Para tetua dan warga yang sempat berpatisipasi dalam perayaan ela-ela. Foto: Istimewa
Tradisi ela-ela atau memperingati malam seribu bulan saat Ramadan tampak kembali dihidupkan oleh kaum muda di lingkungan RT 02/RW 04, Kelurahan Makassar Barat, Kota Ternate, malam itu, Senin, 16 Maret 2026.
Menurut Sekretaris Remaja Mushola Nurun Najah, Safrudin Dahlan, kegiatan tersebut pertama kali diinisiasi sejak tahun 2023 lalu. Ide awalnya lahir dari diskusi santai para pemuda yang mencari kegiatan positif untuk mengisi waktu luang di kampung mereka.
Dia bilang, momentum tradisi ini bermula dari perayaan Maulid Nabi. Dari situ, para remaja kemudian bersepakat melanjutkannya pada bulan Ramadan dengan tujuan membangkitkan kembali kenangan dan tradisi yang pernah dijalankan generasi terdahulu.
“Tradisi ini dikenal dengan istilah selo geto, yang merupakan ungkapan rasa syukur melalui hidangan buah-buahan tradisional yang disajikan di atas meja,” ujar Safrudin, sembari menjelaskan bahwa pada masa lalu hidangan tersebut biasanya diperuntukkan bagi anak-anak.
Namun seiring meningkatnya antusiasme para tetua kampung yang juga ingin merasakan hidangan tradisional itu, format kegiatan tahun ini dibagi menjadi dua bagian, yakni untuk anak-anak dan untuk orang tua atau para tetua desa.
Buah-buahan yang disajikan pun sengaja dipilih dari hasil alam lokal agar tetap mempertahankan nuansa tradisional. Beberapa di antaranya seperti tebu, jagung, dan delima. Panitia bahkan berupaya menghindari penggunaan buah impor agar tradisi tersebut tetap mencerminkan kehidupan masyarakat masa lalu.
Menariknya, sebagian besar buah yang digunakan dalam kegiatan ini diperoleh langsung dari kebun milik warga. Meski panitia telah menyiapkan anggaran untuk membeli kebutuhan tersebut, banyak pemilik kebun yang justru memberikannya secara sukarela sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan Ela-Ela.
“Karena banyak yang memberi secara gratis, sebagian anggaran akhirnya tidak terpakai dan dikembalikan ke kas mushola untuk kebutuhan lainnya,” katanya.
Safrudin juga menegaskan bahwa meskipun terkesan sebagai kegiatan baru, tradisi ini sebenarnya sudah berjalan selama empat tahun berturut-turut. Awalnya hanya dianggap sebagai kegiatan selingan, namun kini muncul kesadaran kuat di kalangan remaja untuk terus melestarikannya.
Ke depan, ia berharap akan ada regenerasi dari generasi muda agar tradisi malam Ela-Ela dapat terus berlangsung. Inovasi kegiatan pun akan disesuaikan melalui diskusi bersama antara remaja mushola, masyarakat, serta arahan para orang tua di kampung.
Sementara itu, Ketua Pemuda Makassar Barat RT 02, Hamzah Dahlan, menyampaikan bahwa kegiatan yang digelar setiap tahun ini murni bertujuan mempererat silaturahmi warga.
Ia menegaskan, seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan secara swadaya oleh masyarakat tanpa melibatkan atau meminta bantuan dari pejabat maupun pemerintah.
“Kegiatan ini murni dari inisiatif pemuda dan masyarakat. Kami hanya ingin memeriahkan kampung dan mempererat hubungan antar warga,” ujarnya.
Menurut Hamzah, proses persiapan biasanya diawali dengan diskusi santai para pemuda untuk menampung berbagai ide dan saran mengenai konsep kegiatan. Dari diskusi tersebut kemudian disepakati rencana kegiatan yang akan dilaksanakan bersama.
Salah satu ciri khas perayaan di lingkungan tersebut adalah dekorasi rumah warga yang dihiasi “bulu-bulu” di bagian depan rumah serta pemasangan lampu pelita dalam jumlah banyak. Pemandangan itu menciptakan suasana kampung yang terang dan meriah pada malam hari.
Meski digerakkan oleh pemuda, kegiatan ini juga mendapat dukungan luas dari masyarakat, termasuk orang tua yang turut memberikan sumbangan sukarela. Dana kegiatan dikumpulkan melalui sistem patungan antara pemuda, tokoh masyarakat, dan warga sekitar.
“Kami tidak bermaksud bersaing dengan kampung lain. Kami hanya ingin melakukan yang terbaik sesuai kemampuan kami,” katanya.
Sementara itu, Muhamad Fadli menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan agenda keempat dari tradisi yang dikenal dengan nama Selo Guto. Tradisi ini melibatkan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari orang tua, pemuda, ibu-ibu, hingga anak-anak yang berkumpul bersama dalam suasana kebersamaan.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat membagikan hasil alam berupa berbagai jenis buah-buahan kepada para tetua dan anak-anak sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.
Sebelum acara puncak dimulai, terdapat prosesi pembacaan doa atau ritual yang disebut Wasu-wasu sebagai pembuka kegiatan. Prosesi ini kemudian dilanjutkan dengan penyalaan empat buah obor yang menjadi simbol perwakilan dari seluruh unsur masyarakat, yakni orang tua, pemuda, ibu-ibu, dan anak-anak.
Penyalaan obor tersebut menandai dimulainya rangkaian kegiatan malam Ela-Ela yang berlangsung di lingkungan RT 02/RW 04, Kelurahan Makassar Barat, sekaligus menjadi simbol kuatnya kebersamaan masyarakat dalam menjaga tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Pemerintah Kota Ternate melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menyalurkan bantuan paket sembako kepada ratusan petugas…
Suasana penuh keindahan dan kemeriahan mewarnai aksi pawai obor yang dilakukan Ikatan Pelajar Mahasiswa Galo-Galo…
Bandar Udara Khusus Weda Bay (WDB) kembali menorehkan prestasi membanggakan. Fasilitas penerbangan milik PT Indonesia…
Semangat berbagi di bulan suci Ramadan kembali ditunjukkan Lembaga Kepemudaan Jambula. Dalam sebuah kegiatan sosial…
Oleh: Dr. Hasbullah, S.TP., M.Sc* Puasa di bulan Ramadan adalah salah satu syariat Islam yang…
Kabar duka menyelimuti keluarga besar Kejaksaan Tinggi Maluku Utara. Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Maluku…