News  

Belum Reda Kemarau dan Kebakaran Hutan di Malut

Potret penanganan karhutla di kawasan hutan Maluku Utara. Foto: Istimewa

Kemarau yang belum sepenuhnya berakhir membuat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus membayangi Maluku Utara. Kondisi lahan kering membuat api mudah merambat di sejumlah daerah tmseperti di kawasan yang ditumbuhi semak belukar, bambu, hingga pepohonan.

Kebakaran kembali terjadi di Desa Kaiyasa dan Gusale, Kecamatan Oba Utara, Kota Tidore Kepulauan, pada Kamis, 1 Oktober 2026. Api mulai diketahui sekitar pukul 14.30 WIT dan merambat dari kawasan yang ditumbuhi bambu dan sagu ke hutan serta lahan kosong milik warga.

Kondisi lahan yang kering dan angin kencang mempercepat penyebaran api. Tim gabungan pun dikerahkan untuk menangani kebakaran tersebut.

Peristiwa ini menambah daftar kebakaran yang terjadi di Maluku Utara sepanjang 2026. Luas lahan yang terbakar di provinsi Maluku Utara dilaporkan telah mencapai 3.314 hektare sejak awal tahun.

Besarnya luasan tersebut menunjukkan bahwa kebakaran bukan lagi sekadar masalah pemadaman di satu lokasi. Penanganannya membutuhkan langkah pencegahan yang konsisten, terutama selama kondisi cuaca kering masih berlangsung.

Memasuki Oktober, ancaman kebakaran belum sepenuhnya berakhir. Musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga bulan ini membuat sejumlah kawasan tetap rentan mengalami kekeringan.

Ketika curah hujan berkurang dan vegetasi mengering, api lebih mudah menyebar. Pembakaran sampah, pembukaan lahan dengan cara dibakar, maupun sumber api lainnya berpotensi memicu kebakaran yang sulit dikendalikan.

Ancaman tersebut tidak hanya menyasar kawasan hutan. Lahan perkebunan, semak belukar, dan area di sekitar permukiman juga berisiko terdampak, terutama ketika api merambat mengikuti arah angin.

Data penanganan kebakaran di Maluku Utara mencatat 63 titik kebakaran dengan luas lahan terdampak sekitar 302 hektare selama Juli hingga 18 September 2026. Sebanyak 24 titik di antaranya berada di sekitar kawasan permukiman.

Baca Juga:  Serikat Pekerja NHM Laporkan Ketua Koperasi atas Dugaan Penggelapan Dana

Kebakaran di dekat permukiman meningkatkan risiko terhadap keselamatan warga dan bangunan. Dalam kondisi tertentu, petugas juga harus berpacu dengan waktu untuk mencegah api meluas ke kawasan yang lebih padat penduduk.

Kebakaran yang terus berulang memperlihatkan pentingnya penanganan yang tidak hanya berfokus pada pemadaman. Pemantauan kawasan rawan, kesiapan personel dan peralatan, serta koordinasi antarlembaga menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko kebakaran.

Masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan selama cuaca kering. Membakar sampah sembarangan, membuka lahan dengan api, atau meninggalkan sumber pembakaran tanpa pengawasan dapat memicu kebakaran yang merembet ke vegetasi di sekitarnya.

Selain itu, pendataan kejadian kebakaran perlu dilakukan secara konsisten. Informasi mengenai lokasi, luas lahan terdampak, penyebab, dan pola kejadian dapat membantu pemerintah menentukan wilayah prioritas untuk pencegahan.

Dampak kemarau juga tidak terbatas pada kebakaran. Kekeringan berpotensi mengganggu aktivitas pertanian, mengurangi ketersediaan air bersih, serta memengaruhi kehidupan masyarakat yang bergantung pada lahan dan sumber daya alam.

Selama kondisi kering masih berlangsung, ancaman kebakaran di Maluku Utara belum dapat diabaikan. Kebakaran di Kaiyasa dan Gusale menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan harus terus dijaga, sementara upaya pencegahan perlu diperkuat sebelum api kembali meluas.

Penulis: TimEditor: Rian Hdiayat