"Rest in Peace" by. Zeena M. Sileem (c.2025)
Oleh: WDGafoer
“Aku binatang jalang…”. Seseorang membaca kalimat tengik itu lagi.
Aduhai bujang tengil. Satu-satunya yang berharga darimu tinggal celana dalam sobek dan kerumunan khayalan yang kau lamunkan untuk segera kau siram-bersihkan di lubang toilet. Bapak kosmu tak tahu, kodok-kodok tak tahu, bau busuk selokan yang berdesak-desakan di ventilasi juga tak tahu. Dan apa pentingnya gambar-gambar itu. Coba perhatikan! Kau masih saja membuka dada dengan tawa ringan, menonton masa depanmu—kalau memang ada—dalam cangkir-cangkir kopi tujuh ribuan yang diseduh dengan centil senyuman komersil, “Untuk bekal patah hatimu, penyair!” benak pelayan, sebelum memberimu dengan cuma-cuma lekuk angka delapan dari balik punggungnya yang kelelahan.
Lalu, sebelum kau benar-benar terjaga melamun, setengah botol air mineralmu kau teguk, tandas bersama empat batang fabrikasi tembakau kelas dua yang tersisa. Kau sedot adegan-adegan itu tatkala ujung topi baru pemberian yang tersayang sedikit tak simetris. Kau lepas. Memberinya tempat bagus di samping puntung-puntung drama dalam asbak. Terlihat aman dan indah. Di malam-malam bobrok nan mulia itu, kau sangsi pada banyak bacaan, pengalaman, pemaknaan; keputusan-keputusan bodoh dan kekanak-kanakan. Segala yang rontok dari dalam kepalamu terangkum jadi oplosan sejarah harian. Dan tentu saja akan kau baca sebelum betul-betul menggumamkan doa tidur; sebelum rebah di samping bantal.
Aduh! Bujang tengil. Kau jadi bocah penggerutu. Pengoceh yang keras kepala. Kau batu di dalam kerumunan para utopi-an yang orgasme berkali-kali setelah mencium kentut para filsuf. Tetapi, Sylvia Plath adalah sebuah pengecualian, karena kau merasa pernah terkulai puas di ranjang kematiannya. Karena sesekali menyukai anggur, kau lantas berlari pada bujang-bujang tengil yang lain, terus bersorak saat gelas-gelas yang tengah bersulang. Dengan madu dan neraka, dengan surga dan permainan-permainan liar, serakan kata-kata Bukowski di atas meja kerjanya, membikin kau mabuk bersama keabadian, bersama dirimu sendiri, bersama air mata Kafka, bersama luka-luka Dostoyevsky, bersama segala-galanya yang hanya berhasil kau coret-tuliskan dengan riang gembira. Sedot dulu rokoknya, bung! Hidup masih panjang, jangan biarkan laparmu membuatnya jadi pendek.
Jangan-jangan, kata seseorang. Pada akhirnya kau hanya jadi bocah penakut yang berlindung di balik kata benda, seperti “popok bayi”, “lipstik istri”, “kantor”, atau iklan-iklan para pecundang dengan seruan gamblang yang dipoles dengan “term” heroisme ‘ala sosialis-libertarian putus asa: “ayo kawan-kawan mari beramai-ramai menuju tambang, mari jadi bagian dari masa depan, mari jadi benalu mesin-mesin yang merusak sungai-sungai kita, biarlah anak-anak pohon itu mati, bukan kita”. Kau jadi bagian dari mereka yang telah lesu jadi manusia, yang sedang tega berbuat curang pada alam dan tuhan, yang suci berdasi, yang membela diri, demi surga kata “benda”.
Karena kau seorang realis yang pantas bahagia. Meski, ironi dari kematian dan perampasan-perampasan itu sayogyanya bukan urusan moralmu, kata seseorang. Berat memang! Untuk itulah kau mulai sulit mendengar lagu-lagu, bebunyian bergelayut masuk ke telingamu hanyalah muram kesedihan. Kau terlampau sukar mendengar musik, apalagi komposisi nada dengan bobot musikalitas yang terlalu biblikal, lebih lagi beraksen agak “Pulang ke langit”. Dalam sepenggal kertas, kau tulis lagi kata-kata benda itu: “Hallo uang! Hallo Ayang! Hallo Mati! Hallo Istri…” dan saklar toilet berbunyi.
“… dari kumpulannya yang terbuang”. Bajingan! Seseorang masih menyambung kalimat tengik itu lagi.
Langkah kakimu terasa kian berat, miring sesekali, tak lurus sama sekali. Tetapi, langkah itulah yang kau gunakan untuk menjejaki pasir menuju bibir lautan. Sebelum kesadaranmu tergulung amarah ombak, sebelum tergesa-gesa adzan berkumandang, sebelum kau patahkan ranting-ranting dari pohon hatimu, sebelum tangis yang jauh berhenti, suara burung hantu mematuk bola matamu, basah, terasa ada yang berdarah, terkelupas dari tebing pipimu, untuk itu, kau tak ingin duduk, tak ingin berlari, pelan-pelan meniti jalanan miring hidupmu, kau berdiri, masih tegak di hadapan amuk lautan.
Mungkin hantu atau yang lebih halus darinya, tapi suara itu terdengar menggebu-gebu, mereduksi malam, bulan dan api para pecinta. Dengan seksama, kau dengar sayup-sayup suara dari kedalaman samudera: “Hidup sesungguhnya adalah bibir perempuan yang terluka. Bangsat memang! Tetapi, demi sesuap puisi, tanggung jawabmu haruslah paripurna sejak memilih kata pertama. Maaf! Untuk segala-galanya.”
Tengik memang! Bagaimana pun, kau tak bisa menutup lubang hidungmu atau menyumpal pori-pori yang menganga dari tubuh dan jiwamu, karena dengan cara itulah akan kau serap jerit kehidupan. Derita yang indah, membahagiakan. Hidup memang bibir perempuan yang terluka, kau mengulang-ulang. Sayang, tak sedikit yang memilih hancur lebur dan mati di sana.
“Tidak juga kau, tak perlu sedu sedan itu”.
Dandim 1514/Morotai Letkol Inf. Deni Rustandi Hidayat mendorong pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di…
Pemerintah Kota Ternate, Maluku Utara, melalui dinas perindustrian dan perdagangan terus berupaya menjaga stabilitas harga…
Seorang warga Kota Ternate, Maluku Utara, melaporkan mengalami kerugian sekitar Rp327 juta setelah menyerahkan uang…
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Maluku Utara, M. Ronny Saleh,…
Anggota Ombudsman RI Robert Na Endi Jaweng melakukan pemantauan layanan penumpang di Bandara Internasional Soekarno-Hatta,…
Anggota DPRD Maluku Utara, Irfan Soekoenay, mengapresiasi pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang melibatkan Pemerintah…