Secangkir Teh Rempah Ternate untuk Dunia

John dan Ilham berada bar kedai teh mereka saat dijumpai cermat. Foto: Rian Hidayat/cermat

Di lantai dua sebuah gedung di Kawasan Pantai Falajawa, kedai yang baru saja dibuka itu menghadap tepat ke wajah Gunung Gamalama. Aroma rempah aromatik berpadu dengan angin dari laut Halmahera yang menderu. Pada dinding kedai, terpampang ornamen bertuliskan PT Ternate Island Tea. Sementara di bar kedai, toples-toples berisi bubuk teh yang siap diseduh tampak disusun rapi. John, pria asal Amerika Serikat yang kini menghabiskan sebagian besar waktunya di Ternate, duduk menyambut sekaligus berbincang dengan kami, siang itu, awal September lalu.


Perkenalan John dengan Ternate bermula dari sebuah buku pelajaran sekolah di Amerika Serikat puluhan tahun silam. Dia mengaku nama Ternate saat itu hanya muncul sebagai catatan kaki buku, yang menggambarkan salah satu titik penting jalur rempah dunia.

“Saya membaca nama itu waktu masih sekolah, dan tidak pernah membayangkan suatu hari benar-benar akan menginjakkan kaki di sini,” kata John kepada kami di kedai tehnya, Rabu, 9 September 2026. John berbicara dalam bahasa Inggris melalui penerjemah yang merupakan rekan kerjanya, Ilham Abas.

Baca Juga:  Nikmatnya Kopi Nyiru di Taman Moya

Menurut Ilham, kisah John menemukan ramuan teh dengan kombinasi rempah-rempah dari Ternate berawal setelah ia pensiun dari pekerjaan utamanya. Beberapa tahun kemudian, John datang untuk melihat sendiri bagaimana lanskap Ternate yang dirangkai dalam buku sejarah tersebut.

Ternate bukan sekadar kota kecil yang menjulur di lereng gunung berapi aktif, bagi dia, Ternate menyimpan jejak sejarah rempah yang selama berabad-abad menghubungkan kepulauan Maluku dengan dapur-dapur berbagai penjuru dunia.

John bilang, dari perjumpaan itu kemudian lahir ide yang kemudian mendorongnya menemukan cita rasa rempah dalam secangkir teh ke pasar internasional.

Namun, perjumpaan itu sejatinya tak singkat. Gagasan ini justru baru ditekuni saat masa pandemi Covid-19 memaksa banyak orang berhenti dari rutinitas. Ketika dunia sedang melambat, John mulai bergerak mengembangkan produk teh rempah dari Ternate.

Interior kedai teh John di Pantai Falajawa, Ternate. Foto: Rian Hidayat/cermat

“Saat lockdown, saya punya banyak waktu untuk berpikir. Saya bertanya pada diri sendiri, kenapa rempah sebagus ini tidak sampai ke meja orang Amerika dalam bentuk yang mereka kenal, yaitu teh,” ujarnya dengan raut kagum.

Baca Juga:  Kisah Mariam dan Geliat Pedagang Musiman di Ternate

Dalam rentang 2022 hingga 2024, John kembali ke Ternate untuk membangun produk yang bahan bakunya benar-benar berasal dari lingkungan rempah Ternate namun tetap bisa diterima konsumen di Amerika.

Dalam periode itu, John mengaku bersama Ilham banyak melakukan eksperimen. Mereka seolah mengubah kedai kecil itu menjadi semacam laboratorium “rasa”.

Dalam perbincangan yang alot itu, kami disuguhkan oleh Ilham beberapa cangkir teh dengan rasa tak biasa, “Ini enak!”.

Ilham menyebut, ada total delapan ramuan teh yang kini mulai diekspor ke luar negeri, antara lain produk bernama Sultan’s Spice yang lebih dekat dengan identitas rempah Maluku Utara dengan bahan teh hitam, kayu manis, jahe merah, lada hitam, kapulaga, vanili, cengkeh pala, dan bunga lawang.

Ada pula Golden Spice Latte–minuman bubuk berbahan kunyit, jahe, kayu manis, kelapa dan lada, yang diseduh bersama susu. Sebagian merupakan produk teh celup, teh seduh, sebagiannya lagi berbentuk bubuk dalam kemasan.

“Jadi resepnya tidak bisa asal pindah dari sini ke sana. Rasa yang akrab bagi lidah orang Ternate belum tentu diterima lidah orang Amerika, jadi kami harus terus menyesuaikan,” kata Ilham.

Setiap tahun, kata dia, rumah produksi mereka saat ini mengekspor sekitar 300 kilogram untuk menjangkau konsumen di Amerika dan peminat di negara lain. Layanan pemesanan juga tersedia di laman website PT Ternate Island Tea.

Baca Juga:  Dishub Ternate Janji Tempatkan Staf di Pos Jaga Pelabuhan Hiri

Tantangan Menemukan Rasa yang Menyatu

Karakter tanah di lereng Gunung Gamalama menghasilkan rasa rempah alami yang jauh lebih pekat dibanding daerah lain. Hasil pengujian membuktikan bahwa bahan seperti serai dari Ternate memiliki intensitas rasa lebih tajam dari pasar luar.

Kendati begitu, menyatukan rasa teh dari wilayah dengan iklim berbeda antara Ternate dan Amerika nyatanya bukan perkara mudah. Meski rempah Ternate memiliki keunggulan, Ilham mengaku mereka perlu menyesuaikan takaran tertentu guna menemukan racikan yang tepat.

Untuk pasar Amerika, misalnya, dia menyebut tingkat keasaman pada racikan yang terinspirasi wedang uwuh justru harus dikurangi.

“Produk yang sudah kita uji coba awalnya dibawa dan dibagikan kepada kenalan John di Amerika, diminta dicoba, dikomentari, lalu diperbaiki,” katanya.

Seiring dengan itu, mereka tak ingin selamanya bergantung pada rempah yang dibeli dari pasar. Pada 2022, John dan Ilham mulai menanam teh yang diakui sendiri jauh lebih rumit dari yang dibayangkan.

Toples berisi ramuan teh yang siap diracik. Foto: Rian Hidayat/cermat

Bibit dan biji teh didatangkan dari perkebunan di Jawa Barat, lalu coba ditanam di sejumlah lokasi di Ternate seperti Kelurahan Moya, Tongole dan Foramadiahi.

Baca Juga:  Gusungi: Penanda Ramadan Orang Maluku Utara

Tidak semua lahan berhasil. Beberapa titik tanam dihentikan setelah hasilnya gagal tumbuh. “Teh bukan tanaman yang bisa dipaksa. Kami harus belajar dari tanah, bukan tanah yang mengikuti keinginan kami,” ucap Ilham.

Menurutnya, teh yang ditanam sejak 2022 itu kini berusia sekitar tiga setengah tahun. Untuk menghasilkan pucuk yang layak dipanen secara optimal, kata dia, dibutuhkan waktu lima hingga tujuh tahun. Artinya, kebun ini masih harus menunggu sebelum benar-benar berproduksi.

Sambil menunggu, Ilham dan John mencoba pola tanam yang mengikuti karakter kebun rempah Ternate, pohon teh ditanam berdampingan dengan cengkeh dan pala sehingga tumbuh di bawah naungan pepohonan berdiameter besar.

Kelak saat mencapai umur produksi, pucuk teh bisa dipanen sekitar dua minggu sekali sementara cengkeh dan pala memiliki siklus panen jauh lebih panjang, yakni tiga hingga empat tahun.

“Kebun ini bukan cuma soal teh. Ini eksperimen tentang bagaimana teh dan rempah bisa hidup berdampingan dalam satu lanskap,” katanya.

Tantangan lain dari meramu teh itu adalah tanah. John dan Ilham mengamati kondisi lahan, termasuk tingkat keasamannya. Sejumlah lahan membutuhkan tambahan nutrisi dari kompos hingga bahan organik seperti tulang ayam dicoba untuk memperbaiki kondisi tanah.

Ilham menunjukkan beragam olahan teh rempah dari Ternate yang siap diekspor ke pasar global. Kedai teh mereka juga dilengkapi berbagai mesin olahan. Foto: Rian Hidayat/cermat

Ilham bilang, investasi awal mereka digunakan untuk membeli mesin pengolahan yang kini ditempatkan di ruangan lain di kedai.

Baca Juga:  Sambut Hari Bhayangkara ke-77 dengan Turnamen Mini Soccer di Ternate

Di sela-sela berbincang, ia mengajak kami menyaksikan langsung mesin pengolahan dan menjelaskan bagaimana produk tersebut dikembangkan sebelum menjama lidah orang Amerika.

“Kami harus realistis. Tidak semua ide bisa langsung jadi produk. Kadang ide bagus harus disimpan dulu sampai kami punya kemampuan teknis untuk mewujudkannya.”

Selain teh, Ilham mengaku di masa mendatang ia dan John akan mengembangkan lagi komoditas lain seperti kopi dan kakau, serta membuka layanan untuk konsumen lokal.

Teh dan Rempah: Rasa yang Padu dari Akarnya

John menuturkan kebun teh yang mereka garap saat ini bukan sekadar hamparan tanaman yang kelak menghasilkan daun untuk diseduh. Ia melihatnya sebagai awal dari sebuah model usaha yang melibatkan lebih banyak warga.

Ketika kebun mulai berproduksi, pola usaha diperluas melalui sewa lahan dan kemitraan dengan petani. Dengan cara itu, produksi tidak bergantung pada satu kebun. Tanaman teh dapat tumbuh di sejumlah lahan warga dan membentuk jaringan kebun yang saling terhubung.

Bagi John, pola tersebut sekaligus membuka ruang bagi warga untuk ikut merasakan manfaat ekonomi dari komoditas baru tersebut. Mereka tidak hanya menjadi penonton ketika sebuah produk dari tanah Ternate dipasarkan keluar daerah, tetapi ikut berada di dalam rantai produksinya.

Eksperimen John kemudian bergerak lebih jauh. Ia mencoba mempertemukan teh dengan komoditas yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Maluku Utara: pala, cengkeh, dan berbagai rempah lain.

Baca Juga:  Pusat Kuliner di Ternate Ditargetkan Rampung sebelum Ramadan

Daun teh, bunga pala, cengkeh, hingga rempah aromatik lain diharapkan melahirkan karakter rasa yang berbeda. Seolah-olah, kata John, semuanya kembali kepada satu akar: tanah Ternate dan sejarah rempahnya.

Mesin olahan teh di rumah produksi John dan Ilham. Foto: Rian Hidaya/cermat

“Saya ingin warga di sini merasa memiliki. Kalau kebun ini berhasil, seharusnya keberhasilan itu dirasakan banyak orang,” ujar John.

Teh, terutama yang disajikan panas, bukan minuman yang selama ini identik dengan keseharian masyarakat di daerah tropis seperti Ternate.

Karena itu, John dan Ilham tidak ingin sekadar memperkenalkan produk. Mereka juga harus menciptakan kebiasaan baru di kalangan konsumen.

Racikan itu mencoba mengubah persepsi lama bahwa teh hanyalah minuman sederhana untuk menemani sarapan atau bersantai. Teh diperlakukan sebagai produk yang bisa memiliki cerita, karakter rasa, dan pengalaman tersendiri.

Ilham melihat perubahan pola konsumsi kopi sebagai salah satu contoh. Minuman yang dahulu memiliki pasar terbatas kini berkembang menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat perkotaan.

Menurut dia, hal serupa dapat terjadi pada teh apabila konsumen diperkenalkan pada rasa dan cara penyajian yang lebih beragam. Sementara bagi John, teh memiliki cara pandang luas yang menggambarkan kemanusiaan.