News

Burung Bidadari Halmahera Kembali Ditemukan di Tengah Ancaman Pembabatan Hutan

Burung Bidadari Halmahera (Semioptera wallacii), salah satu burung endemik Pulau Halmahera, Maluku Utara, kembali ditemukan dalam kegiatan pengamatan dan fotografi burung di kawasan Hutan Hamiding.

Burung yang pertama kali diidentifikasi oleh ilmuwan Inggris Alfred Russel Wallace pada 1858 itu ditemukan oleh tim yang terdiri dari dua wisatawan asal Eropa, seorang wartawan media daring, serta dua warga Desa Soakonora yang bertindak sebagai pemandu lokal.

Pengamatan dilakukan di kawasan hutan yang selama ini menjadi wilayah jelajah dan sumber penghidupan masyarakat adat Tobaru. Salah satu tokoh adat Tobaru dari Desa Soakonora, Demas Mou, mengatakan kawasan tersebut telah lama menjadi bagian dari wilayah adat masyarakat setempat.

 

“Pemilihan lokasi pengamatan dan fotografi burung di Hutan Hamiding bukan baru kali ini. Kami sudah melakukannya sejak 2008 bersama saudara saya yang berprofesi sebagai pemandu wisata ekowisata,” kata Demas kepada cermat, Sabtu, 1 Agustus 2026.

Menurut Demas, kawasan Wago, Hamiding, Wako hingga Talaga Peke merupakan hutan yang secara turun-temurun dikelola masyarakat adat Tobaru Sangaji Nyeku. Kawasan itu memiliki batas-batas teritorial berburu berdasarkan marga masing-masing.

Ia menyebut hutan tidak hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat sebagai tempat berburu dan meramu.

Lokasi ditemukannya burung bidadari yang dalam bahasa Tobaru disebut melunu, berada di sekitar dusun sagu peninggalan leluhur masyarakat di Wako.

Demas berharap pemerintah ikut menjaga kawasan hutan adat ini dari aktivitas pembabatan yang makin meluas.

“Semoga ada dukungan pemerintah untuk melakukan pencegahan dan pembatasan agar hutan ulayat kami tetap terjaga. Hutan yang sudah dibabat sekarang cukuplah sampai di situ, jangan diperluas lagi,” ujarnya.

Ancaman terhadap kawasan hutan juga berdampak pada kondisi sungai. Abner Atomo, warga Soakonora yang menjadi salah satu pemandu dalam tim, mengatakan penebangan pohon di sepanjang Sungai Ira menyebabkan erosi dan membuat aliran sungai semakin dangkal.

“Dulu Sungai Ira dan Subi-subingi cukup dalam dan alirannya lancar. Sekarang menjadi dangkal karena tumpukan pohon dan lumpur,” kata Abner.

Ia bilang, kondisi sungai yang berubah turut memengaruhi keberadaan satwa air. Udang dan sogili atau sidat yang sebelumnya mudah ditemukan kini sudah sulit didapat.

Menurut dia, penggunaan alat setrum untuk menangkap ikan juga menjadi salah satu ancaman terhadap ekosistem sungai dan sumber kebutuhan masyarakat ketika berada di kawasan hutan.

Abner sendiri masih mempertahankan tradisi berburu rusa dengan menggunakan peralatan tradisional.

Sementara itu, Marcel, salah satu wisatawan dalam tim pengamatan, mengaku mencatat sedikitnya 84 spesies burung di sekitar Hutan Hamiding melalui aplikasi identifikasi burung. Di antaranya terdapat burung bidadari Halmahera dan beberapa jenis burung lainnya.

“Ada yang hanya bisa didengar suaranya, ada juga yang sempat dilihat dan difoto. Sayangnya, terdengar suara mesin chainsaw di sekitar hutan. Saya khawatir habitat burung endemik dan burung lainnya terganggu,” ujarnya.

Selain mengamati keanekaragaman burung, rombongan juga menikmati sejumlah potensi alam lainnya di kawasan tersebut, termasuk Air Terjun Subi-subingi dan kawasan panas bumi yang dinilai memiliki potensi dikembangkan sebagai geowisata.

Temuan burung bidadari Halmahera di kawasan ini sekaligus memperlihatkan pentingnya menjaga hutan sebagai habitat satwa endemik sekaligus ruang hidup masyarakat adat.

Kontributor Berita: Aleksius Djangu

redaksi

Recent Posts

Polres Ternate Tetapkan Owner Zahra Berkah sebagai Tersangka Investasi Bodong

Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Ternate menetapkan owner investasi Zahra Berkah, SAHM alias Sahriyani, sebagai…

6 jam ago

DPMPTSP Morotai Klarifikasi: Perizinan PT Eltis Masih Berproses di Tahap PKKPR

Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Pulau Morotai, Maluku Utara mengklarifikasi status…

8 jam ago

8 Tahun Terkendala, Jalan Pandanga–Juanga Morotai Akhirnya Dikerjakan

Setelah sekitar delapan tahun terkendala persoalan pembebasan bangunan kafe, ruas jalan yang menghubungkan Desa Pandanga…

8 jam ago

KAKPA Halut Dideklarasikan, Perempuan dan Anak Jadi Fokus Perlindungan

Sejumlah lembaga bantuan hukum, advokat, akademisi, pemerhati sosial, hingga elemen masyarakat di Kabupaten Halmahera Utara,…

18 jam ago

Lestarikan Warisan Sejarah, Pemkot Ternate dan PERUMDA Ake Gaale Tinjau Sumur Tua

Pemerintah Kecamatan Ternate Tengah bersama PERUMDA Air Minum Ake Gaale dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH)…

19 jam ago

Polisi Sita Ribuan Mihol di Pulau Taliabu

Polres Pulau Taliabu, Maluku Utara berhasil mengamankan sebanyak 1020 botol Minuman Beralkohol (Mihol) di lima…

19 jam ago