak tingkah, disiplin riset yang tinggi, dan visi pembangunan yang berkelanjutan. Indonesia, dengan segala potensi sumber daya alam dan manusianya, sangat mungkin untuk melangkah lebih jauh.
Kita dapat jadikan Hainan sebagai cermin, bukan untuk sekadar dikagumi, tetapi untuk memantik api perubahan di tanah air. Seperti kata pepatah China, “Perjalanan seribu mil dimulai dari langkah pertama.” Transfer pengetahuan, teknologi dan etos kerja dari China cukup bagus untuk kemajuan riset dan inovasi kita.
DPRD Kota Ternate menegaskan bahwa rencana penataan kawasan pedagang buah di Pasar Gamalama harus dilakukan…
Pemerintah Kota Ternate terus mencari sumber pendapatan baru untuk memperkuat pendapatan asli daerah (PAD) di…
Musyawarah Daerah (Musda) VII Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Provinsi Maluku Utara dan Musda I…
Seorang pemuda berinisial MAG (21) ditangkap Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Maluku Utara setelah kedapatan…
Oleh: Abu Zubair Latupono, S.IP., M. M. (Mahasiswa Doktoral Ilmu Manajemen Universitas Terbuka) INDONESIA kini…
Sekretaris Jenderal BPP HIPMI, Anggawira, meminta Tim Caretaker BPD HIPMI Maluku Utara tetap melanjutkan pelaksanaan…