Categories: News

Konvensi: Ruang Kolaborasi untuk Masyarakat Sipil dan Keanekaragaman Hayati Malut

Kerusakan ekologis yang kian masif di Maluku Utara memantik gelombang kolaborasi dari berbagai elemen. Menjawab tantangan tersebut, lembaga masyarakat sipil menginisiasi Konvensi Keanekaragaman Hayati (Kehati) dan Masyarakat Sipil 2025 sebagai ruang dialog setara untuk menyelamatkan lingkungan bumi Moloku Kie Raha.

Konvensi yang berlangsung di Hotel Emerald, Kota Ternate, selama dua hari sejak Rabu hingga Kamis 3 sampai 4 Desember2025 ini dihadiri lintas sektor. Mulai dari perwakilan pemerintah, masyarakat sipil, masyarakat adat, akademisi, jurnalis, hingga kalangan mahasiswa.

Mereka melebur dalam satu ruang, menyuarakan gagasan pengelolaan Kehati, sekaligus mendorong percepatan pengakuan hak-hak masyarakat adat di Maluku Utara.

Perwakilan Burung Indonesia, Benny Aladin, yang juga menjadi salah satu lembaga inisiator menjelaskan, konvensi ini lahir dari kebutuhan mendesak akan adanya ruang perjumpaan yang inklusif bagi pejuang lingkungan.

“Konvensi ini ada karena kebutuhan lembaga masyarakat sipil sebagai ruang dialog dalam posisi yang setara serta dalam nuansa bersahabat untuk saling berbagi, khususnya yang berkaitan dengan lingkungan hidup,” ujar Benny saat memberikan keterangan pada Rabu, 3 Desember 2025.

Bagi para pegiat lingkungan, konvensi ini bukan sekadar seremoni, melainkan momentum konsolidasi gerakan yang lebih besar demi membentengi alam Maluku Utara dari ancaman ekstraksi dan deforestasi.

Respons Pemerintah dan Suara dari Akar Rumput

Upaya kolaboratif ini mendapat sambutan positif dari pihak birokrasi. Mewakili Pemerintah Provinsi Maluku Utara, Samsuddin A. Kadir mengapresiasi langkah taktis yang diambil oleh koalisi masyarakat sipil tersebut.

“Penting bagi kita agar memahami penyelamatan keanekaragaman hayati dari adanya potensi kerusakan lingkungan yang berdampak. Konvensi ini akan menjadi jawaban atas persoalan tersebut,” tutur Samsuddin.

Meski demikian, pekerjaan rumah terbesar justru datang langsung dari jeritan masyarakat adat di akar rumput yang ruang hidupnya kian terjepit.

Alpun Hadi (45), perwakilan masyarakat adat Tobelo Dalam yang jauh-jauh datang menghadiri konvensi, menitipkan harapan besar agar pemerintah tidak menutup mata terhadap konflik agraria yang mereka hadapi di dalam hutan.

“Kami berharap kepada pemerintah agar ada tanggapan supaya kami tidak berkonflik dalam mengelola hutan, serta hutan kami terjaga dengan baik karena sumber air kami berasal dari sana,” ungkap Alpun lirih.

Untuk diketahui, Konvensi Kehati dan Masyarakat Sipil 2025 ini diinisiasi oleh kongsi tiga lembaga yang konsisten mengawal isu lingkungan dan kemanusiaan di Maluku Utara, yakni Burung Indonesia, Fala Lamo, dan Save Halmahera.

Melalui pertemuan dua hari ini, koalisi berharap dapat merumuskan rekomendasi konkret guna mendorong kebijakan perlindungan ekologi yang berkeadilan serta pengakuan legal atas hak masyarakat adat yang selama ini terabaikan.

redaksi

Recent Posts

Begini Respons Terpadu NHM dalam Penanganan Karhutla di Gosowong

PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) mengerahkan tim tanggap darurat untuk menangani kebakaran hutan dan lahan…

1 hari ago

Ipda Imam Pimpin Polsek Wasile Selatan, Peredaran Miras Jadi Perhatian

Ipda Imam Eko Akbar Yudha resmi menjabat sebagai Kapolsek Wasile Selatan, Polres Halmahera Timur, menggantikan…

1 hari ago

Mantan Bupati Halteng Dilaporkan ke Polda Malut, Dugaan Penipuan Rp3,05 Miliar

Mantan Bupati Halmahera Tengah (Halteng) berinisial EL alias Elang dilaporkan ke Direktorat Reserse Kriminal Umum…

2 hari ago

Safri Abdul Muin Pimpin Kejari Morotai, Diminta Kawal Pembangunan Bebas Korupsi

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Pulau Morotai kini dijabat Safri Abdul Muin. Ia resmi menggantikan Dr.…

2 hari ago

BBM Langka di Pulau Taliabu, Dijual Rp35ribu Perliter

Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite dan Pertamax di Pulau Taliabu, Maluku Utara, kehabisan stok…

2 hari ago

Imbas Kenaikan Dollar, PAD di Pulau Taliabu Melemah

Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui retribusi Tenaga Kerja Asing (TKA) di Pulau Taliabu, Maluku Utara…

2 hari ago